Sabtu, 08 September 2018

Angka-Angka yang Termakzulkan



Angka-Angka yang Termakzulkan

Oleh: Viki Adi N

Hujan di bulan September sejenak memberi rasa lega dikarenakan rindu yang telah dirasa. Baik oleh katak yang lama bertengger di balik pot dan got kering, rumput yang masih terpendam hingga manusia-manusia yang kadung rakus serta lupa terhadap apa yang disebut dengan syukur. Hujan ini jugalah yang membawa kita pada titik permulaan angka baru di tahun qomariyah.

Anda, tentu saja selaku pelaku aktif medsos akan dihujani dengan "tabligh akbar", kajian hingga diskusi berkaitan dengan refleksi tahun baru. Meski ramainya tidak terlihat seramai percekcokan cebong & kampret atau sejenisnya. Jangan harap ada kembang api, Anda cukup melihat ramai "postingan" di medsos saja, sejatinya Anda sudah bangga (harusnya). Toh, ini bukan tahun baru hura-hura layaknya 1 januari itu. Namun bagaimana kondisi di medsos berkaitan dengan 1440? Anda bisa melihat sendiri.

Saya, Anda, Kita ialah anak bangsa yang sedang tertatih menjalani masa sulit. Entah bagi "mereka" yang tertawa terbahak dengan mengatakan harga kopi masih sama serta mengatakan melemahnya rupiah tak ada apanya. Di sisi lain, kita juga disuguhkan pemandangan susahnya gawai lokal akan meluncurkan tipe barunya dikarenakan salah satu komponennya impor sehingga memasang harga saja perlu berpikir keras meski baru saja tadi gawai bertipe baru dari negeri tembok Cina di flash sale kan dengan harga murah. Miris tentunya. Belum berbicara produk lainnya. Pemandangan semua disuguhkan pada kacaunya manusia di segala urusan. Penyimpulannya pada isu politik yang kian pedas dan tak ramah lagi. Revolusi Mental yang pernah menjadi esai tulisan Pemimpin tertinggi negeri ini hilang entah kemana. Terbukti dengan banyaknya KKN hingga persoalan impor produk pangan yang mana produk lokal masih mencukupi.

Peliknya semua ini perlu kita sadari betul bahwa acapkali kita mengabaikan sebuah relung terdalam dari pembentuk negeri ini. Alih-alih terus berkerja memperbaiki dan menambal sulam sana sini namun masih abai pada aspek paling fundamentalnya. Tentu dengan tidak mengabaikan peran di segala bidang.

Ia ialah sebongkah hati dalam diri individu-individu pembentuk masyarakat dan negara.

Dalam setiap tokoh besar, mulai dari ulama hingga pakar pendidikan, mulai dari Hasan al-Banna hingga al-Attas, mulai dari Nursi hingga Natsir. Semua menyatakan didikan yang baik dari sebuah individu inilah yang akan membawa perubahan besar.

Hati selalu menjadi jantungnya manusia yang mengarahkan pada suatu perbuatan. Semua permasalahan juga bermula dari sini. Mulai percekcokan antara suami isteri sampai perpolitikan dalam perebutan kekuasaan. Semua tertancap erat dalam kuasa bersih kotor nya hati.

Tahun 1440 Hijriah bukanlah tahun untuk memulai perbaikan. Namun mengingatkan kita, setidaknya batas usia kerja kita akan segera berakhir. Meski esok hari kita tidak tau taqdirnya. Artinya perubahan dalam diri diharuskan saat ini pula, bukan menunggu esok dan esoknya lagi. Tahun 1440 hanyalah sejenak lecutan untuk mengingatkan kita. Bahwa September ini bukanlah derai hujan kesedihan untuk meratapi masalah yang terus menjangkiti negeri ini. Namun untuk segera berbenah hati dan kemudian bangkit dengan optimisme serta arah baru untuk membangun kebaikan-kebaikan.

Di negeri ini tak kurang orang baik. Lalu? Dari berjuta orang itu tidak adakah yang layak untuk memimpin? Anda bisa merenunginya.

