Kamis, 10 Mei 2018

Sofisme Ketidakcocokkan

Sofisme Ketidakcocokkan
Ketika kantong semar bertemu serangga, ketika bunga bukan dihinggapi lebah


Oleh:
Viki Adi N


Entah apa artinya judul ini. Tidak perlu dipikirkan. Coba tebak saja. Saya teringat dulu tahun 2013 pertama kali mendapati buku inilah politikku diobral seharga 25rb karya fenomenal M. Elevandi yang kita kenal sebagai orang beserta alumni KAMMI mendukung ust. Anis Matta sebagai presiden serta dalam international campaign #saveTariqRamadhan dan #IndonesiaWithYou, pasti Anda tau kini siapa Beliau. Dalam buku tersebut di bagian awal, saya masih teringat ketika paparan tentang "12 naqib" yang mewakili masing2 suku atau klan dari Madinah untuk bertanggungjawab terhadap kelompoknya dan menyampaikan risalah Islam yang diemban. Saya sedang tidak berbicara politik seperti dalam dauroh siyasi atau training politik. Tapi tentang kata "naqib".

Ada apa dengan kata itu? Kalau Anda tidak atau jarang menemuinya, mungkin Anda kurang piknik, atau setidaknya Anda tidak pernah membaca Sirah Nabawiyah. Sofisme ketidakcocokkan muncul disini (seandainya istilah ini pas). Maka ini mewakili kerancuan keteladanan dan kebingungan.

Ok, kita sudahi ini. Ganti dengan kata lain, kalau Murabbi? Masih asing? Saya rasa tidak. Mungkin ini mewakili dalam istilah yang lain. Naqib atau murabbi atau mentor dalam sebuah sistem pendidikan, mengingat sistem pendidikan "sederhana" ini sekarang menjadi tumpuan dalam aktivitas "kebangkitan" gerakan. Saya tidak berkata dalam satu gerakan saja, karena pengembangan ini sudah jauh membesar. Menjadi primadona yang siap dipanen. Kumpulan-kumpulan sel terkecil inilah yang akan terus mengelompok jadi sebuah lingkaran besar kebaikan. Meski sekali lagi ini bukanlah konsep pendidikan yang bisa menahan "sekulerisasi Barat" dari hegemoni segala sistem dan menjungkirbalikkan secara radikal, namun setidaknya mampu membentengi dari cara pandang (worldview) yang tidak benar. Keberhasilannya pun tak semata pada manhaj yang digunakan beserta rentetan kurikulumnya, tapi juga dari seorang naqib atau murabbi atau mentor nya. Percaya? Saya juga tidak memaksakan untuk percaya.

Banyak yang di awal berharap besar namun di tengah menghilang. Bukan karena ingin berpisah dari sel namun karena merasa tidak cocok dengan para mentor ini. Ketidakcocokan bisa dikarenakan karakter yang "berbeda" bisa juga dikarenakan "kaidah dakwah" yang salah. Dulu saya mendapati kaidah ini dalam karya gemilang seorang Syekh Jumah Amin Abdul Aziz yang tertuang dalam 10 kaidah dakwah. Entah buku ini masih dibaca oleh aktivis "kekinian" atau sudah dicampakkan dan berganti dengan buku "pernikahan". Kaidah kedua mengatakan, ta'lif qobla ta'rif, artinya dekat dulu sebelum mengenalkan. Seberapa dekat diri Anda dengan anggota/ binaan?

Selain dari ketidakcocokkan karakter, juga bisa terjadi dikarenakan "kepercayaan". Ketidaksalingpercayaan muncul misal saja melihat kawan selingkarannya mendapat "amanah" dan dirinya tidak. Sehingga muncul kata, "Aku mah apa". Jangan dianggap remeh kata2 ini. Anda bisa saja gila hanya karena ini. Bahkan menangis kalau binaan Anda terpaksa harus resign. Kecuali jika Anda memang tidak peduli dengan hal seperti itu. Selain ketidakpercayaan juga terkait kurangperhatian. Artinya "emosional" ataupun ukhuwah tidak berjalan dengan semestinya, dalam lingkaram hanya ada "taklimat2" tanpa mendesain pendidikan yang berjangka dan bertahap melalui serangkaian kaidah yang benar. Selamanya Anda hanya akan jadi pembinasa dan membuat barisan kecewa semakin banyak saja.

