Jumat, 11 Desember 2015

Download Buku ZIONISME GERAKAN MENAKLUKAN DUNIA

Assalamualaikum kawan-kawan semua

Alhamdulillah, admin kembali bisa hadir
semoga apa yang saya berikan bisa bermanfaat

Sebuah buku yang lumayan bisa membuat kita mengerti akan gerakan Zionisme.
Buku yang mengupas mulai dari pengertiannya, sejarahnya, geraknya, hingga hari ini kita tahu bahwa Palestina sungguh menjadi masalah yang besar.
Dimana Zionisme ini sudah menghancurkan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Download saja langsung ya

 DOWNLOAD HERE

Semoga bermanfaat, silakan share jika ini akan memberi kebermanfaatan

Wassalamualaikum...

Senin, 16 November 2015

Analisis Kondisi Pilkada Sleman 2015, How?

Terkait analisis kondisi Pilkada Sleman di sini, saya akan mencoba sedikit menganalisis berdasar apa yang saya ketahui. Beberapa hal yang akan saya analisis seperti awal kondisi balon pilkada yang bisa dianggap “panas” dan pasangan calon yang kemudian didukung oleh parpol-parpol.
Pada awal bakal calon di Pilkada Sleman, ternyata sudah membawa polemik dan membawa suasana yang cukup panas. Karena dari balon (bakal calon) Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun yang sebelumnya anggota legislatif DPRD Sleman F-PDIP belum bisa menyerahkan surat yang menyatakan berhentinya dari anggota legislatif. Ini terjadi karena untuk meminta surat tersebut harus ada surat rekomendasi dari PDIP selaku parpol pengusungnya, sementara PDIP sendiri mengusung Yuni Setia Rahayu sebagai balon Bupati Sleman.
Dengan lamanya surat ini tidak keluar, akhirnya hal ini memicu terjadinya aksi oleh pendukung santun (Sri Purnomo dan Sri Muslimatun) dimana terjadi penyegelan terhadap kantor DPRD Sleman agar surat segera ditindaklanjuti termasuk meminta ke gubernur DIY. Akhirnya KPU Sleman sendiri menetapkan keputusan jika surat ini tidak bisa keluar, maka jika memang Sri Muslimatun sendiri telah bertekad baik dan berusaha memenuhi persyaratan ini, maka akan bisa diloloskan, yang akhirnya pada tanggal 22 oktober di loloskan.
Secara aturan memang ini menjadi polemik dan menjadi keputusan kontroversi, karena tidak lengkapnya berkas yang menjadi syarat namun diloloskan. Tapi di sisi lain, karena surat rekomendasi Sri Muslimatun yang keluarnya dari partai seolah-olah partai ini menjadi kunci utama pelolosan, maka ini juga membuat polemik. Selain itu, alasan lain yang menjadi perhatian ialah tagline dari aksi pendukung santun terkait “jangan lukai demokrasi dengan pasangan tunggal”, dimana ketika balon santun ini tidak lolos maka hanya ada satu pasangan tunggal.
Sebenarnya tidak menjadi masalah jika hanya ada pasangan tunggal, namun jika pasangan tunggal saja, maka masalah yang timbul akan lebih besar. Baik terkait massa pendukung, maupun stigma negatif terhadap partai-partai tertentu karena masalah surat tersebut, bahkan terkait KPU dan DPRD.
Keputusan yang akhirnya meloloskan, maka harus kita terima dengan bijak. Di sinilah pembelajaran demokrasi. Paslon nomor satu ialah Yuni Setia - Danang Wicaksono  dan paslon nomor dua ialah Sri Purnomo – Sri Muslimatun. Pemilu akan dilaksanakan 9 Desember (Pemilu serentak), dan dari sekarang (sejak saya tulis ini) kampanye sudah dimulai.
Di daerah Sleman sendiri (sosial politik) sudah bisa terlihat bahwa Sleman menjadi salah satu basis massa PDIP, ini terbukti dengan kemenangan pilpres lalu, dimana unggul 13 kecamatan dari 17 kecamatan. Selain itu, kursi DPRD juga besar dimiliki oleh PDIP yaitu sekitar 13 kursi, selain itu Gerindra 7 kursi dan PKS 6 kursi, sekitar 50%. Sementara nomor 2, diusung oleh PAN, Nasdem, PPP, Demokrat, PKB, Golkar, PBB, dan Hanura. Dimanana secara kursi memang tidak terlalu banyak di DPRD, namun banyaknya partai pendukung ini mesti jadi pertimbangan.
Dari kepemimpinan yang harus memang dipilih tentu kita bisa mencermati dari beberapa aspek, seperti: Parpol yang mengusung, kapabilitas dan intergritas, juga elektabilitasnya. Memang sempat terjadi hal kontroversi dimana PKS selaku parpol islam yang awalnya akan merapat dengan partai-partai paslon nomor 2 yang banyak orang mengatakan basis keagamaan, namun malah merapat ke paslon nomor satu yang kita tahu bahwa di skala nasional PDIP, PKS, dan Gerindra sering terjadi keputusan yang berbeda karena memang terjadi pemisahan di kubu KIH dan KMP.
Namun, kita bisa melihat bahwa salah satu faktor PKS merapat ke paslon nomor satu karena adanya Gerindra sebagai KMP, dimana bergaining position Danang Wicaksono sangat kuat di Gerindra.
Mengenai elektabilitas menurut saya bisa dibangun melalui masa kampanye ini, sementara bagian kapabilitas dan integritas saya yakin dua-duanya juga memiliki, karena dua pasangan ini memang “pecah kongsi” di akhir pemerintahan tahun ini (tahun 2010-2015), karena kita tahu bahwa Sri Purnomo ialah Bupati tahun 2010-2015 dan Yuni Setia ialah Wakil Bupatinya.