Angka 1440 akan terdzalimi ketika bumi makin menua namun penduduknya makin tak merawatnya. Mari tunjukkan rasa syukur kepada Sang Pencipta melalui prosesi merawat negeri dengan menyiraminya melalui harumnya keringat dan darah sekalipun.

1440, semoga menjadi titik balik refleksi dari keangkuhan dan kebiadaban menjadi insan yang beradab. []

Selasa, 14 Agustus 2018

OSPEK & Masa Depan Peradaban

Ospek & Masa Depan Peradaban
Oleh Viki Adi N



Kalau kemarin saya ingat tentang Sabili yang jatuh dan hilang. Kini, saya teringat Ospek. Tentu banyaknya postingan di beranda, entah facebook, whatsapp, atau instagram membuat memori itu hidup.

Ospek atau entah bernama apa, dimana tiap kampus punya sebutan yang berbeda merupakan bagian dari pengenalan kampus kepada mahasiswanya. Dari segala tetek bengeknya hingga seharusnya "peran sebagai mahasiswa". Namun yang kedua ini biasanya hanya datang dari formalitas jargon tri dharma perguruan tinggi saja.

Tentu saya juga tidak akan menguliti perbedaan yang mencolok itu di setiap ospek dari mulai tingkat sepele sampai bekaitan dengan "ideologi". Toh pusarannya akan kita lihat menuju ke tengah. Hanya sedikit yang masih mempertahankan ideologi dan idealismenya di tengah percaturan yang semakin rumit ini. Ini berlaku di semua hal. Kecuali konsep Aqidah yang sudah tidak bisa ditawar. Itu bedanya!
Peradaban selalu dimulai dari unsur terkecil yang mempengaruhinya. Individu selalu menjadi kajian menarik, karena ialah yang menjadikan peradaban itu eksis.

Bicara Kampus, tentunya ini lah yang menjadi tingkat pendidikan tertinggi. Dimana harapan munculnya orang-orang hebat untuk mensejahterakan bangsa hadir. Meski faktanya, hanya dihasilkan para pekerja sesuai kebutuhan bidang garapan saja. Liberalisme muncul, bahkan jurusan dan fakultas bisa saja menyesuaikan lapangan pekerjaan.
Untung saja, di kampus Anda belum muncul jurusan youtubers atau sejenisnya.
Saya jadi teringat konsep al-Attas yang mengkonsepkan bahwa Universitas sebenarnya adalah ceminan dari diri manusia. Artinya dengan konsep Universitas versi Barat ini sangat tepat jika hasilnya menjadikan individu yang "sekuler".

Dari tujuan saja sudah salah. Gagasan al-Attas lebih bertitik bahwa tujuan pendidikan bukan sekedar menghasilkan warga negara yang baik tapi sebagai individu yang baik. Tepat sekali Hasan al-Banna juga merumuskan ini dalam tahapan dakwahnya. Atau barangkali konsep ta'dib yang dibawa al-Ghazali dalam kecamuk perang Salib dimana perbaikan individu (baca: internal umat) lebih tepat menjadi obat mujarab dibanding hanya menyalahkan keadaan dari luar.

Setidaknya itu juga yang membuat Iqbal berpikir dan terus berkeinginan mewujudkan pembaruan dalam pemikiran Islam konemporer dimana Barat sebagai ideologi telah merambah dalam kancah yang tidak semestinya.

Inilah yang oleh al-Attas disebut permasalahan terbesar umat hari ini. Ialah kerancuan Ilmu pengetahuan. Ditambah dengan hilangnya adab (lost of adab), maka dari sini akan dihasilkan individu-individu yang rusak. Serta dari individu ini akan dihasilkan para pemimpin yang palsu.
Permasalahan ini pelik. Karena bukan saja dihadapkan pada penggantian sistem luaran tapi juga sudah terkaburnya konsep ilmu yang benar. Sehingga butuh penjelasan khusus dan kerja besar untuk mengimplementasikannya.
Dari sinilah metodologi epistemologi muncul. Berusaha membenahi kesalahan metode klaim (mengklaim kebenaran sains dengan ayat Al Quran dan hadist), metode integrasi yang dibawa Ismail Raji al Faruqi, metode sains sakral oleh Seyyed Hossen Nasr maupun metode lawas yang dibawa Prof Abdus Salam sebagai peraih Nobel Fisika pertama.