Satu lagi yang biasanya muncul ialah dikarenakan tradisi keilmuan. Kalau ini tidak perlu dibahas. Bagaimana Anda akan memberi tapi Anda tidak punya? Sehingga yang berpindah haluan hanya karena "haus ilmu" kini menjadi fenomena jamur yang tumbuh dengan subur.

Kesemua hal ini sebenarnya sederhana, sofisme ketidakcocokkan berlaku. Sofisme berkaitan dengan kebenaran yang relatif. Artinya ketidakcocokkan bisa di eliminasi dengan memperhatikan kaidah dakwah yang benar. Saya tidak membenarkan bahwa kebenaran itu relatif, karena toh kebenaran mutlak itu ada. Disini ketidakcocokkan bukanlah alasan. Artinya semua bisa diperbaiki. Meski ada solusi akhir dengan "berganti" mentor. Toh ujungnya mereka akan berkumpul dalam satu wadah yang besar pula.

Sekilas tentang ingatan saya pada naqib atau murabbi atau mentor.

Tadi barusan, saya mendengar orang berkata, "apa keuntungan kita kecewa dalam sebuah jamaah dakwah? Pasti tidak dapat apa2, yang tadinya membela malah merusak". Justru saya punya pikiran lain, karena dengan kecewa itulah jamaah dakwah akan menjadi dewasa, dewasa agar tidak membuat kader2nya kecewa dengan kubangan yang sama.


2 Mei Kemarin

Ini menjadi hari pendidikan dimana para mahasiswa berdendang aksi dijalanan menggugat pendidikan di Indonesia belum mewujudkan manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq mulia. Sayangnya di depan kampus UIN Suka kemarin terjadi hal yang tak beradab apalagi di kampus Islam yang tentunya mengajarkan adab. Meski aksinya ialah 1 Mei (hari Buruh). Dan saya tidak akan membahas itu.

Beberapa kali saya mengisi di SMA, saya merasa cukup kewalahan ketika harus bercakap dengan anak besar tapi dianggap anak-anak. Pertama kali ngisi di SMA ialah di peringatan Ultah Smansasi Sidareja bersama Ust. Guspur (Anggota DPR RI dari FPKS) itu sekitar tahun 2011. Setelah itu berturut-turut acara talkhsow tentang pemuda, politik islam dan sebagainya. Saya merasa susah untuk mengajak mereka berpikir. Saya terus cek dan cek kenapa bisa seperti ini. Dan saya, kini tau jawabannya, mengapa anak SMA kok masih kayak anak kecil dan masih sulit diajak beripikir?

Sederhana, kita perlu REVOLUSI USIA pendidikan kita. Saya masih ingat waktu bulan Ramadhan dimana masing terngiang #SaveYuyun, saya menjadi kordum Aksi Peduli Moral dari Aliansi Mahasiswa Peduli Moral Yogyakarta (Ampiby). Aksi ini ialah keprihatinan akan rusaknya moral pada anak didik kita, yuyun yang masih SMP diperkosa dan dibunuh oleh anak yang sebagian masih dibawah umur. Sehingga kasus ini pun di dampingi oleh Komisi Perlindungan Anak, juga kasus Eno yang diperkosa dan dibunuh dengan sadis hingga negara tetangga membuat foto2 tentang #Pacul. Lagi KPAI turun tangan. Benarkah usia 15 tahun masih dianggap anak2? Benarkah usia SMA masih disebut anak2? Atau dalam bahasa kita disebut remaja? Dimana remaja dianggap usia yang sedang mencari jati diri?
Pandangan inilah yang sebenarnya, setelah saya pikir2 yang membuat pendidikan kita tidak mampu memberikan orang hebat!!!

