Sabtu, 17 Maret 2018

Buku Untukmu Muslim Negarawan

Sebuah epik Untukmu Muslim Negarawan



New Arrival

Untukmu Muslim Negarawan - Berhikmah dari Buku Perjalanan

Penulis: Viki Adi Nugroho
Penerbit: Gaza Library Publishing
Tahun: 2018
Jml Hlmn: xi+212
Foto Sampul: Sri Lestariningsih, Rais Ikhlas, Briliant
Desain Sampul: VAN Art
Puisi: Dena Vidia dan Yuyun Wijayanti
Harga: Rp 65.000, 00 (Belum termasuk diskon)

Karya ini mencoba mengambil potret peristiwa juga situasi kondisi sebagai latar. Mengambil hikmah bahkan menemukannya adalah sebuah keberuntungan bagi seorang muslim. KAMMI menjadi gerakan mahasiswa muslim yang akan selalu dituntut untuk hidup dalam berbagai pusaran zaman. Ketika daya lenting tidak dimiliki untuk selalu menghela nafas dan menjaga nafas, maka kemunduran bahkan kehancuran menjadi hal yang pasti.

Muslim Negarawan merupakan akumulasi dari nilai perjuangan seorang da'i untuk mengantarkan umat ini, bangsa ini, negeri ini, agama ini, ke dalam kemenangan abadi dan hakiki. Merupakan karakter perpaduan dari berbagai akhlaq Islam dalam konteks real kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Muslim Negarawan akan melihat apapun di depanya dengan rasa optimis, ia berusaha berprestasi di tengah keterbatasan yang dimiliki. Dan inilah pahlawan yang dibutuhkan oleh Indonesia masa depan.

Selamat berhikmah, berhikmah dari buku perjalanan.

Pemesanan/ Reseller untuk buku ini bisa melalui: 085743640193 (Ariadi)
ig: @gazalibrary ; @gazabookstore

Selasa, 13 Maret 2018

Download Ebook We are Wolves - Terjemah Lengkap 24 Pasal Protocol of Zion

Bismillah...

Assalamualaikum Sahabat-sahabat semua,
semenjak keluar film tentang Sultan Abdul Hamid II, seorang khalifah Turki Utsmani terakhir sebagai penjaga Bulan Sabit, saya kembali teringat akan sepak terjang gerakan yang telah membungihanguskan Islam dari peredaran peradaban. Sebuah gerakan yang tentunya hari ini sudah menjelma menjadi sebuah negara. dulu hanya sebuah mimpi, namun kini real di depan mata. Saudara-saudara kita di Palestina menjadi saksi setiap hari. Doa selalu kita panjatkan semoga Alloh senantiasa menguatkan kesabaran dan semangat berjuang, dan kita yang disini selalu membantu dengan apa yang bisa kita lakukan.

Selain buku Zionisme Gerakan Menaklukan Dunia karya Z.A. Maulani, kali ini saya ingin membagikan sebuah buku yang cukup fenomenal, Ya! terjemahan atas protokol Zionis.
Semoga bermanfaat, dan mampu menyadarkan kita, setidaknya, membuat kita berpikir ulang untuk menguatkan gandengan dalam sebuah rantai Islam berupa akidah yang kuat dengan dai sebagai pekerjaan kita, amal jamai sebagai gerbong kita.

Silakan ada dua link,

Pertama, via 4shared, jangan lupa buat akun dulu ya, kecuali yang sudah punya, tinggal log in aja


Kedua, via mediafire, biasanya tanpa harus membuat akun dulu


Saya haturkan terima kasih kepada yang telah membagikan ini, mohon maaf belum saya cantumkan sumber mendapatkannya, karena terlupa, mungkin sudah agak lama karenanya.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Senin, 05 Maret 2018

Akankah kita tertunduk dan layu?




Akankah kita tertunduk dan layu?

Oleh Viki Adi Nugroho
(Penulis Buku Recharge Semangat Dakwah, Ketua PK KAMMI UNY)

“Tetaplah di posisi kalian dan jagalah sebelah belakang kami. Jika kalian melihat kami menang, jangan pernah turun dan mengikuti kami. Jika kalian melihat kami kalah dan terbunuh, jangan menolong kami,” salah satu pesan Nabi SAW pada 50 pemanah di perang Uhud. Sebuah pesan yang fenomenal dalam rentang sejarah Islam. Perang yang cukup berat dimana sahabat-sahabat terbaik berguguran demi melindungi Rasulullah SAW. Kesabaran menjadi ujian di balik kemenangan yang mulai merekah di episode awal.

Anggap saja Anda sedang melakukan trading – sebuah istilah yang digunakan orang dalam memprediksi nilai mata uang – dalam rentang waktu satu hingga dua menit. Anda mendapat prediksi yang benar dan jumlah uang naik. Terus itu berjalan sehingga emosi yang hadir, kegembiraan yang datang melonjak membuat Anda terus melakukan trading. Namun sayang, emosi tidak bisa dikendalikan. Kesabaran dan anggapan “besok masih ada hari”, tertutup oleh awan keinginan mendapatkan banyak uang. Libaslah tetiba itu,  uang habis atas ketidaksabaran, kerugian melanda, stres menjadi. Terlepas dari kontroversi bisnis ini baik ditinjau dari sisi manapun. Kita akan dibawa pada penuaian hikmah besar. Kiranya perang Uhud menjadi nilai penting dalam sejarah umat Islam. Alloh menguji kesabaran, mampukah ia tidak tunduk pada emosi? Pada nafsu memburu?