Begitulah dengung Islamisasi masa kini. Butuh orang radikal yang mampu dan berani mengkonsepkan. Serta butuh pemangku kebijakan yang arif untuk menyokong. Khususnya konsep dan realisasi Universitas yang berkaca pada diri manusia yang benar sesuai konsep Islam.

Dan bicara Islam ia tak sekedar bicara jenggot, tapi berbicara peradaban.

Selamat bereuforia di Ospek!

Jumat, 10 Agustus 2018

Elegi di Masa Esok

Elegi di masa esok

Seorang Ayah berprofesi pemulung, seperti dikutip dalam kumpulan kisah nyata di majalah sabili yang kemudian di buku kan. Ia kebingungan mencari sejengkal tanah untuk menguburkan anaknya, setelah ia bergulat melawan sakitnya.

Seorang Ayah yang ditinggal oleh isterinya, dengan mendorong gerobak sampah berkeliling kemana tanpa arah untu mengais rizki, satu bocah berlarian dan satu bocah bergulat dengan sakitnya di dalam gerobak bersama sampah-sampah.

Saya tak ingat persis judul bukunya. Tapi Sabili pernah menoreh kejayaannya. Hingga ia mati. Mati bersama kenangan.

Sabili menorehkan para aktivis untuk berkarya. Menuliskan tinta kebaikan melalui pena.

Begitu juga tarbawi. Kini tiada keliatan akarnya.

Masuk pusaran arus, bertarung dan kalah. Zaman terus berjalan. Barangkali seorang Ayah pemulung itu juga berjuang mengarungi hidup. Ia yakin bahwa ini hanya sementara.

Benar sekali, masyarakat yang tau akhirnya menguburkan dengan membiayai keseluruhan dari mulai tanah hingga kesemua yang berkaitan dengan jenazah si kecil.

Berharap lebih untuk menjadikan cawapres dari seorang ulama boleh saja, tapi kini apakah Anda kecewa?

Bukan itu persoalannya, ijtima ulama bersifat rekomendasi dalam pertarungan kali ini. Tapi setidaknya, umat akan tercerahkan. Meski di seberang juga ada salah satu dari ulama kita. Barangkali pesantren akan bergoyang memenuhi ruang dialektika perbedaan dan ditepuk tangani sang penonton.

Meski tidak sekeras kalau saja oposisi kini memenuhi permintaan ijtima ulama, artinya Anda bisa berandai bahwa Islamisasi sepenuhnya belum berjalan. Indikasi sederhana, masih ada anggapan pemisahan agama dan negara.

Namun dari sini kita juga belajar. Bahwa teori Gelombang Ketiga Anis Matta berlaku.

Itulah yang menyebabkan mengapa masyarakat mau ikut menguburkan sang putri mungil Ayah si pemulung.

Karena ia adalah kewajiban dalam agama.
Begitu pula dalam memilih pemimpin.

Ijtima ulama kita sudah mendukung dan memutuskan.

Mari sambut kemenangan. [ ]

Kamis, 09 Agustus 2018

Sederhana

Sederhana

Barangkali kata inilah yang menjadikan Abu Hamid al-Ghazali terpampang ke dalam jajaran tokoh sufi. Misykat menjadi salah satu karya fenomenalnya. Cintanya pada kehebatan lenyap pada putaran ia ber-intishab.

Adapun umat, sedang bertukar. Perdebatan masalah-masalah sepele menjadi ajang saling mengklaim kebenaran. Para filsuf dan aliran kebatinan menjadi momok hebat dalam berbicara. Perpecahan antar pemimpin wilayah dan ketidaktundukan pada otoritas Khalifah terjadi. Sementara, Kaum Frank membawa ruh mengerikan hingga al-Aqsha jatuh kepada mereka.