Lihat saja Natsir, usianya yang masih muda ia bahkan membuat sekolah Islam, lihatlah Abdullah bin Umar di usia 15 tahun sudah terjun berperang, lihat saja panglima termuda Islam pertama ialah 18 tahun. Dan masih banyak yang lainnya. Tapi hari ini usia 18 tahun hanya dimanjakan untuk makan dan "belajar" untuk menghadapi soal ujian. Bukan ujian hidup tapi ujian nasional!!

Disini tidak lagi bicara sofisme, tapi bicara sesuatu yang mutlak. Ya, mutlak harus diubah.

Demikian catatan malam hari ini..
Ke depan sepertinya catatan2 ini akan mewarnai lembar saya .. yg biasa sy simpan di laptop, kini sy share. Cukup malam ini.

Catatan tentang pembelajaran dari kehidupan.
3 Mei 2018 di malam hari

Kamis, 05 April 2018

Sejenak membaca Pemikiran Syed Naquib al-Attas


#KisahPagi
Sejenak membaca Pemikiran Syed Naquib al-Attas
Pesan bagi kita yang mau belajar, jadi jangan baca tulisan ini

Oleh Viki Adi N



Bagi para pegiat pendidikan, pemikiran, ataupun peradaban Islam, tidaklah asing sosok ini. Merupakan seorang pendiri ISTAC di Malaysia, sebuah universitas akan wujud gagasannya. Dimana hari ini hanya tinggal nama karena kejahilan manusia dengan segenap kepentingan di belakangnya. Padahal nama-nama ulama dan intelektual muslim banyak lahir dari sana termasuk para alumninya yang menyebar di negeri ini seperti Adian Husaini dan Hamid Fahmi Zarkasy serta masih banyak lainnya. Beliau satu-satunya orang Islam di zaman modern yang ditempatkan sebagai pemikir/filsuf yang masuk dalam kumpulan para filsuf dan bertengger bersama nama-nama pemikir besar Eropa, padahal gagasan-gagasannya sangat keras dalam mengkritik peradaban Barat.

Penelitian tentang pemikiran Beliau sudah sangatlah banyak. Saya disini hanya merenung sejenak, bukan skripsi, karena saya tidak mengerjakan skripsi, apalagi tesis atau disertasi, S1 saja belum lulus.

Pernyataan Beliau bahwa kata ‘tarbiyah’ tidak relevan dengan konsep pendidikan Islam turut menuai warna dan mencoba menggantinya dengan ‘ta’dib’. Tentu dengan alasan yang sangat mendalam dengan melihat makna dibaliknya. Islamisasi bahasa tentunya. Pun dengan konsep universitas yang ditawarkan, menjadi sebuah tamparan keras bagi umat ini, apalagi kita yang masih hidup dalam rentetan kepulauan Melayu yang jelas-jelas jejak Islam terukir besar disini namun kian lama kian hilang.

Dalam salah satu karya monumentalnya, Islam and Secularisme, beliau menerangkan bahwa masalah besar dari umat ini ialah ‘hilangnya adab’. Adab disini bukanlah dalam artian seperti yang kita maknai sempit hari ini semisal sopan santun atau sejenisnya. Namun adab disini lebih berkaitan pada keadilan. Dimana adil merujuk pada menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya tidak dzalim. Beliau mengutarakan bahwa pada hari ini, umat tidak bisa lagi menempatkan ilmu pada tempatnya. Tentu dari banyak segi, mulai dari esensi atau hakikatnya hingga masalah klasifikasinya. Seolah-olah ilmu hanya tergantikan dan terreduksi oleh sains sesuai pandangan alam (worldview) Barat.

Dari sini saja, sudah ada ketimpangan definisi dari ilmu itu sendiri. Ilmu tentu berbicara hal yang sangat luas baik yang nampak maupun tidak nampak. Namun Barat memandang bahwa sains lah yang menjadi acuan mereka dengan paham realisme dan empirisisme-nya. Artinya mereka tidak mengakui hal diluar akal. Bahasa kita ialah perkara  ghoib. Yang berimbas bahwa sains yang dibawa ialah tidak menganggap hadirnya Tuhan dibalik semua yang ada.