Pasukan memanah turun, kecuali Abdullah bin Jubayr dan sepuluh orang lainnya masih tetap teguh di posisinya karena mengingat pesan Rasulullah SAW. Khalid yang kita ketahui waktu itu masih musyrik segera membalikkan keadaan, kaum muslimin yang sudah memukul kaum musyrik dan berpesta memenggal leher, tetiba dikejutkan dengan serangan pasukan berkuda Khalid dari arah yang tiada disangka. Pasukan pemanah di bukit Uhud pun terbantai. Keadaan berbalik. Kemenangan sesaat tergantikan oleh keganasan dan kebiadaban. Hamzah tak pelak menjadi korban, juga duta Islam pertama Mush’ab bin ‘Umayr, serta beberapa sahabat terbaik lainnya. Bahkan hingga Rasulullah terperosok dan banyak sahabat yang disampingnya rela berkorban demi selamatnya junjungan Alloh SWT. Desas-desus terbunuhnya Rasulullah sempat tersebar sehingga menyiutkan nyali kaum muslimin hingga akhirnya Rasulullah berteriak untuk menyemangati kembali pasukan. Perang ini berakhir dengan kemenangan sementara kaum musyrik, disebabkan putus asanya mereka dari tujuan membunuh Rasulullah SAW.

Di saat sakit menyayat, luka yang masih menoreh, baik luka fisik sampai luka batin. Lantas tidak menyurutkan semangat pada diri Rasulullah SAW. Meninggalkan Uhud Sabtu petang,malam hari beristirahat di Madinah. Usai sholat Subuh di hari Minggu, Rasulullah SAW memerintah Bilal untuk memanggil para sahabat dan dperintahkannya untuk berlari dan bergegas kembali dalam sebuah ekspedisi perang mengejar musuh. Tiada yang boleh ikut selain yang ikut dalam perang Uhud. Hingga sampailah pada daerah Hamra’ al-Assad. Hingga dikenallah peristiwa ini dengan perang Hamra’ al-Asad.

Pada Malam harinya, pasukan ekspedisi ini meyalakan api unggun besar yang terlihat jelas dari kejauhan. Tentu dengan tujuan agar kaum musyrik mengira bahwa pasukan muslim kembali dengan jumlah yang sangat dan lebih banyak lagi untuk siap bertempur. Ma’bad – yang waktu itu juga masih musyrik dari Khuza’ah – lewat dan melihat pasukan muslim, ia tercengang. Lalu ia juga melewati pasukan musyrik dan mendapati hal yang ganjil, dimana mereka tengah bersenang-senang karena kemenangannya di Uhud bahkan berencana ke Madinah untuk menghabisi kaum muslimin. Ya! Anda bisa menebak tentunya. Rencana itu gagal. Waktu itu, Abu Sufyan menangyakan perihal kaum muslimin pada Ma’bad. Lalu apa yang dikatakannya? “Celakalah kalian! Muhammad dan para pengikutnya keluar mengejar kalian dalam jumlah yang sangat besar. “Tak pernah aku melihat pasukan sebanyak dan sebesar itu. Mereka bergerak dengan persenjataan dan perlengkapan lengkap. Aku pun tak pernah melihat pasukan selengkap itu!”

Rasa takut menyelimuti kaum musyrik, kegembiraan berubah menjadi ketakutan dan was-was. Alloh memasukkan rasa takut pada hati mereka. Akhirnya merekapun kembali.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah epik yang indah. Pasca kekalahan bukan kemudian meratapi, namun kembali bangkit untuk tidak tunduk dan layu. Di saat luka menganga, Rasulullah SAW malah memerintahkan untuk kembali berlari. Hakikat kemenangan hadir, eksistensi kekuatan umat tercipta kembali. Ruh keimanan dan penyiapan materi menjadi kunci-kunci kebangkitan.

Kehidupan yang serba tiada menjanjikan dalam era kini seharusnya bukan membuat kita tertunduk dan layu. Peristiwa yang terus melanda negeri kita, juga tak seharusnya menyiutkan nyali bagi kita untuk kemudian diam, karena diam tak selalu emas! Itulah yang dilakukan oleh Rasul dan sahabatnya. Mereka tidak tunduk dan mengekor pada “penguasa” Mekkah. Mereka tidak tunduk pada “penguasa” dunia yang hanya sementara. Mereka percaya bahwa Alloh SWT akan menolong mereka sesuai janji Rasul-Nya.