Lagi-lagi elegi cinta al-Ghazali memanggilnya. Ia turut hadir dalam jengkal intishabnya. Memanggilnya kembali menyelesaikan ceruk internal umat.

Kepiawaian nya bergelut ke gelanggang semua pemikiran dan semua aspek kehidupan membuatnya ampuh menyelesaikan kemelut itu.

Ianya memandang masalah internal umat sebagai biang utama. Tidak serta merta dari kaum frank.

Syair-syairnya terus merasuk ke jantung hati umat. Menanamkan harapan akan pembaruan diri.

Nizam al Mulk membujuknya untuk kembali menjabat di sekolah bergengsi Nizamiyah. Ia sempat mengajar namun pergi lagi.

Ia dedikasikan hidupnya untuk mendidik dengan konsep pembaruan pendidikannya.

Ia ingin mendidik umat agar optimis. Kerusakan pemimpin terjadi karena individu-individu tidak disiapkan untuk siap mengemban amanah.

Barangkali keramaian perbincangan dan deklarasi Sang Presiden Indonesia di tahun 2018 ini untu maju di tahun 2019 menjadi contoh sederhana. Ketika seorang 'ulama ditarik ke dalam pusaran kekuasaan yang di tentang oleh majelis 'ulama yang lainnya.

Tentu, pasangan sebelah harus melihat komposisinya. Nasionalis religius. Barangkali ini titik segar jika ingin melawan. Ijtima ulama sebenarnya sudah turut menyumbang andil akan teropong ini.

Kalau al-Ghazali bangun dan bangkit, ia tentu akan keras dan lantang menyuarakan bahwa ulama bukan barang jualan. Bukan ulama' dunia. Mungkin sikap Ustad Abdul Somad juga memberi keteladanan.

Masih ada nama hebat seperti Habib Salim sebenarnya. Tapi jika ini terjadi maka PKS akan sangat bangga, dan mungkin kader-kadernya akan bekerja ekstra yang dikenal dengan militansi-militansinya.

Sejumpa itu, al-Ghazali tentu akan mengingatkan. Bahwa selain jangka pendek yang berkaitan dengan segala urusan politik dan ekonomi. Masih ada yang harus ditilik dan di cermati. Ya! Pendidikan untuk menyiapkan para cendekiawan muslim untuk berdakwah di berbagai lini kehidupan. [ ]

Selasa, 07 Agustus 2018

Hakikatnya Ia Terus Mencari

Hakikatnya ia terus mencari


Dalam alam luar, yang tiada terlihat belum tentu tiada. Namun ia terasa.

Dunia kembangkempis ditiupkan gelombang ini. Ia tiada tertunduk oleh apapun selain karenanya.

Kalau hakikat itu sudah tiba, tiada yang bisa menjauhkan. Kecuali atas kuasa-Nya. Ikhtiar manusia menjadi ruang-ruang sebab akibat serta doa yang menjadi penyerahan totalitasnya.

Cinta memberikan harapan. Ia tiada terlihat seperti alam fisik, namun gejalanya terasa.

Inilah yang membuat sepasang merpati menjadi simbol. Itulah mengapa barangkali yang membuat al-Adawiyah takluk di hadapan sujud-sujudnya atas cinta kepada-Nya yang begitu kuat.

Inilah elan yang membuat Rasul Agung kita memanggil umatnya tatkala ia harus meninggalkan dunia ini. [ ]

Selasa, 17 Juli 2018

Resensi Buku Membina Angkatan Mujahid

Cek instagram untuk membeli buku ini

Sedikit komentar tentang buku *MEMBINA ANGKATAN MUJAHID*

Oleh Viki Adi N

Buku: Membina Angkatan Mujahid
Judul Asli: Fi Afaqi at-Ta'alim
Penulis: Said Hawwa
Penerjemah: Abu Ridho & Wahid Ahmadi
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit: 2014

Resensi buku ini sudah banyak di internet, barangkali generasi gawai selalu membuka tanpa pernah mencoba menyelesaikan membaca bukunya. Silakan, itu pilihan.