Dalam pengklasifikasian, Imam al-Ghazali telah memberikan definisi yang tepat dimana ada ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Umat, lanjut Beliau juga masih belum bisa menempatkan ini sesuai koridornya, lagi-lagi pandangan alam Barat yang dijadikan tumpuan. Hari ini banyak yang mengejar jurusan spesialisasi hingga S3 bahkan profesor, namun di balik semua itu yang menjadi fardhu ‘ain terabaikan. Meski dalam hal ini kita akan perlu tahu bahwa yang kifayah bisa saja naik status menjadi ‘ain bagi orang-orang tertentu. Seperti di suatu wilayah tidak ada dokter, maka menuntut ilmu untuk menjadi dokter menjadi wajib di masyarakat itu meski cukup sesuai kebutuhan, artinya tidak semua harus jadi dokter. Berebeda dengan ilmu fardhu kifayah, semisal aqidah, atau ilmu tentang tata cara sholat, apakah dia akan bisa sholat kalau dia tidak tau tata caranya? Ini ibarat sederhana saja.

Penempatan ini bukan saja dzalim dari individunya, tapi telah terstruktur masuk ke dalam semua ranah aspek kehidupan termasuk pendidikan. Ya! Sekarang Anda kuliah di universitas, apakah ilmu fardhu ‘ain menjadi ilmu yang diajarkan sebagai dasar jurusan yang Anda geluti? Inilah tawaran yang menurut saya dalam diagram konsep pendidikan Beliau sangat apik, memadukan konsep asli dalam Islam dengan konsep modern hari ini. Persis seperti konsep Baitul Hikmah ketika Baghdad berjaya menjadi mercusuar peradaban dunia.

Implikasinya, tentu keinginan membuat universitas yang sesuai konsep ini butuh pengorbanan yang banyak, baik dari harta maupun dari segi ‘kepentingan’. Karena ISTAC saja dibumihanguskan di negerinya sendiri.

Lagi-lagi memang, perbaikan individu selalu jadi yang utama sebelum memperbaiki tingkat diatasnya. Karena pendidikan yang baik ialah mendidik manusia jadi baik, bukan sekedar warga negara yang baik, begitu papar Beliau.

Ini sejenak renungan pagi ini. Sedikit dan hanya membuat Anda gatal mungkin.


Namun tetiba saya terpikirkan oleh konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Ikhwanul Muslimin dalam blue printnya dimana usrah/liqa menjadi tsawabit dalam jamaah dimana kita akui bahwa inilah gerakan dakwah terbesar di dunia hingga saat ini. Bukan pada format atau sebagainya. Tapi saya mencoba melihat pada tata ‘adab’ nya. Dimana tsawabit lainnya ialah berkaitan dengan Risalah ta’alim, ushul ‘isyrin dan risalah ‘aqaid sebagai dasar dan referensi ajaran, terkhusus dalam arkanul baiah dalam risalah ta’alimnya. Ini bukan otak-atik gatot.
Mari dengan lapang dan jujur – tidak skeptis tentunya – kita melihat bahwa rukun ini sebenarnya diserukan bukan pada orang yang biasa saja, tapi memang orang yang mau dan siap menjadi mujahid yang akan membela agamanya. Sehingga seruannya jelas pada tatanan tertentu, bukan pada orang umum. Selanjutnya, adab lainnya ialah terkait urutan rukun yang sejatinya, namanya saja rukun, tentu tidak boleh dibolak-balik. Seolah hari ini tsiqoh menjadi rukun pertama, namun al-fahmu entah dimana. Penempatan ini tentunya rumit, karena akan berefek pada sejauh mana pemahamannya dan orang yang mau memahamkannya. Tamparan bagi aktivis dakwah yang memanggul manhaj ini, sudahkan kepahaman ini ditanamkan pada binaannya?