Halangan dan ujian yang besar, apalagi di era kini. Kudu menjadikan kita lebih kreatif dalam mengemas dan “menyajikan” dakwah. Kalaulah Mansur, pimpinan Muhammadiyah di era Orde lama mengingatkan Soekarno bahwa pemimpin yang dia sudah tidak menerima masukkan dan saran lalu ia marah, maka sejatinya ia bukanlah pemimpin yang sedang didambakan bahkan akan menjadi hal yang berbahaya, apalagi jika yang mengingatkan ialah para ulama.

Semoga diri kita yang sejatinya ialah pemimpin mampu mengambil mutiara hikmah ini. []

Sabtu, 27 Januari 2018

Nun Jauh diatas Mimpi

Nun Jauh diatas Mimpi

Oleh: Viki Adi Nugroho



Menghimpun sekutu. Pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir menemui suku Quraysh. Tak usah ditebak. Kumandang perang ditabuh. Provokasi memerangi umat Islam bergemuruh. “Kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik dari pada agama Muhammad”. Sontak terjadilah kesepakatan. Begitupula suku Ghatafan, bani Fuzarah dan bani Murrah. Hingga total 10.000 pasukan siap menggempur Madinah.

Ketika kabar ini kemudian Rasulullah dengar, lantas pula, musyawarah digelar. Salman Al-Farisi menawarkan ala perang yang berbeda. Parit, sebut saja. Penggalian Parit yang melelahkan itu. Di musim Paceklik pula. Bukan menyurutkan. Semangat makin berkobar. Meski dari orang-orang munafik kian menampakkan keengganannya.

Berlangsulah penggalian. Suatu ketika, para sahabat menggali dan menemukan batu putih. Saking kerasnya, tak bisa dipecah. Salman pun tak mampu. Rasulullah ikut terlibat. Mulailah untuk memecah. “Bismillah”, ucap Rasul. Dihantamkan cangkul, dan pecahlah sepertiga beserta kilatan cahaya. “Allohuakbar, aku telah diberi kunci-kunci negeri Syam, demi Alloh sesungguhnya aku dapat melihat istananya yang merah dari tempatku ini”.

Hantaman kedua, “Bismillah”, kilatan keluar serta pecah kembali sepertiganya. “Allohuakbar, aku telah diberi kunci-kunci negeri Persia, demi Alloh, sungguh aku melihat istana Madain yang putih sekarang ini”. Menghantamkan ketiga kalinya, “Bismillah”, pecah dan keluar kilatan. “Allohuakbar, demi Alloh aku telah diberi kunci-kunci negeri Yaman, demi Alloh sungguh aku melihat saat ini Shan’a dari tempatku ini”.

Seolah khayalan, bahkan impian ini sangat jauh. Mekkah saja, sebagai ‘tetangga sebelah’ belum beriman. Di tengah panasnya gurun serta sedikitnya bahan makanan. Bahkan perut hanya berisi ganjalan-ganjalan batu. Janji manis datang bagaikan mimpi di tengah siang bolong. Bayangkan saja diri Anda sedang tidak punya uang dan keluarga sedang terbaring di rumah sakit, tiba-tiba ada pesan masuk, “Selamat Anda mendapatkan 10 juta, klik link berikut...”. Saya kira Anda tidak akan percaya hal seperti itu di era kini. Tapi tidak bagi para sahabat. Rasa optimis itu hadir lantaran sinar keimanan.

Kaum muslimin yang hanya berjumlah 3000 pasukan. Tiba-tiba berbinar. Ada kilatan kebahagiaan. Bukan sekedar khayalan. Namun keyakinan dan cita besar. Semua percaya, apa yang dikatakan Rasul adalah kebenaran.

Disini kita perlu memahami bahwa bicara keyakinan bukan sedang berbicara hal sepele. Keyakinan besar merupakan sebuah tahapan awal yang harus dibangun untuk mewujudkan cita besar dan visi besar. Begitulah Rasulullah mengajarkan umatnya. Berkeyakinan tajam dan kuat menghujam. Visioner, melihat ke depan, dengan jangkauan yang tiada batas. Keyakinan dibarengi cita besar. Sebuah penghikmahan dari sejarah Sang Teladan.

Inilah yang harus kita petik. Rasul kita mengajarkan optimisme. Hingga akhirnya, percikan kilatan mulai terealisir. Meski dalam sejarah, Rasulullah sendiri tidak mengalaminya. Artinya penaklukan-penaklukan itu terjadi setelah Rasulullah wafat. Persia tersentuh. Bahkan dari wilayahnya ada yang pernah dijadikan sebagai ibu kota. Yaman, tersentuh pula. Syam, yang mungkin hari ini kita ketahui sebagai Palestina, Lebanon, Yordania dan sekitarnya. Juga menjadi negeri yang Rasulullah janjikan, hingga era Utsmani dan pergiliran kekuasaan Alloh putarkan.

Mengertilah kita bahwa visi dan cita dakwah ini tidak serta merta selesai oleh satu generasi. Tidak serta merta selesai dalam ukuran usia individu, namun jauh menembus usia bangsa bahkan usia peradaban. Lalu pertanyaannya, dimanakah kita berada saat ini.