Ini bukan sekedar resensi, hanya ocehan seorang bakul buku. Buku yang terdiri dari 8 Bab ini, plus pendahuluan dan penutup sehingga pas menjadi 10 dalam edisi terjemahannya menjadi semacam buku "pegangan" oleh aktivis dakwah khususnya di kampus-kampus. Padahal hingga kini buku sejenis ini sangatlah banyak bahkan dengan kajian dan pendekatan yang baru karena saking banyaknya penelitian dan studi tentang gerakan ini.

Mengapa saya awali dengan ini? Ya! Agar Anda terbuka bahwa buku ini ialah syarahan dari Risalah Ta'alim yang ditulis oleh Imam as-Syahid Hasan al-Banna sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin. Kita akan temukan bahwa tidak berlebihan jika Beliaulah peletak gerakan Islam kontemporer, ia memadukan otak al-afghani, rasyid ridho dan praktek al-maududi. Kalau tokoh-tokoh sebelumnya masih berpusat pada tataran ide, maka toho satu ini mampu menyebarkan gagasannya hingga seluruh pelosok dunia. Hingga fikrah nya mampu membuat gerakan dengan berbagai coraknya yang berbeda di tiap negara.

Dan tentu, buku ini - sekali lagi - bukan buku satu-satunya atas syarahan itu. Hanya saja karena penulisnya ialah langsung dari anggota Ikhwan maka buku ini seolah menjadi panduan untuk membina angkatan mujahid.

Mungkin Anda bertanya apa maksud membina angkatan mujahid?

Anda perlu tahu bahwa Risalah Ta'alim ditujukan bukan untuk "simpatisan". Anda bisa merujuk pada tulisannya langsung dalam buku Majmuatu Rasail Hasan al-Banna. Sangat jelas bahwa risalah ini ditujukan untuk seorang "mujahid". Maka benarlah bahwa risalah ini berkaitan dengan takwiniyah serta berisi panduan bagi seorang al-akh, baik berkaitan dengan dirinya maupun jamaah. Bahkan tak tanggung-tanggung, Hasan al-Banna mengatakan bahwa untuk mereka yang bukan "mujahid", akan disediakan ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, training-training. Artinya rukun bai'at bukan untuk sembarang orang. Itu catatan yang harus Anda pikirkan.

Menuju bab kedua, Said Hawwa menuliskan kunci memahami dakwah Ikhwanul Muslimin. Disini dijelaskan meski secara umum. Sebenarnya peletakan manhaj bisa kita tilik dalam tulisan atau pidato Imam Hasan al-Banna dalam Risalah Muktamar al-Khamisnya. Beliau sudah menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Entah hari ini generasi muda masih mau membaca tulisan itu atau tidak.

Selanjutnya penulis menjelaskan bahwa tiap diri muslim ialah seorang da'i yang memiliki tanggung jawab besar, apalagi dengan tidak adanya kepemimpinan umat. Sebenarnya kompilasi pemikiran Said Hawa sudah diterjemahkan oleh Gema Insani menjadi satu paket, kita juga akan mengerti dinamika pemikirannya. Dari mulai menolak demokrasi hingga tragedi pembantaian IM di Syiria sehingga pelunakan terjadi. Anda bisa menjalani proses alur ini ketika membaca dua jilid Majmuatu Rasail terbitan Era atas dinamisnya pemikiran Sang pendiri jamaah.

Di buku terjemahan yang Anda pegang ini, maratibul amal di beri bab dengan judul: tentang tujuan. Setidaknya bocah-bocah yang katanya ADK harus mengetahui ini. Karena dakwah ini jauh menelusuri berbagai aspek, tidak berkutat hanya di LDK saja seperti yang dipikiran sebagian aktivisnya. Ia memiliki tahapan yang jelas dan khas. Anda bisa membandingkan tahapan ini dengan gamblang serta memikirkannya dengan tahapan atau manhaj Hizbut Tahrir. Akan ada kesamaan di tahap bagian awal tapi akan ada perbedaan cukup mencolok di bagian tengah menuju atas. Setidaknya ini bisa dimengerti khususnya karena pergolakan situasi yang berbeda dan pengambilan hukum yang mengacu atas letterleck sejarah ataupun atas pengalaman langsung pergulatan politik. Anda bisa bayangkan selama 8 dekade, IM selalu jatuh bangun khususnya di negerinya sendiri.