Lagi-lagi adab mengingatkan kita untuk menempatkan pada posisinya. “Nduk, organisasi kita sedang oprek pengurus, bagaimana kalau kamu membantu di bagian ini ya?” kata salah seorang pengurus inti, lalu dijawab oleh kadernya, “nembung itu ada etikanya, tolong sesuai jalur”. Dalam konteks organisasi, menjadi seorang staf misalnya, padahal ini organisasi umum, tentu para Murobbi/naqib hanya memberikan saran dan nasehat, keputusan akhir tetap ada di si ‘anak’. Karena itu ialah berkaitan dengan haknya sebagai kader. Ini jelas sebuah kekeliruan dalam adab terkhusus kebalik-baliknya rukun baiah ini. Mungkin ia belum bisa “profesional” dalam menempatkan posisinya sebagai “anggota jamaah” dan sebagai “kader lembaga umum”. Semoga saja ini bukan doktrin dari proses pendidikan kita, namun keluar dari kepahaman dan disebalik dirinya. Mungkin kalau orang tua bilang, “Nak, segera pulang ya, Ibu lagi sakit”, tiba-tiba anak menjawab, “Wah saya sedang ada agenda dakwah Bu, maaf yaa, ini lebih penting”. Bagaimana menurut kalian? Benarkah konsep adab atau penempatan ini berlangsung? Apakah ia dzalim?

Semoga pagi ini cerah dan mampu memberikan semangat jiwa. Tentu bagi antum sekalian yang terus berjuang meski ditentang banyak orang yang dengki dan iri. #SemangatPagi!

Beberapa referensi buku Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas:
- Risalah untuk Kaum Muslimin
- Islam dan Sekularisme
- Islam dan Filsafat Sains
- Konsep Pendidikan dalam Islam; Suatu rangka pikir pembinaan filsafat pendidikan Islam
- Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu


Sabtu, 17 Maret 2018

Buku Untukmu Muslim Negarawan

Sebuah epik Untukmu Muslim Negarawan



New Arrival

Untukmu Muslim Negarawan - Berhikmah dari Buku Perjalanan

Penulis: Viki Adi Nugroho
Penerbit: Gaza Library Publishing
Tahun: 2018
Jml Hlmn: xi+212
Foto Sampul: Sri Lestariningsih, Rais Ikhlas, Briliant
Desain Sampul: VAN Art
Puisi: Dena Vidia dan Yuyun Wijayanti
Harga: Rp 65.000, 00 (Belum termasuk diskon)

Karya ini mencoba mengambil potret peristiwa juga situasi kondisi sebagai latar. Mengambil hikmah bahkan menemukannya adalah sebuah keberuntungan bagi seorang muslim. KAMMI menjadi gerakan mahasiswa muslim yang akan selalu dituntut untuk hidup dalam berbagai pusaran zaman. Ketika daya lenting tidak dimiliki untuk selalu menghela nafas dan menjaga nafas, maka kemunduran bahkan kehancuran menjadi hal yang pasti.

Muslim Negarawan merupakan akumulasi dari nilai perjuangan seorang da'i untuk mengantarkan umat ini, bangsa ini, negeri ini, agama ini, ke dalam kemenangan abadi dan hakiki. Merupakan karakter perpaduan dari berbagai akhlaq Islam dalam konteks real kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Muslim Negarawan akan melihat apapun di depanya dengan rasa optimis, ia berusaha berprestasi di tengah keterbatasan yang dimiliki. Dan inilah pahlawan yang dibutuhkan oleh Indonesia masa depan.

Selamat berhikmah, berhikmah dari buku perjalanan.

Pemesanan/ Reseller untuk buku ini bisa melalui: 085743640193 (Ariadi)
ig: @gazalibrary ; @gazabookstore

Selasa, 13 Maret 2018

Download Ebook We are Wolves - Terjemah Lengkap 24 Pasal Protocol of Zion

Bismillah...