Perjalanan sekilas di atas mengajarkan kita untuk berjuang, dan terus berjuang. Keyakinan akan cita besar merupakan anak-anak karakter seorang Muslim Negarawan. Bahkan nun jauh diatas mimpi. []

Jumat, 29 Desember 2017

Lesunya Dakwah Kampus

Lesunya Dakwah Kampus




KAMMI lahir pasca sidang FSLDK ke X ditutup,  sehingga dari sejarahnya saja kita akan mengetahui bahwa KAMMI dilahirkan oleh aktivis dakwah kampus yang berbasis di masjid-masjid kampus di era orde baru. Maka menjadi aneh ketika kader KAMMI bahkan KAMMI itu sendiri sudah tidak mau memikirkan dakwah kampus itu sendiri dan sebaliknya, menjadi aneh juga ketika aktivis dakwah kampus tidak berterima dengan KAMMI. Begitu pula, tidak perlu kita naifkan, bahwasanya memang basis massa KAMMI sendiri adalah di kampus atau komisariat-komisariat yang ada di kampus.

Dari sisi sistem pengkaderan saja, KAMMI memiliki daya tawar yang mapan. Maka tawaran ini sebenarnya mampu untuk menciptakan para ‘petarung’ sejati bagi dakwah itu sendiri, apalagi dalam ruang lingkup kampus. Maka ketika kader-kader KAMMI menyebar dalam lembaga intrakampus sebagai aktivis dakwah kampus, selain untuk mengkader, nilai-nilai kebaikan yang dibawa itu pula yang diharapkan mampu mewujudkan suasana ‘keislaman’ dalam lingkup kampus atau kita menyebutnya dalam civitas akademika. Bukan hanya sekedar sebagai oposisi belaka seperti yang sering digaungkan oleh banyak gerakan mahasiswa, namun lebih dari itu. Bagi KAMMI dan kader-kadernya, mendukung atau oposisi itu hanya bagian dari strategi saja, bukan ‘keabadian’, karena indikatornya jelas, apakah itu kebenaran atau kebathilan.

Lesunya dakwah kampus yang ada di era ini, mulai dari kurangnya pemahaman terhadap manhaj dakwahnya sendiri, daya tawar mahasiswa yang dikatakan mulai minus, budaya intelektual yang mulai menurun, hingga hal-hal yang berkaitan dengan teknis seperti masalah indisiplin dalam pertemuan menjadi hal yang menghinggapi para aktivis dawah kampus. Apalagi di era yang serba mudah ini. Bukannya disikapi dengan bijak, namun malah terlalu memudahkan.

Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj perjuangannya
Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj perjuangan menjadi kewajiban bagi setiap kader KAMMI, bisa kita lihat pada kompetensi atau kita kenal sebagai Indeks Jati Diri Kader KAMMI. Dalam proses evaluasi (baca: sertifikasi) untuk mendapatkan status Anggota Biasa 1 (AB1) saja. Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj ini harus bisa dikatakan “lulus” dan tuntas tentunya ketika akan berlanjut menempuh jenjang berikutnya (Anggota Biasa 2/ AB2). Menjadi barang aneh, ketika kader KAMMI ketika ditanya, apa fikrah kalian? Kemudian mendongak keatas atau menunduk dan hening. Lalu selama ini, apa yang kemudian mampu membuat kita bergerak ketika dalam hal ‘dasar’ ini saja kita belum mengetahui atau bahkan tidak yakin dengan fikrah kita sendiri? Atau jangan-jangan kita sendiri tidak memahami apa itu fikrah yang KAMMI maksud?

Seperti yang pernah saya paparkan dalam tulisan saya pada buku Recharge Semangat Dakwah, bahwa fikrah tidak hanya berbicara pemikiran, tidak hanya sekedar berbicara tentang tsaqofah (wawasan) saja, namun fikrah lebih dari itu, ia mampu membuat otak, akal, hati, tulang punggung, seluruh jiwa, anggota badan, untuk senantiasa bergerak dan terus bergerak dengan konsisten dan komitmen menuju apa yang menjadi cita-citanya, menjadi impiannya, sesuai apa yang menjadi firman-Nya.

Maka secara signifikan, fikrah ini bisa kita lihat dalam buku induknya pada Risalah Ta’alim oleh Imam Hasan Al Banna, sebuah risalah yang ditujukan kepada segenap aktivis dakwah yang ia memang siap untuk memikul amanah-amanah besar ke depan. Maka dalam risalah ini kita akan berbicara tentang Arkanul Bai’ah (Rukun Bai’at). Dimana dimasing-masing rukun tersebut masih ada penjelasan turunan-turunannya. Selian itu, lebih terang juga ada di Risalah Muktamar al-Khamis dengan delapan fikrah Ikhwanul Muslimin. Lalu, kita sebagi kader KAMMI, masih terasa asingkah dengan Risalah ini? Lalu apa yang selama ini menjadi landasan kita bergerak dalam dakwah ini?