Ke depan menunggu pilkada Sleman ini, dimana ini menjadi salah satu pilkada yang “dibicarakan” khusus di tingkat Nasional (pusat), saya kira ini akan menjadi pembelajaran politik besar, baik bagi masyarakat maupun bagi kader-kader parpol, khususnya mengenai ketaatan terhadap keputusan.

Viki Adi N (KAMMI Komisariat UNY) 

Membentuk Kepemimpinan melalui Karakter Gerakan KAMMI

Pada hakikatnya kepemimpinan ini menjadi suksesi atau menjadi cita-cita bagi KAMMI. Seperti yang tertulis dalam visinya, khususnya pemimpin yang mewujudkan bangsa ini yang islami. Kepemimpinan ini bukan tujuan materialis semata, namun itu memang sudah menjadi tugas manusia, sudah menjadi tugas umat Islam. Ini tentu sudah diamanahkan Alloh dalam Al-Baqarah ayat 30 tentang tugas manusia sebagai khalifah, sebagai pemimpin di bumi, sebagai pemakmur di bumi.
Kepemimpinan sangat penting. Sejarah telah membuktikannya. Bahkan Indonesia sendiri telah mengalami berbagai rezim dimana ketika pemimpin itu mulai jauh dari nilai islam, maka tujuan nya pun berubah dan akhirnya seperti yang kita ketahui terjadi banyak penyimpangan. Kita bisa melihat pada akhir-akhir pemerintahan orde lama, atau ketika orde baru mulai langgeng.
Maka kepemimpinan yang islami ini menjadi penting dan bisa terbentuk manakala ada sarana yang mau secara sadar mengarahkan kesana. Sehingga tidak menjadi wacana atau hanya sekedar cita tanpa ada realisasinya. Di sinilah salah satu peran KAMMI berbicara. Hadir di saat bangsa lesu serta mampu mendobrak keberanian pemuda khususnya mahasiswa untuk menyadari bahwa salah satu aset negeri ini mulai hilang, yaitu kepemimpinan Islami.
Ketika kita melihat visi KAMMI, yaitu wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami. Maka dari sini kita akan melihat karakter gerakan KAMMI, yaitu sebagai organisasi kader (harakatu tajnid) bisa dilihat pada “melahirkan kader-kader pemimpin” dan organisasi pergerakan (harakatu amal) yang bisa dilihat pada “upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami”.
Sebagai organisasi kader (haraktu tajnid), maka jelaslah bahwa KAMMI menempatkan dirinya sebagai pencetak dan pengelola kader yaitu kader muslim (kader dakwah) dengan ciri khas yang bisa kita temukan pada paradigma gerakannya. Meski kita melihat KAMMI memang lebih bergerak dalam amal siyasi (ranah politik) dengan tetap memperhatikan ranah yang lain. Dari sini lah mengarah pada konsep kepemimpinan, dimana menurut KAMMI perlu diproduksi kader-kader pemimpin nasional yang tangguh, yakni kader-kader pemimpin yang memiliki tingkat intelektual dan moralitas yang tinggi, tidak pernah sedikitpun berfikir menyelewengkan amanah yang diberikan kepadanya, dan memahami apa yang harus diperbuat untuk membawa bangsanya pada ketinggian budi dengan tidak melupakan aspek materi. Di sinilah KAMMI ingin berperan, yakni menjadi organisasi yang solid secara ideologis maupun teknis, sehingga dapat menjadi wadah yang kondusif bagi lahirnya kader-kader pemimpin nasional yang tangguh.
Cara KAMMI membentuk atau memproses kepemimpinan ini sangat banyak ruang pembelajarannya. Misal bisa kita lihat dari proses kaderisasinya. Setelah rekrutmen maka ada yang dinamakan penjenjangan atau sertifikasi, dimana kualitas kader akan diuji. Sehingga kualitas sangat ditekankan. Selain itu ada juga proses pembinaan seperti MK maupun budaya intelektual kader (membaca, diskusi, dan perangkat-perangkat tarbiyah) serta dalam tahap pengkaryaan, KAMMI membentuk kesadaran kepada kadernya akan sarana siyasi sebagai salah satu sarana untuk mengarahkan kebijakan agar bisa bernilai islami, sehingga kader-kader ini banyak yang menempati pos-pos strategis bukan dalam hal kepentingan pribadi atau ambisi kekuasaan namun untuk kemaslahatan (dakwah). Sehingga kredibilitas dan sikap/ integritas kepemimpinan kader akan diuji sebagai wahana pembelajaran, khususnya ketika berada di kampus. Setelah keluar dari dunia kampus, harapannya inilah yang akan menjadi cikal bakal pemimpin-pemimpin di berbagai sektor yang akan mewarnai sektor tersebut dengan kebaikan.
Kepemimpinan ini juga menentukan sukses atau tidaknya suatu bangunan masyarakat yang Islami serta menentukan akan proses perubahan didalamnya. Maka inilah yang menjadi karakter gerakan yang kedua yaitu organisasi gerakan/ amal (harakatu amal).  Sehingga memang sisi ini tidak bisa saling dipisahkan.
KAMMI sebagai organisasi gerakan/ amal ialah seperti beberapa point yang tercantum dalam misi KAMMI yaitu sebagai wadah untuk mencerahkan dan meningkatkan kualiatas masyarakat (madani) dan mengembangkan kerjasama demi melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Ringkasnya ialah pelayanan sosial dan pencerdasan masyarakat (khususnya politik). Untuk lebih jauh mengetahui KAMMI sebagai organisasi gerakan juga bisa dilihat pada paradigma gerakan KAMMI, seperti gerakan tauhid, gerakan intelektual profetik, gerakan sosial mandiri, gerakan politik ekstraparlementer.
Upaya dalam hal pelayanan sosial dan pencerdasan politik masyarakat inilah yang bisa dikatakan “magang” nya kader - jika masih di kampus - menumbuhkan jiwa kepemimpinan di masyarakat. Sedangkan bagi yang sudah tidak berada di kampus (bukan status mahasiswa) maka itulah yang akan menjadi ruang dunia real setelah lama sebelumnya bergelut di ruang praktek pembelajaran di kehidupan kampus.