Assalamualaikum Sahabat-sahabat semua,
semenjak keluar film tentang Sultan Abdul Hamid II, seorang khalifah Turki Utsmani terakhir sebagai penjaga Bulan Sabit, saya kembali teringat akan sepak terjang gerakan yang telah membungihanguskan Islam dari peredaran peradaban. Sebuah gerakan yang tentunya hari ini sudah menjelma menjadi sebuah negara. dulu hanya sebuah mimpi, namun kini real di depan mata. Saudara-saudara kita di Palestina menjadi saksi setiap hari. Doa selalu kita panjatkan semoga Alloh senantiasa menguatkan kesabaran dan semangat berjuang, dan kita yang disini selalu membantu dengan apa yang bisa kita lakukan.

Selain buku Zionisme Gerakan Menaklukan Dunia karya Z.A. Maulani, kali ini saya ingin membagikan sebuah buku yang cukup fenomenal, Ya! terjemahan atas protokol Zionis.
Semoga bermanfaat, dan mampu menyadarkan kita, setidaknya, membuat kita berpikir ulang untuk menguatkan gandengan dalam sebuah rantai Islam berupa akidah yang kuat dengan dai sebagai pekerjaan kita, amal jamai sebagai gerbong kita.

Silakan ada dua link,

Pertama, via 4shared, jangan lupa buat akun dulu ya, kecuali yang sudah punya, tinggal log in aja


Kedua, via mediafire, biasanya tanpa harus membuat akun dulu


Saya haturkan terima kasih kepada yang telah membagikan ini, mohon maaf belum saya cantumkan sumber mendapatkannya, karena terlupa, mungkin sudah agak lama karenanya.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Senin, 05 Maret 2018

Akankah kita tertunduk dan layu?




Akankah kita tertunduk dan layu?

Oleh Viki Adi Nugroho
(Penulis Buku Recharge Semangat Dakwah, Ketua PK KAMMI UNY)

“Tetaplah di posisi kalian dan jagalah sebelah belakang kami. Jika kalian melihat kami menang, jangan pernah turun dan mengikuti kami. Jika kalian melihat kami kalah dan terbunuh, jangan menolong kami,” salah satu pesan Nabi SAW pada 50 pemanah di perang Uhud. Sebuah pesan yang fenomenal dalam rentang sejarah Islam. Perang yang cukup berat dimana sahabat-sahabat terbaik berguguran demi melindungi Rasulullah SAW. Kesabaran menjadi ujian di balik kemenangan yang mulai merekah di episode awal.

Anggap saja Anda sedang melakukan trading – sebuah istilah yang digunakan orang dalam memprediksi nilai mata uang – dalam rentang waktu satu hingga dua menit. Anda mendapat prediksi yang benar dan jumlah uang naik. Terus itu berjalan sehingga emosi yang hadir, kegembiraan yang datang melonjak membuat Anda terus melakukan trading. Namun sayang, emosi tidak bisa dikendalikan. Kesabaran dan anggapan “besok masih ada hari”, tertutup oleh awan keinginan mendapatkan banyak uang. Libaslah tetiba itu,  uang habis atas ketidaksabaran, kerugian melanda, stres menjadi. Terlepas dari kontroversi bisnis ini baik ditinjau dari sisi manapun. Kita akan dibawa pada penuaian hikmah besar. Kiranya perang Uhud menjadi nilai penting dalam sejarah umat Islam. Alloh menguji kesabaran, mampukah ia tidak tunduk pada emosi? Pada nafsu memburu?

Pasukan memanah turun, kecuali Abdullah bin Jubayr dan sepuluh orang lainnya masih tetap teguh di posisinya karena mengingat pesan Rasulullah SAW. Khalid yang kita ketahui waktu itu masih musyrik segera membalikkan keadaan, kaum muslimin yang sudah memukul kaum musyrik dan berpesta memenggal leher, tetiba dikejutkan dengan serangan pasukan berkuda Khalid dari arah yang tiada disangka. Pasukan pemanah di bukit Uhud pun terbantai. Keadaan berbalik. Kemenangan sesaat tergantikan oleh keganasan dan kebiadaban. Hamzah tak pelak menjadi korban, juga duta Islam pertama Mush’ab bin ‘Umayr, serta beberapa sahabat terbaik lainnya. Bahkan hingga Rasulullah terperosok dan banyak sahabat yang disampingnya rela berkorban demi selamatnya junjungan Alloh SWT. Desas-desus terbunuhnya Rasulullah sempat tersebar sehingga menyiutkan nyali kaum muslimin hingga akhirnya Rasulullah berteriak untuk menyemangati kembali pasukan. Perang ini berakhir dengan kemenangan sementara kaum musyrik, disebabkan putus asanya mereka dari tujuan membunuh Rasulullah SAW.