Kepahaman terhadap fikrah ini, seperti tertuang dalam rukun yang pertama, Al-Fahmu (Paham), dalam rukun ini terdapat Ushul Isyrin (20 Prinsip) yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh aktivis dakwah. Dimana salah satunya ialah berkaitan dengan Syumuliyatul Islam (Kesempurnaan/ Kemenyeluruhan agama Islam). Dari sinilah kemudian kita mulai bergerak dengan kepahaman, itu mengapa pula kemudian kita mau-maunya untuk berdakwah, bergerak, masuk kepada lembaga, institusi, berbagai civitas akademik, bergerak dengan terpadu, terkoordinir ke dalam semua ranah dan aspek kehidupan yang ada. Bukankah karena kita memahami fikrah ini? Ini baru salah satu saja.

Pada manhaj dakwah kita pula, hakekat dan tujuan dakwah haruslah dipahami oleh semua kader KAMMI. Bahwa kita mengetahui, tujuan dakwah bukanlah kemenangan semata, tujuan dakwah bukanlah untuk itu saja. Maka alangkah indahnya ketika Syekh Mustafa Mashyur mengatakan dalam Fiqh Dakwahnya (2013: 5),

“Sebelum melangkah jauh, satu hal yang harus kita perjuangkan adalah menjadikan Alloh tujuan utama. Tiada satu pun yang dijadikan tujuan selain Alloh. Kita beriman kepada-Nya dan kita melihat-Nya pada segala sesuatu dalam hidup kita. Kita beribadah kepada-Nya dengan sepenuh hati dan kita mencari keridhoan-Nya di setiap aktivitas kita. Kita melakukannya dengan penuh ikhlas dan yakin bahwa di sanalah terletak kebahagiaan sejati, sebenar-benar petunjuk, dan kemenangan hakiki. Alloh SWT berfirman: Maka segeralah kembali kepada (menaati) Alloh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Alloh untukmu. (Adz-Dzariyat: 50)”

Dari sini kita melihat, apa tujuan dakwah itu. Sekarang kita mengerti dan memang harus memahami ini sebagai prinsip yang harus dipegang teguh.

Adapun tabiat dakwah itu sendiri, masih dalam tulisan beliau (2013: 6),
“Jalan dakwah tidaklah ditaburi bunga-bunga, tapi sebuah jalan terjal yang sulit dan panjang. Jalan itu tidak mudah dilalui dan bukan jalan yang singkat. Jalan dakwah merupakan perseturuan antara yang haq dan batil. Ia menghajatkan kesabaran dan ketabahan karena beban yang berat. Ia memerlukan kesungguhan hati, jerih payah, dan menuntut banyak pengorbanan. Tidak boleh tergesa-gesa ingin mendapatkan hasil, namun tidak boleh mudah putus asa dan patah semangat. Yang dituntut dari dakwah itu adalah usaha dan amal yang kontinu, lalu biarlah Alloh yang menentukan hasilnya pada waktu dan keadaan yang Dia kehendaki. Bahkan mungkin Anda tidak dapat melihat hasilnya saat masih hidup karena Anda hanya diperintah untuk beramal dan tidak harus melihat hasilnya.”

Dalam rukun baiat yang kedua, ada rukun amal, sebagai kader KAMMI, kita juga harus paham terhadap tahapan-tahapan amal (maratibul amal) dakwah kita, dimulai dari islakhunnafs (perbaikan diri sendiri), takwiinu baytimmuslim (pembentukan keluarga muslim), irsyaadulmujtama’ (membimbing masyarakat), takhriirulwaton (pembebasan tanah air [dari penguasa asing]), ishlahul hukuumah (memperbaiki keadaan pemerintah), i’datulkiyaaniddawliyyi lil ummatil islaammiyah (usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemashlahatan umat islam), dan ustadziyyatul ‘alam (penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah islam).

Mengapa kita perlu memahami ini? Karena dalam manhaj kita ini, dakwah kita adalah dakwah yang bertahap, dakwah yang gradual, tidak sporadis dan anarkis. Hal ini juga agar kita sebagai kader KAMMI mengetahui bahwasanya apa yang dilakukan kita di kampus juga bagian dari tahapan-tahapan dalam maratibul amal ini. Sehingga apa yang kita susun, apa yang kita lakukan, bukan sekedar amal sesaat saja, namun amal yang merupakan bagian dari jangka panjang untuk menyiapkan proyek besar, proyek peradaban islam tersebut.

Pertemuan-pertemuan yang mulai indisiplin
Pertemuan-pertemuan di era digital ini, seolah bisa digantikan hanya dengan berkomunikasi di medsos saja. Ya, kita akui dan memang benar, zaman yang berbeda menuntut cara yang berbeda. Namun begitu pula kah dengan musyawarah-musyawarah kita? Saya kira berbeda ketika memang keadaan mendesak, genting, dan tidak memungkinkan. Sebut saja sebagai ‘rukhshah’.

Kita semua paham bahwa pertemuan secara langsung akan lebih menimbulkan kesan berarti. Selain pembahasan yang terang dan jelas, secara ukhuwah pun akan lebih ‘dapat’. Sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Pertemuan secara langsung juga akan menghilangkan prasangka-prasangka yang tidak baik, klarifikasi juga menjadi lebih jelas, serta lebih mudah untuk meluruskan berbagai pemahaman yang berbeda terhadap sebuah kebijakan.