Viki Adi N (KAMMI Komisariat UNY)

Sabtu, 24 Oktober 2015

Karakteristik dan Dinamika Gerakan Mahasiswa

1.      Angkatan 66

Ini terjadi pada Orde lama, ketika negara sudah mulai condong pada salah satu kekuatan dunia pada waktu itu (Timur dan Barat), meski pada asasinya Indonesia merupakan non blok. Kecenderungan yang berganti-ganti, ditandai dengan jatuh bangunnya kabinet parlementer, juga dipengaruhi peristiwa ini.  Seperti Muso yang menginginkan beraliansi dengan Uni Soviet yang kemudian terjadilah peristiwa Madiun 1948 atau lebih dikenal dengan salah satu pemberontakan PKI. Sedangkan yang condong ke barat salah satunya Soekirman (kabinet Soekirman) yang menandatangani perjanjian dengan Amerika. Meski akhirnyapun jatuh karena alasan ini. Namun amerika tidak bisa lepas begitu saja, karena sempat terjadi PRRI dan Permesta yang jelas ini didukung oleh Amerika. Selain itu masalah Irian Barat juga masih harus ditangani (1962). Terjadi pula konfrontasi dengan Malaysia (1964) yang dinyatakan Presiden Soekarno. Dengan berbagai terjadinya masalah ideologi, pemberontakan, pertahanan, politik, sehingga ekonomi pun merosot pada masa-masa ini.
            Hingga akhir 40-an hingga tahun 50-an, muncul berbagai ormas mahasiswa diawali dengan berdirinya HMI (5 Februari 1947), PMKI (25 Mei 1947), GMNI (23 Maret 54), CGMI (1956). Meski orang melihat terjadi kecenderungan ormas tersebut ke partai politik karena kesamaan ideologinya, seperti HMI ke Masyumi, PMKI dengan Parkindo, GMNI dengan PNI, CGMI dengan PKI.