Untuk sarana tiap tujuan atau tiap tahapan juga dijelaskan dalam bab selanjutnya. Baik point untuk person maupun jamaah. Setidaknya point-point yang bersifat ruhiyah masih bisa terus dipakai, hanya saja terkait cara tertentu berkaitan dengan strategi tentu di tiap negara akan memiliki permasalahan dan solusi yang berbeda. Anda tidak bisa membayangkan misalnya, bahwa di Malaysia belum ada partai yang secara fikrah mengusung ide IM, karena partai Islam (ulama) sudah ada terlebih dahulu sebelum pemikiran IM tersebar disana. Berbeda pula jika melihat di Tunisia, partai dipisah dengan jamaahnya. Di Indonesia? Anda bisa merasakan sendiri.

Bab 6, penulis membawa penjelasan atas tahapan seperti ta'rif, takwin, tanfidz. Mulai dari penjelasan pengertian hingga apa yang harus dilakukan di masing-masing itu. Pertanyaannya, ada dimanakah Anda?

Kita juga harus berpikir bahwa ketiga ini akan terus berlangsung dan berkelanjutan. Meski dalam Risalah-risalah pendiri gerakan secara marhalah, jamaah sudah memasuki usia yang matang, tentu dengan kualitas dan kuantitas serta pengalaman dan pergulatan yang terjadi. Itulan mengapa integralitas ditekankan penuh oleh penulis.

Penjelasan rukun bai'at ada dalam bab selanjutnya termasuk penjelasan wajibatul akh. Yang sebenarnya ada 40 point, namun belum dibahas semua dibuku ini. Selengkapnya ada di risalah Ta'alim.

Next, terakhir di bab 8, penulis menambahkan uraian pelengkap. Berkaitan dengan kaidah yang sesuai dengan tabiat dakwah. Kompilasi lengkap terkait ini sebenarnya bisa Anda dapatkan dalam seri Fiqh dakwah karya Syekh Mustafa Mashyur yang sudah diterjemahkan pula baik oleh Era maupun al-i'tishom. Di bagian selanjutnya ialah penjelasan berkaitan dengan peringkat keanggotaan. Ini sebenarnya menjadi privasi apalagi di pebahasan berikutnya ialah berkaitan dengan penjelasan metodologi. Anda bisa saja dibuat pusing dengan bab ini. Karena itu memang ditujukan untuk para anggotanya dengan berbagai peringkat. Tidak masalah Anda bingung. Kebingungan terjadi karena Anda tidak tahu. Itu jawaban simpelnya.

Sekian ocehan dari bakul buku.

Untuk pemesanan dan pembelian bisa langsung ke Omah Literasi atau @bookstoregaza

Wa: 085740199965 (Gaza Group)

Atau klik link di atas

Kamis, 12 Juli 2018

Ketika Anda ditanya, apa "fikrah" yang kalian bawa?

Ketika Anda ditanya, apa "fikrah" yang kalian bawa?
(Tulisan untuk kader KAMMI secara khusus dan Aktivis Dakwah Kampus secara umum)

Oleh:
Viki Adi N


Mari belajar dari seorang A. Hassan, tokoh besar yang tidak dipisahkan dari Persis (Persatuan Islam). Setidaknya kontribusi pemikiran dan "pembongkaran" pembelajaran efeknya bisa sampai di tangan kita sekarang. Kita bisa membaca buku "agama" dengan bahasa Melayu (baca: Indonesia) dan terjemahan al-Quran, jurnalisme agama, tidak terlepas dari kiprah satu tokoh ini.