Pertemuan-pertemuan ini juga bisa menandakan ‘militansi’ kader, tingkat kedisiplinan akan terlihat jelas. Apakah siap menyambut seruan, baik dalam keadaan sedang lapang maupun berat. Pertemuan juga dapat mengetahui ketika ada kader-kader yang memang sedang ‘bermasalah’. Mari kita cek dalam pertemuan rutin saja, seberapa besar presentase kehadirannya dalam segi kelengkapan personil?

Kita perlu mengetahui bahwa pertemuan-pertemuan (baca: musyawarah) menjadi hal tsawabit (prinsip tetap) dalam dakwah kita. Rasulullah senantiasa mencontohkan hal ini, bahkan Beliau selalu meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Hingga kita masih ingat ketika perang Uhud diputuskan untuk diluar Madinah, ini karena keinginan sebagian besar sahabat dan kemudian diputuskanlah kebijakan tersebut. Meski akhirnya, kekalahan yang didapatkan. Tentu Alloh SWT ingin memperlihatkan berbagai hikmah dalam peristiwa ini. Setelah keputusan ditetapkan, maka tiada lain adalah ketaatan untuk melaksanakannya. Maka, bagaimana dengan pertemuan-pertemuan kita?

Daya tawar gerakan mahasiswa di depan birokrasi kampus
Ini yang kian hari kian menurun. Daya tawar gerakan mahasiswa kian menurun di mata ‘penguasa’ kampus. Efek ancaman Drop Out menjadi senjata ampuh ketika dihadapkan pada hal ini. Efek tuduhan pencemaran nama baik juga menjadi salah satu kiat untuk menjerat berbagai tulisan dan opini yang dibangun dalam mahasiswa baik sebagai mahasiswa itu sendiri apalagi sebagai representasi dari sebuah gerakan, atau juga dalam pers mahasiswa itu sendiri. Seperti beberapa kali kerap terjadi yang cukup ramai dikabarkan dalam media di negara kita.

Kalau seandainya berbicara ideologi, memang sudah selesai, semua gerakan sulit untuk menemukan titik temu. Namun saya kira, masih banyak isu besar di kampus masing-masing yang masih memiliki titik persamaan. Misal saja isu Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT), yang kian waktu kian mulai besar gerakan perlawanannya di kampus-kampus. Sebenarnya ketika berbagai gerakan ini mampu menyatukan sebagai isu bersama dan mampu memberikan tekanan dalam hal ini birokrasi untuk menyelesaikan masalah ini. Maka ‘daya tawar’ gerakan di mata ‘mahasiswa umum’ menjadi ‘pahlawan’ dan di mata birokrasi, gerakan mahasiswa dinilai punya ‘kekuatan’ massa, yang mampu menggiring opini mahasiswa. Semua diuntungkan, baik dari mahasiswa umum maupun gerakan mahasiswa itu sendiri.

Maka ketika daya tawar ini muncul kembali, setiap kebijakan yang akan dikeluarkan oleh birokrasi, akan lebih berhati-hati. Karena mereka tahu bahwa gerakan mahasiswa ada di depan mereka. Peran-peran strategis inilah yang hari ini harus dibangun kembali. Sekali lagi bukan hanya oposisi laten, namun memposisikan diri dalam sifat ‘moderat’. Indikatornya jelas, menyengsarakan atau tidak, kebatilan atau kebaikan. []

Format Gerakan Baru di Era (mirip) Orde Baru?

Format Gerakan Baru di Era (mirip) Orde Baru?

Tulisan ini sudah lawas di laptop, ketika isu yang berkembang di negeri ini ialah berkaitan dengan pro kontra Perppu Ormas. Apalagi dengan simpang siur tujuan dan agenda.

Keterbatasan saya, adalah saya tidak merasakan masa pemerintahan orde baru, namun mengalami, karena saya lahir di tahun 1994, mengalami masa balita di akhir rezim orde baru. Sehingga mungkin tulisan ini lebih tepat dikatakan dari pengalaman ‘pembacaan’ literasi yang ada terkait orde baru yang kemudian merasa bahwa masa yang sedang terjadi ini mirip-mirip seperti yang terjadi dahulu di era orde baru.

Namanya saja mirip, maka tidak persis sama. Namun ada hal-hal yang mirip, meski di era yang berbeda. Pembubaran ormas HTI (Hizbuth Tahrir Indonesia), ini pernah kita lihat terjadi di era orde baru yaitu pembubaran PII (Pelajar Islam Indonesia). Sama-sama dibubarkan karena dianggap “radikal”, serta sama-sama pula karena “islam”nya. Selain itu di masa-masa ini pula, pengangkatan isu radikalisme dan terorisme benar-benar digencarkan, bedanya kalau era orde baru lebih pada asas tunggalnya. Meski beda, namun ya mirip-mirip. Sehingga ada kesamaan “radikal” bahwa yang tertuju adalah islam itu sendiri. Anehnya, komunisme yang menjadi pelarangan justru sepertinya tidak terlalu menjadi bahan perbincangan dalam terorisme dan radikalisme di era kini, meski dalam sejarahnya, pembubaran PKI (Partai Komunis Indonesia) dilakukan. Dimana kita tahu pembubaran dilakukan ketika kudeta dan pemberontakan setelah berkali-kali terjadi.