Karakteristik gerakan

Gerakan ini dengan terjadinya berbagai masalah diatas seperti menuntut pembubaran PKI semakin keras, sementara pemerintah tidak mengambil tindakan, keadaan indonesia yang juga sudah parah di bidang politik dan ekonomi, harga BBM sangat tinggi. Akhirnya terbentuklah KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa) dan berbagai kesatuan aksi yang lain seperti KAPI (Pelajar), KAPPI (Pemuda Pelajar), KABI (Buruh), KASI (Sarjana), KAWI (wanita), dan KAGI (Guru) yang tergabung dalam Front Pancasila menuntut Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), yaitu Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya, Perombakan Kabinet Dwikora, dan turunkan harga barang/ sembako.
Mereka mengatakan gerkan ini bukan hanya untuk mahasiswa namun juga untuk rakyat. Mahasiswa melakukan mogok kuliah tanggal 11 Januari 196 hingga tuntutan ini dikabulkan. Mahasiswa tidak hanya demo di pemerintahan saja, namun juga ke kedutaan asing (Cina, Amerika).
Aksi mereka murni dan pada pertemuan 18 Januari 1966 KAMI bertemu dengan presiden Soekarno, mendukung sepenuhnya untuk meningkatkan persatuan  dan kesatuan bangsa, mengembalikan tiga unsur kekuatan,  dan aksi KAMi bukan untuk menyerang Soekarno tetapi keadaan politik secara umum. Namun terjadi hal sebaliknya, pada tanggal 21 Februari 1966 Soekrano mereshuffle kabinet yang tidak diharapkan, yaitu duduknya orang PKI di kabinet. Tanggal 24 Februari akhirnya meletus demonstrasi mahasiswa kembali, hingga terjadi insiden dengan resimen  Tjakrawibawa (pasukan pengawal presiden), seorang mahasiswa Arif Rahman Hakim meninggal. Akhirnya pada tanggal 25 pun KAMI dibubarkan. Namun hal ini tidak mengurangi  gerakan mahasiswa untuk melanjutkan Tritura, yaitu dibentuknya Laskar Arif Rahman Hakim terdiri dari 42 universitas serta perguruan tinggi dan ini mendapat bantuan dari RPKAD dan Kostrad (Soeharto) atau selanjutnya lebih dikenal dengan dibentuknya laskar Ampera,  sampai bulan maret dengan demonstrasi yang intensif, laskar Ampera bersama RPKAD (Kemal Idris) mengepung istana, dimana saat itu akhirnya Soekarno membubarkan PKI dan melimpahkan amanat kekuasaannya kepada Soeharto melalui Supersemarnya agar Soeharto memberikan solusi perbaikan.
Angkatan 66 muncul sebagai rujukan yang memperjuangkan idealisme, meski pada masa awal OrBa mereka sangat saling mendukung.

2.      Angkatan 74

Gerakan ini muncul identik dengan terjadinya peristiwa Malari (5 Januari 1974) pada masa Orde baru, sebuah kerusuhan hingga meninggalnya belasan orang, ratusan luka-luka, hancurnya bangunan, hilangnya barang-barang. Dimana waktu itu mahasiswa juga sedang aksi menentang modal asing, yang 4 tahun sebelumnya juga menuntut banyak, seperti ketidakseimbangan pemilu tahun 70-an (banyaknya golput), tahun71-an parpol “diberantas”, juga dimatikannya pers yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Sampai akhirnya di tahun 74 keluar petisi 24 oktober 73 yang intinya peninjauan kembali strategi pembangungan, meminta agar rakyat dibebaskan dariketidakpastian hukum, korupsi merajalela, kenaikan harga, pengangguran.  Kemudian 15 januari 74 bersama datangnya PM jepang, mahasiswa melakukan long march.
Peristiwa malari ini sebenarnya “bukan mahasiswa” nya karena, saat mhasiswa masih aksi dari UI ke Trisakti, sudah terjadi bakar2an oleh demonstran lain di pasar senen nya. Hingga terjadi malari itu.
Namun, mahasiswa dituduh sebagai dalang peristiwa ini, dengan dibredelnya berbagai majalah mahasiswa, pers yang mengkritisi kebijakan, dan ditangkapnya orang-orang yang menjadi pimpinan aksi mahasiswa ini.
Dengan peristiwa itu akhirnya angkatan ini meredup.

3.      Angkatan 78

Pada tahun ini diberlakukannya penataran P4, Pancasila Asas Tunggal, sudah ada kebijakan KKN, sehingga mahasiswa pada tahun ini mulai disebut sangat akademis di kampus.
Namun bagi mahasiswa yang kritis ini merupakan paksaan, ada kepentingan politik didalamnya. Aksi pun kembali digelar dengan alasan banyaknya kebijakan yang mulai mengekang dan kabar akan dipilihnya kembali Soeharto sebagai presiden. Aksi pun meletus di Bandung (ITS) dengan masa 1000 orang, yang kemudian muncul di kota-kota lain. Namun angkatan ini pun gagal dan meredup karena memang masih berskali terbatas.

4.      Angkatan 80 – 90an

Gerakan setelah 78 sudah mulai dibendung oleh pemerintah, dengan adanya asas tunggal untuk ormas, kemudian munculnya gerakan NKK/ BKK dan semua ekstra kampus berada dalam naungan KNPI dibawah Menpora. Kegiatan mahasiswa hanya berputar pada intelektual kampus saja.
Maka jarang sekali ditemui bahkan tidak ada aksin pada tahun-tahun ini. Maka mahasiswa kritis di sini kebanyakan hanya membuat kelompok-kelompok diskusi, persnya sebagai pencerdasan politik, kemudian aksi yang hanya berwujud dialog, mimbar dikampus, dan aksi yang sebatas didalam kampus.
Gerakan mahasiswapun yang dulunya aktif, disisni ulai redup, dimana HMI pecah menjadi HMI yang murni dan HMI yang berasas Pancasila. Juga gerakan PMII, GMNI, IMM, dan sebagainya, semua tidak melakukan aksi, hanya sekedar kajian diskusi, pernyataan sikap, dialog, dan mimbar.
Setelah mendikbud diganti Fuad, maka kebijakan dirubah dengan boleh kembalinya dewan mahasiswa meski yang dibolehkan hanya senat dan ukm yang berada langsung dalam kontrol rektor kampus. Meski banyak yang menganggap ini hanya sebagai politik untuk memperbaiki hubungan mahasiswa denganorde baru. Namun kesempatan ini akhirnya mampu dimanfaatkan oleh mahasiswa yang kemudian disebut angkatan 98.