Kalaulah dulu pembelajaran agama hanya dan harus ditemukan dalam pesantren atau mendaras pada seorang ahli. Kini ribuan bahkan jutaan eksemplar karya bisa dibaca sendiri dan untuk mendiskusikannya dalam ruang terbuka adalah hal yang biasa. Terbukti dengan maraknya kajian ada dimana-mana.

Menjadi perhatian utamanya ialah dengan mudahnya akses saja, seharusnya seorang "aktivis muslim" bisa memanfaatkannya dengan baik. Orang awam saja memanfaatkannya, apalagi yang katanya berlabel aktivis?

Perilaku dan karakter terbentuk atas apa yang ia biasakan utk dilakukan. Dan ia akan terbentuk dari sebuah pemikiran, dan pemikiran akan terbentuk dari banyaknya ia membaca. Mulai dari membaca peristiwa, alam, buku, dan apapun hingga  firasat mampu ia bentuk dengan pembacaan pandangan ke arah depan. Tentu ini bukan hal mudah.

Maka kenapa konsep "ikhsan" ada di dalam Islam? Ya, itulah hasil dari daya pembacaan tingkat tinggi. Ia memadukan akal, hati, pengetahuan, perbuatan dan keimanan.

Hingga konsep "wihdatul wujud" tidak sepenuhnya salah jika kita melihat dari perspektif "ikhsan" seperti paparan Syed M. Naquib al-Attas, bukan perspektif kesatuan wujud "Aku dan Tuhan" karena konsep ini bisa menjatuhkan manusia pada konsep bahwa "aku adalah Tuhan". Inilah yang membuat para Walisongo menjatuhkan hukuman mati dan kafir kepada Syekh Siti Jenar.

Konsep membaca tidak bisa disederhanakan hanya dengan membaca buku saja.

Tapi tulisan kali ini barangkali ingin sejenak mengupas satu sarana ini. Kita harus berterima kasih kepada A. Hassan sebagai salah satu tokoh yang mendobrak kejumudan ini.

Saya kira judul di atas tidak akan ditanyakan dengan _letterlejk_ oleh orang lain. Pastinya oleh kalangan sendiri hanya untuk sekedar menguji. Anggaplah seperti itu.

Namun inilah salah satu pertanyaan mematikan yang jarang tidak bisa dijawab oleh kadernya sendiri. Saya dapati real ketika melakukan "sertifikasi" menuju AB1 di KAMMI.

Dan tulisan ini juga tidak akan membahas itu, karena toh saya telah menuliskannya di buku Recharge Semangat Dakwah atau lebih panjang di buku Untukmu Muslim Negarawan.

Kalaulah KAMMI masih membandingkan konsep iqomatuddin melalui salah satu gagasan yang diletakkan oleh Imam Hasan al-Banna (Pendiri Ikhwanul Muslimin). Tentulan karya-karyanya seharusnya menjadi perhatian bagi kadernya.

Meski seperti kata Tariq Ramadhan ketika wawancara dengan gatra, "Ikhwanul muslimin punya manhaj (metodologi khusus). Bukan untuk kekerasan, melainkan pembaruan masyarakat. Jika Anda mengikuti manhaj Ikhwanul Muslimin, tak bisa Anda menirunya begitu saja. Jangan taklid, kita harus punya jawaban yang baru untuk realitas yang baru".

Tentu inilah mengapa nuansa serta kepahaman terhadap sejarah bangsa Indonesia serta potensi yang dimiliki negeri ini, menjadi kompetensi yang harus dipahami oleh kader KAMMI.

Kekuatan fikrah dan keindonesiaan inilah dengan disertai kepahaman tentunya, yang menjadi kekuatan serta daya lenting seorang kader.

Lalu bagaimana pengkajian ini - minimal kalangan kader dakwah (ADK) - di kampus? Masih ada? Terasa? Atau hampa?

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini pertama di post di:
https://gazalibrarypublishing.wordpress.com/2018/07/08/ketika-anda-ditanya-apa-fikrah-yang-kalian-bawa/