Dengan adanya Perppu ini, maka semua ormas, khususnya ormas Islam sebenarnya tidaklah menjadi ‘aman’, bahkan sekelas ormas besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, tidak mungin tidak, bisa saja terkena Perppu ini. Bahkan setelah HTI dibubarkan, tercatut enam ormas lagi yang akan dibubarkan. Sekali lagi, pendifinisian terorisme dan radikalisme menjurus ke islam itu sendiri. Lalu bagaimana dengan KAMMI?

Bukan barang aneh tentunya, bisa saja KAMMI juga terkena Perppu ini. Karena KAMMI juga tercatat sebagai organisasi Islam, organisasi kepemudaan. Lalu melihat era seperti ini, apakah gerak KAMMI akan berubah haluan? Dari yang lantang bersuara kemudian diam tak bermakna? Dari yang turun ke jalan lalu bercuit di medsos saja? Dari digebug secara fisik menuju penggebugan media sosial dan diperkarakan melalui pencemaran nama baik? Atau seperti apa?

Sama saja sebenarnya, mau mengubah haluan atau tidak, sama-sama terancam. Tingkat resikonya saja yang berbeda. Namun saya kira, dengan pemahaman hakekat dan tujuan dakwah kita yang sudah jelas digariskan oleh manhaj kita. Tidak akan pernah terbesit oleh KAMMI untuk mundur selangkahpun. Bahkan akan menjadi penyerunya yang paling lantang ketika yang lain diam membisu bahkan mengekor pada penguasa yang ada. Karena begitu jelas bagi KAMMI bahwa yang menjadi musuh adalah kebathilan, bukan sekedar gerakan oposisi – bahwa ketika memang pemerintah menjalankan kebijakan yang berpihak pada rakyat, maka KAMMI mendukung dan tetap mengkritisi – , bahkan ketika KAMMI itu dibubarkan, saya kira nama wadah bukanlah hal yang tetap, kader-kader KAMMI akan terus berhimpun sebagai anak-anak kandung dakwah, yang mengalir bersama dakwah itu kemanapun perginya. Tujuan kita lah yang tetap! Bukankah begitu?

Sehingga kalau hanya masalah mirip-mirip, apakah kita butuh format gerakan baru? []

Kamis, 05 Oktober 2017

Meminang Pahit, Mekar Kuncupnya*

Meminang Pahit, Mekar Kuncupnya*


Kecewa bukanlah pilihan seorang petarung & prajurit sejati, saudaramu menunggu penuh kelindan di tapal batas pengharapan

DIBALIK SOHORNYA nama Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, yang kita kenal sebagai Salahuddin Al-Ayyubi, ada tokoh besar yang mungkin luput dari pandangan kita. Entah karena memang tidak tahu, atau memang tidak mau mencari tahu. Dibalik semua itu, juga ada intrik yang menarik. Menjadi sebuah barang langka, sebuah fragmen apik bertabur hikmah.

Zengi, atau kita lebih mengenalnya dengan Zanki. Dua Zanki yang menyejarah hadir dalam sebuah kelesuan zaman. Hadir dalam sebuah arena yang sulit untuk bangkit, namun penuh optimisme menatap akan kemenangan. Karena ia yakin akan keagungan ajaran Islam. Pendudukan Jerusalem, pasca penaklukan lalu oleh umat islam, untuk kali pertamanya terjadi. Kota Suci yang memang disucikan oleh Islam, Yahudi dan Nasrani ini memang menjadi primadona tersendiri dengan berbagai alasan dibaliknya. Pendudukan ini lebih kita kenal sebagai Perang Salib. Pasca 1099 Masehi, tak banyak yang bisa dilakukan oleh umat Islam. Perpecahan internal dalam tubuh umat Islam terus saja hadir di tengah gempuran Pasukan Salib.

Imaddudin Zanki, seorang penguasa kota Mosul, Irak, memulai perlawanan dengan menghimpun kekuatan Mosul dan Aleppo. Edessa menjadi target pertama, meski secara politik tidak berpengaruh besar, karena Edessa merupakan kota terlemah yang dikuasi oleh Tentara Salib. Namun dibalik inilah, kekuatan islam pertama kalinya akan berhimpun kembali ke depannya untuk melakukan perlawanan terhadap Tentara Salib.

Penghimpunan kekuatan dilakukan oleh Zanki, dimulailah dari persatuan Suriah. Namun sayang, usahanya masih kandas, karena perang emir-emir kecil di sekitar daerah tersebut masih saja terus bergemuruh meski musuh dari luar ada di depan mata. Adapun Damaskus, tidak mau menyerahkan kekuasaannya, ia lebih memilih dirinya sendiri dibanding harus berjuang bersama. Hingga wafatlah Imaduddin Zanki.