5.      Angkatan 98

Angkatan 98 ini dipelopori oleh KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim indonesia) yang dideklarasikan setelah selesainya acara Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) yang ke sepuluh di Malang. Lalu KAMMI memecah kebuntuan dengan melakukan aksi dalam bentuk rapat akbar di masjid Al-Azhar Jakarta dengan 10000 massa, baik dari kalangan mahasiswa dan gerakan mahasiswa maupun dari rakyat. Ini sejarah pertama kalinya dimana dalam situasi mencekam akhirnya ada gerakan mahasiswa yang mau mempelopri aksi.
KAMMI bisa mengumpulkan massa dengan banyaknya karena ia memang ditopang oleh aktivis dakwah kampus yang sudah berkembang selama 20 tahun, sehingga memiliki jaringan yang banyak, juga dengan aktivisnya yang berada pada pucuk pimpinan senat mahasiswa, bem, dan ukm-ukm, yang berhasil dimanfaatkan setelah bolehnya kebijakan ormawa.
KAMMI mempelopri dengan 6 tuntutan reformasinya yang kemudian ini menjadi bahan diskusi dan menjadi rujukan gerakan mahasiswa, yang akhirnya dari sisni semua gerakan mahasiswa baik yang ekstra, maupun intra bergerak bersama-sama untuk menuntut mundurnya Soeharto dengan KAMMI menggandeng Amin Rais sebagai tokoh suksesi kepemimpinan.
Hingga akhirnya aksi adalah hal biasa setiap hari yang terjadi di berbagai kota, hingga saat puncaknya krisis moneter, dan soeharto akan dicalonkan kembali, maka aksi besar-besaran selalu terjadi hingga turunlah Soeharto pada 21 mei 98 yang sebelumnya sudah terjadi kerusuhan oleh berbagai orang yang tidak bertanggung jawab yang meanfaatkan aksi mahasiswa.
Perjuangan tidak berhenti sampai disini, namun terus berlanjut hingga suksesi reformasi pasa masa transisi selesai. Meski pada setiap masa transisi gerakan mahasiswa ini cenderung pisah. Namun KAMMI pada akhirnya akan menjadi penengah hingga pada akhirnya gerakan mahasiswa menjadi satu frame kembali.

Hingga pemilu 2004 yang meruapakan paling demokratis pasca reformasi, dan sampai sekarang gerakan mahasiswa ini akan terus berlanjut.

KONSEP PEMBODOHAN DIRI

Berawal dari sebuah pembelajaran bahwa pada hakikatnya kita akan selalu merasa hebat kalau kita dihadapkan pada orang-orang itu saja, pada orang-orang yang berada dibawah pada suatu kapasitas tertentu. Namun saya ingin bertanya, benarkah untuk menjadi hebat harus berada di lingkungan itu untuk selamanya? Atau sama sajakah dengan katak yang berada di tempurung? Bagaimana jikalau ia keluar dari kungkungan lingkungan itu sendiri? Apakah ia akan menjadi orang yang hebat?
Belum tentu jawabnya. Ya, belum tentu. Bahkan karena ilmu itu berserakan di sepanjang jalan. Ia akan semakin tertinggal.
Begitulah konsep pembodohan diri. Bahwasanya seharusnya kita mulai mencoba keluar, mulai mencoba suasana baru, orang baru, masalah-masalah baru, mulai mencoba mengerti dan memahami apa yang terjadi di sekitar, tidak selamanya terkungkung hanya pada pembatasan guyon yang tidak jelas tujuannya, tidak hanya mengurung pada satu komunitas yang asyik dengan berbagai kenyamanannya. Bukankah benar bahwa monyet yang diterpa badai besar ketika bergelantungan, ia akan semakin kencang dalam bercengkeram? Malah monyet yang diterpa angin sepoi-sepoi itulah yang akan menjadi kebinasannya karena ketidakhati-hatiannya sehingga ia jatuh?
Pernahkah kita berfikir seperti ini? Bahwa ketika masalah-masalah yang kita hadapi hanya seperti ini terus – karena pada hakikatnya masalah ini ialah perulangan atas masalah yang lalu yang belum terselesaikan – yang kita hadapi hanya berpijak pada perspektif yang sama, objek yang sama, sehingga tidak pernah ada cara-cara jitu untuk memperbaruinya?
Marilah sejenak kita keluar dari zona nyaman kita, marilah sejenak mengikuti dan memahami berbagai proses perbaikan disekitar yang bisa kita manfaatkan, naiklah secara bertahap melalui tahapan, melalui jenjangnya, lakukanlah tarbiyah dzatiyah (perbaikan diri sendiri) dengan segenap kemampuan kita. Karena Alloh telah menyuruh kita untuk bertaqwa sesuai kemampuan kita. Namun perlu dicamkan bahwa semampunya disini ialah kemampuan maksimal, bukan kemampuan minimal.
Konsep pembodohan diri ini ialah konsep yang mencoba memahami bahwa diri kita belum ada apa-apanya. Karena tingkatan orang memiliki ilmu memang pada awalnya ia akan merasa sombong dengan keilmuannya lalu selanjutnya semakin ia banyak menuntut ilmu, semakin ia banyak berdiskusi, maka merunduklah ia, ternyata dibalik segudang pengetahuannya, masih banyak pengetahuan di luar sana yang belum ia ketahui.
Konsep ini bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa Alloh lah yang Maha Sempurna dengan segala Ilmu-Nya yang tiada batas. Haruslah manusia sadar akan hal ini dan tidak patut bagi mereka untuk sombong.