Di saat sakit menyayat, luka yang masih menoreh, baik luka fisik sampai luka batin. Lantas tidak menyurutkan semangat pada diri Rasulullah SAW. Meninggalkan Uhud Sabtu petang,malam hari beristirahat di Madinah. Usai sholat Subuh di hari Minggu, Rasulullah SAW memerintah Bilal untuk memanggil para sahabat dan dperintahkannya untuk berlari dan bergegas kembali dalam sebuah ekspedisi perang mengejar musuh. Tiada yang boleh ikut selain yang ikut dalam perang Uhud. Hingga sampailah pada daerah Hamra’ al-Assad. Hingga dikenallah peristiwa ini dengan perang Hamra’ al-Asad.

Pada Malam harinya, pasukan ekspedisi ini meyalakan api unggun besar yang terlihat jelas dari kejauhan. Tentu dengan tujuan agar kaum musyrik mengira bahwa pasukan muslim kembali dengan jumlah yang sangat dan lebih banyak lagi untuk siap bertempur. Ma’bad – yang waktu itu juga masih musyrik dari Khuza’ah – lewat dan melihat pasukan muslim, ia tercengang. Lalu ia juga melewati pasukan musyrik dan mendapati hal yang ganjil, dimana mereka tengah bersenang-senang karena kemenangannya di Uhud bahkan berencana ke Madinah untuk menghabisi kaum muslimin. Ya! Anda bisa menebak tentunya. Rencana itu gagal. Waktu itu, Abu Sufyan menangyakan perihal kaum muslimin pada Ma’bad. Lalu apa yang dikatakannya? “Celakalah kalian! Muhammad dan para pengikutnya keluar mengejar kalian dalam jumlah yang sangat besar. “Tak pernah aku melihat pasukan sebanyak dan sebesar itu. Mereka bergerak dengan persenjataan dan perlengkapan lengkap. Aku pun tak pernah melihat pasukan selengkap itu!”

Rasa takut menyelimuti kaum musyrik, kegembiraan berubah menjadi ketakutan dan was-was. Alloh memasukkan rasa takut pada hati mereka. Akhirnya merekapun kembali.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah epik yang indah. Pasca kekalahan bukan kemudian meratapi, namun kembali bangkit untuk tidak tunduk dan layu. Di saat luka menganga, Rasulullah SAW malah memerintahkan untuk kembali berlari. Hakikat kemenangan hadir, eksistensi kekuatan umat tercipta kembali. Ruh keimanan dan penyiapan materi menjadi kunci-kunci kebangkitan.

Kehidupan yang serba tiada menjanjikan dalam era kini seharusnya bukan membuat kita tertunduk dan layu. Peristiwa yang terus melanda negeri kita, juga tak seharusnya menyiutkan nyali bagi kita untuk kemudian diam, karena diam tak selalu emas! Itulah yang dilakukan oleh Rasul dan sahabatnya. Mereka tidak tunduk dan mengekor pada “penguasa” Mekkah. Mereka tidak tunduk pada “penguasa” dunia yang hanya sementara. Mereka percaya bahwa Alloh SWT akan menolong mereka sesuai janji Rasul-Nya.

Halangan dan ujian yang besar, apalagi di era kini. Kudu menjadikan kita lebih kreatif dalam mengemas dan “menyajikan” dakwah. Kalaulah Mansur, pimpinan Muhammadiyah di era Orde lama mengingatkan Soekarno bahwa pemimpin yang dia sudah tidak menerima masukkan dan saran lalu ia marah, maka sejatinya ia bukanlah pemimpin yang sedang didambakan bahkan akan menjadi hal yang berbahaya, apalagi jika yang mengingatkan ialah para ulama.