PERJUANGAN TAK PERNAH BERHENTI, di tengah perpecahan yang semakin menjadi, muncullah sosok Zanki muda, yaitu anak dari Imaddudin Zanki, ia bernama Nuruddin Zanki. Zanki muda mengambil alih kepemimpinan ayahnya dan melanjutkan perjuangan untuk menyatukan Timur Tengah. Ia berhasil melakukan penaklukan di sekitar Antioch serta mampu menggulingkan emir Damaskus dengan bantuan rakyat yang memang sudah jengah terhadap perpecahan sementara musuh diluar sudah siap menerkam.

Bersatunya Suriah dan sekitarnya membuka harapan baru dan optimisme umat Islam, bahkan sinarnya merekah terlihat kian nampak. Tahu bahwa Suriah dan sekitarnya semakin kuat. Tetara Salib memutar otaknya, hingga akhirnya ia mengalihkan perhatian ke sebuah kota kuno, kota Fir’aun yaitu Mesir. Terjadilah peristiwa invasi itu sekitar 1163, diseranglah Kerajaan Fatimiyyah yang waktu itu masih menguasai Mesir.

Yakin tak dapat mengalahkan Pasukan Salib, wazir dari Kerajaan Fatimiyyah bernana Shawar, yang sebelum invasi telah digulingkan, meminta bantuan Nuruddin Zanki. Zanki muda merasa was-was, ada prasangka bercampur emosi. Akhirnya ia memutuskan untuk membantu demi persatuan Islam. Akhirnya digempurlah Tentara Salib, bahkan Shawar mampu menjadi wazir agung kembali.

Umat Islam melihat ini bisa menjadi sebuah “koalisi”, antara Suni Suriah dan Syiah Mesir. Namun jalan berkata lain, tak disangka, was-was Zanki menemukan suaranya. Shawar berbalik, ia mengadakan perjanjian dengan aliansi Pasukan Salib yang baru saja diperangi. Akhirnya Zanki terpaksa mundur ke Suriah.

Beberapa tahun kemudian Tentara Salib kembali menginvasi kota kuno ini untuk dijadikan sebagai wilayahnya. Shawar meminta Zanki untuk menolongnya, demi persatuan Islam. Zanki pun menerima tawaran tersebut. Ia bersama pasukannya kembali ke Mesir dan memukul Pasukan Salib dan merebut Mesir. Pasca kemenangan ini, Shawar di eksekusi karena telah berkhianat pada perjanjian sebelumnya. Lalu Mesir menjadi kekuasaannya, dengan menempatkan wazir baru yaitu Shirkuh. Pasca wafatnya Sirkuh inilah, yang nanti akan muncul sosok pelanjut Zanki untuk melawan Kesombongan Tentara Salib, Salahuddin Al-Ayyubi.

KITA TAK PERNAH BERPIKIR, bahkan menurunkan ego. Rasa kecewa Zanki muda atas pengkhianatan seharusnya sudah cukup untuk dijadikan alasan untuk ia tidak membantu Fatimiyyah di Mesir. Namun ia lebih memilih Persatuan Islam, ia lebih memilih persatuan. Ia lebih memilih menurunkan ego, menurunkan emosinya, demi sebuah persatuan. Orang secara umum juga pasti akan berpikir sebaliknya. Namun tidak bagi Zanki. Ia tau peluang ke depan, ia tahu kesempatan besar. Selain menurunkan ego pribadi, ia benar-benar mengetahui bahwa umat sedang membutuhkan kekuatan baru untuk mengalahkan musuh diluar dibawah persatuan Islam.

Ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Kecewa yang terjadi pada diri seorang, pada kelompok, pada organisasi, pada jamaah, bisa jadi karena sandaran kita bukanlah yang Maha Kekal, bukanlah Sang Pencipta. Kalaulah Zanki mendidik umat dengan persatuan Islam, apa yang sedang kita lakukan hari ini? Sedikit saja, tak perlu jauh-jauh bicara persatuan Islam. Bicara kelompok sendiri saja, masih saling hujat, masih saling menjatuhkan. Seolah kecewa pada pribadi menjadi masalah besar yang dampaknya dibawa pada kelompok.

Mereka tak berpikir bahwa diluar sana, umat sedang membutuhkan. Mereka tidak berpikir kalaulah serangan dari luar mengancam. Mereka tidak berpikir kalaulah momentum-momentum ke depan semakin terlupakan karen aintrik di rumah sendiri. maka Zanki muncul untuk menumbuhkan gairah baru, keluar dari kepenatannya, keluar dari ego nya, kelaur dari perasannya menuju logika dan jernihnya iman akan pengharapan Alloh dan persatuan umat. Ia memperbaiki dari yang kecil, menyatukan beberapa kota, bahkan hingga mampu menelurkan Sang Pejuang Al-Ayyubi. Zanki melihatkan kepada kita, meminang sebuah kepahitan, namun ia yakin kuncupnya akan bermekaran.

Hari ini, engkaulah Zanki itu? []

*Viki Adi Nugroho
(Seorang anggota KAMMI)

Tulisan ini dikutip dari draft naskah untukmu muslim negarawan (tunggu  untuk segera terbit)