Let’s tarbiyah dzatiyah (perbaikan diri sendiri).

Minggu, 11 Oktober 2015

Renungan untukmu Wahai Aktivis Dakwah

Gelap. Apakah gelap akan selamanya gelap? Bukankah Alloh menciptakan terang? Dan apakah gelap itu akan tergantikan? Engkau masih ingat bukan, bahwa kebosanan, kelelahan, pasti akan mencapai titik kulminasinya, mereka akan mencapai titik jenuh. Titik dimana ia ingin pergi, ingin berlari.

Masih ingat pula bukan, bahwa ketika raga itu terus dipacu, akal terus dipacu, akan tiba masanya ia lelah? Dan lelah itu datang sangat cepat. Dan sebenarnya engkau akan tahu seberapa pentingnya itu, manakala engkau kehilangannya. Manakala engkau dihadapkan pada detik-detik ujung penyelamatan. Maka tanyakanlah akan hal itu pada orang yang beberapa detik ia selamat dari kecelakaan maut. Seberapa berharganya beberapa detik itu bukan?

Saya tidak tahu bahwa apa yang saya pikirkan ini benar adanya, silakan cermati menurut pandanganmu. Saya hanya ingin membuka, membuka sedikit fakta. Semoga ini bisa mengingatkan saya serta menjadi koreksi bagi saya yang jauh belum apa-apa.

Benarkah itu dakwah? Dakwah apa yang sedang engkau bawa? Meski saya merasa bahwa kesalahan yang saya buat, tidak memanfaatkan waktu dengan baik, bercanda tak jelas, masih seling melingkupi. Wahai jiwa yang mulai mengeras, pernahkah kau perhatikan, bahwa engkau disebut aktivis dakwah?

Apalagi jika engkau melihat apa yang engkau bawa ialah cerminan akan aktivitas tarbiyah. Apakah kita menyalahi prinsip yang sudah Imam As Syahid tandaskan, akankah risalah ta’lim itu hanya sekedar lampiran kertas kenangan indah yang hanya dibaca sebagai bahan bacaan sejarah tanpa ada makna? Ataukah ia hanya bacaan penugasan yang setelah dibaca iapun hilang?

Benarkah kita mengamalkan rukun “kepahaman” dalam segala aktivitas dakwah? Namun pada kenyataannya masih jauh? Benarkah 20 prinsip yang telah digariskan itu hanya senandung syair yang dihafal untuk memenuhi ruang-ruang diskusi?

Kalau saja kita menyebutkan bahwa diri ini adalah aktivis dakwah, sebut saja tarbiyah, apakah kita sudah menjalankan paugeran didalamnya, usrahnya, liqa nya, katibahnya, daurohnya, nadwahnya, mukhoyyamnya, dan sebaginya? Benarkah kita sudah menghadiri itu dengan ikhlas sepenuh hati? Tidak usah berpanjang lebar membicarakan yang besar, coba bicara skala kecil dalam kelompok liqa/halaqah/usrah, apkakah kita sudah mengutamakannya? Apakah kita sudah memberikan ruang energi besar ketika menghadirinya? Ataukah hanya datang dengan energi sisa?

Coba merenung sejenak, selain dari forum liqa, dimana kah kita menemukan recharge ruh kita? Ya, kajian di sekitar banyak selain liqa, namun apakah kita sudah menghadirinya? Bahkan program-program madrasah masjid kampus sungguh sangat hebat, tapi siapa pesertanya? Ya, kebanyakan dari luar kampus itu, lalu mana mahasiswa nya, mana? Sebut saja masjid mujahidin dengan segala program MT nya, tahsin, bahasa arab, kajian mujahidin, dan sebagainya. Namun, dari sekian banyaknya aktivis yang menamakan dirinya aktivis dakwah kampus, hanya baru sebagian kecil yang memanfaatkannya, selebihnya dimanfaatkan oleh pendaftar dari luar.

Ok, kembali ke permasalahan Liqa, sudah beres dengan yang satu ini? Silakan kita menganggap remeh struktur ini, namun ingatlah, bahwa ini adalah struktur terkecil jamaah. Ketika ini rusak, maka pada hakikatnya kita belum bisa menjadi batu bata untuk membangun peradaban umat ini menuju umat yang madani.

Bercita besar, namun tak mau menjalani alurnya, apakah ia bisa? Imam As Syahid telah merumuskan itu dengan segala alurnya. Bisakah individu-individu yang belum terislamkan secara kafah mampu membina rumah tangga dengan tujuan islam nya? Apalagi bicara negara? Bagaimana 20 tahun ke depan?

Apakah kita lupa, kita adalah aktivis dakwah, bukan aktivis organisasi? Organisasi ini adalah wasilah, ini adalah sarana. Kembalilah pada hakikatnya, kembalilah pada ashalah nya, kembalilah pada dasarnya wahai akh, kembalilah pada dasarnya wahai ukh.


Kembalilah.

Minggu, 30 Agustus 2015

Misi Kita, Misi Peradaban

Masih terlintaskah di fikiran kita akan apa maksud kita ada? Hanyalah sepintas hidup di dunia ini? Adakah latar belakang kita hadir? Apa tujuan semua ini?
 
Sempatkah terlintas berfikir seperti itu? Semoga engkau pernah berfikir seperti itu, semoga engkaupun dapat menemukan jawabannya dari perspektif aqidah agama Islam. Agama yang memperbarui segala ajaran sebelumnya, agama satu-satunya yang Alloh sebutkan kebenarannya, yang Alloh ridhoi. Bersyukur kita bisa berada di sini.

Masihkah engkau terfikir hidup ini bagai roda yang berputar? Masihkah terfikir hidup ini seperti perulangan yang tiada putusnya?
Seperti itulah hakikat manusia, memang benar adanya hukum sebab-akibat. Hingga adanya manusia pun sangat terfikirkan dan terdebatkan pula oleh filsuf-filsuf dengan berbagai latar belakang mulai dari agama, sekuler, liberal, dan sebagainya. Namun benarkah manusia diciptakan tanpa ada sebabnya tanpa ada tujuannya?

Saya hanya mengantarkan dalam perspektif yang saya percaya, perspektif agama Islam dengan berpegang pada kitab Islam yang dijamin keasliannya sepanjang masa oleh Alloh, dengan menempatkan akal dibelakang Al-Quran dan sunah, namun tidak jauh-jauh. Sehingga ketika ada ayat yang memang tidak bisa dijangkau oleh akal, maka “sami’na wa ata’na” kami mendengar, dan kami taat. Sehingga terujilah kepercayaan dan ketaatan ini pada agama Islam.

Manusia diciptakan dengan spesial, mengapa?

Pertama, mari kita lihat dari sudut penciptaan dimana Alloh mengabadikannya dalam percakapan yang indah dengan berbagai pelajaran yang sangat besar yaitu dalam Al-Baqarah yang dimulai dari ayat 30. Coba kembali perhatikan ayat tersebut dan beberapa ayat berikutnya. Sampai Alloh menyuruh semua malaikat, iblis untuk menghormati Adam? Meski iblis membangkang dan akhirnya menjadi musuh abadi manusia?

Kedua, dari sudut pandang unsur. Dimana unsur manusia ada tiga yaitu jasad/fisik, ruh, dan akal. Di sini akal ini yang mempunyai ruang spesial, karena hanya manusia yang mempunyai taraf ini kemudian dibarengi dengan hawa nafsu. Maka kita bisa mengibaratkan adanya tarik ulur antara kebaikan dan keburukan. Dimana fisik yang terbuat dari lumpur – ibarat kotor – akan membawa pada keburukan, kemudian ruh – ibarat suci – akan membawa pada kebaikan, kemudian akal yang berposisi netral namun akan selalu dibarengi dengan hawa nafsu – mengacu pada keburukan. Maka benar firman Alloh tarik ulur ini akan membawa pada hal fujur atau taqwa (As-Syams:8). Sehingga secara logika, ketika iblis pun tidak ada, maka potensi mengarah fujur pun tetap ada. Inilah spesialnya manusia, ia akan dibelajarkan untuk seimbang dan berfikir menuju ke arah yang baik, ia mempunyai kehendak.

Ketiga, dari sudut potensi. Seperti dalam As-Syams ayat 8 bahwa manusia diberi potensi kefujuran dan ketaqwaan. Maka benar bahwa hidup ibarat roda yang berputar, bahwa iman terkadang fluktuatif, sehingga benarlah bahwa kita dianjurkan untuk sering bertaubat. Dan potensi itu tidak akan bertemu pada satu waktu. Sungguh benar bahwa orang yang bermaksiat tidak akan disebut orang yang baik/beriman, begitu pun sebaliknya sungguh benar bahwa orang yang beriman/baik tidak akan disebut ahli maksiat. Maka sungguh apik nasihat Abu Bakar, “Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dalam kebaikan, maka engkau akan disibukkan dengan keburukan”. Pilihlah kebenaran, meski penentang akan lebih besar dan lebih berat. Itu adalah sunatulloh.

Dari sudut ilmu dan segi bahasa. Bukankah benar kalau manusia mampu mengembangkannya, bahkan Nabi Adam pun menyebutkan nama-nama yang makhluk lain belum tahu.

Dari sudut posisi, Alloh sungguh menempatkan posisi yang berat, posisi yang luar biasa, hingga jika gunung yang akan memikulnya, maka hancurlah ia. Ya, sebagai pemimpin di bumi.

Lalu dari berbagai keistimewaan tersebut, apakah engkau masih berfikir manusia diciptakan secara kebetulan belaka dan hanya untuk bermain-main, bersenang-senang kemudian mati dan tidak akan dibangkitkan lagi?
Bukankah sudah jelas akan firman Alloh dalam surat Al-Ankabut ayat 3 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Juga dalam Al-Qiyamah ayat 36, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa (pertanggungjawaban)?”

Inilah misi kita, misi peradaban.

Jelas pula bahwa tidak dipungkiri lagi fitrah menyembah itu ada dalam diri manusia, fitrah menyembah Tuhan. Meski orang ateis menafikan hal ini, karena pada hakikatnya tuhan mereka ialah materi keduniawian yang mereka senangi. 
Dalam firman Alloh, sudah jelas tersebut dalam Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Inilah perintah Alloh pertama pada manusia, misi ibadah, misi mengabdi pada Alloh. Bahwa definisi ibadah ini sangatlah luas, tidak seperti kebanyakan bahwa ibadah hanya sekedar menjalankan sholat, puasa, zakat saja. Namun seperti yang pernah dikatakan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa ibadah ini ialah segala sesuatu yang Alloh itu ridho terhadapnya. Bahkan hanya sekedar menyingkirkan duri di jalan adalah bagian ibadah, bahkan senyumpun ibadah.

Namun misi ibadah ini bukanlah misi yang kecil, karena ibadah yang kita pahami ini dalam makna yang luas dan akan menyangkut pada misi berikutnya, yaitu sebagai khalifah/pemimpin di bumi. Karena ini juga bagian dari ibadah.
Ini juga sudah tersebut dalam firman Alloh dalam surat Al-Baqarah ayat 30, menjadi pemimpin di bumi, menjadi wakil Alloh di bumi, yang berarti bisa diartikan membawa misi kebaikan di bumi ini, membawa bumi agar sesuai dengan ketentuan Alloh, menjadi penguasa di bumi (An-Nur: 55). Tentu ini bukanlah tugas yang ringan, ini adalah tugas yang berat, tugas yang tidak mungkin dilakukan hanya oleh seseorang individu. Namun harus bersama-sama, besar, massive, butuh sebuah penggerak dan yang digerakkan.
Sehingga dari misi ibadah yang berkaitan dengan individu, kemudian naik pada misi pemimpin di bumi yang ini tidak bisa hanya dengan individu saja, lalu misi besar selanjutnya ialah misi peradaban.

Misi peradaban ini ialah misi menggoalkan islam sebagai ustadziatul a’lam, menjadi ustadnya alam, menjadi gurunya dunia, menjadi rujukan dunia. Maka, apakah ini bisa dilakukan oleh individu seorang?
Sejenak kita kembali merenung saat kejayaan islam, bukankah ia ditegakkan atas landasan iman yang kuat, persaudaraan yang lekat, dan kekuatan yang hebat? Yang terhimpun dalam sebuah jama’ah? Islam ditegakkan dari sesuatu yang asing pada mulanya, dan di akhir juga akan asing kembali? Benarkah hari ini asing?


Inilah misi kita, misi peradaban. Tidak ringan sobat, sementara waktu usia kita terbatas. Rasulullah membutuhkan waktu 23 tahun dan beliau secara langsung menerima wahyu, langsung mengingatkan jika ada yang salah. Sementara kini semakin jauh dari zaman beliau, kita hanya bisa napak tilas sejarah, mengikuti imam kita, ulama kita dengan ijtihadnya. Sehingga ijtihad ini pun berbeda-beda. Sehingga timbulah berbagai firqah, gerakan, yang dalam studi analisis, semoga ini adalah kebangkitan menuju jamaatul muslimin.
Lalu, apakah kita diam saja, hanya membaca, menjadi penonton saja, bagaimana kita menjalankan misi kedua dan ketiga ini jika tidak ikut mewarnai dengan gerakan yang akan menuju jamaatul muslimin?

Maha Benar Alloh, sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasul SAW. Wallahu A’lam...