Semoga diri kita yang sejatinya ialah pemimpin mampu mengambil mutiara hikmah ini. []

Sabtu, 27 Januari 2018

Nun Jauh diatas Mimpi

Nun Jauh diatas Mimpi

Oleh: Viki Adi Nugroho



Menghimpun sekutu. Pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir menemui suku Quraysh. Tak usah ditebak. Kumandang perang ditabuh. Provokasi memerangi umat Islam bergemuruh. “Kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik dari pada agama Muhammad”. Sontak terjadilah kesepakatan. Begitupula suku Ghatafan, bani Fuzarah dan bani Murrah. Hingga total 10.000 pasukan siap menggempur Madinah.

Ketika kabar ini kemudian Rasulullah dengar, lantas pula, musyawarah digelar. Salman Al-Farisi menawarkan ala perang yang berbeda. Parit, sebut saja. Penggalian Parit yang melelahkan itu. Di musim Paceklik pula. Bukan menyurutkan. Semangat makin berkobar. Meski dari orang-orang munafik kian menampakkan keengganannya.

Berlangsulah penggalian. Suatu ketika, para sahabat menggali dan menemukan batu putih. Saking kerasnya, tak bisa dipecah. Salman pun tak mampu. Rasulullah ikut terlibat. Mulailah untuk memecah. “Bismillah”, ucap Rasul. Dihantamkan cangkul, dan pecahlah sepertiga beserta kilatan cahaya. “Allohuakbar, aku telah diberi kunci-kunci negeri Syam, demi Alloh sesungguhnya aku dapat melihat istananya yang merah dari tempatku ini”.

Hantaman kedua, “Bismillah”, kilatan keluar serta pecah kembali sepertiganya. “Allohuakbar, aku telah diberi kunci-kunci negeri Persia, demi Alloh, sungguh aku melihat istana Madain yang putih sekarang ini”. Menghantamkan ketiga kalinya, “Bismillah”, pecah dan keluar kilatan. “Allohuakbar, demi Alloh aku telah diberi kunci-kunci negeri Yaman, demi Alloh sungguh aku melihat saat ini Shan’a dari tempatku ini”.

Seolah khayalan, bahkan impian ini sangat jauh. Mekkah saja, sebagai ‘tetangga sebelah’ belum beriman. Di tengah panasnya gurun serta sedikitnya bahan makanan. Bahkan perut hanya berisi ganjalan-ganjalan batu. Janji manis datang bagaikan mimpi di tengah siang bolong. Bayangkan saja diri Anda sedang tidak punya uang dan keluarga sedang terbaring di rumah sakit, tiba-tiba ada pesan masuk, “Selamat Anda mendapatkan 10 juta, klik link berikut...”. Saya kira Anda tidak akan percaya hal seperti itu di era kini. Tapi tidak bagi para sahabat. Rasa optimis itu hadir lantaran sinar keimanan.

Kaum muslimin yang hanya berjumlah 3000 pasukan. Tiba-tiba berbinar. Ada kilatan kebahagiaan. Bukan sekedar khayalan. Namun keyakinan dan cita besar. Semua percaya, apa yang dikatakan Rasul adalah kebenaran.

Disini kita perlu memahami bahwa bicara keyakinan bukan sedang berbicara hal sepele. Keyakinan besar merupakan sebuah tahapan awal yang harus dibangun untuk mewujudkan cita besar dan visi besar. Begitulah Rasulullah mengajarkan umatnya. Berkeyakinan tajam dan kuat menghujam. Visioner, melihat ke depan, dengan jangkauan yang tiada batas. Keyakinan dibarengi cita besar. Sebuah penghikmahan dari sejarah Sang Teladan.

Inilah yang harus kita petik. Rasul kita mengajarkan optimisme. Hingga akhirnya, percikan kilatan mulai terealisir. Meski dalam sejarah, Rasulullah sendiri tidak mengalaminya. Artinya penaklukan-penaklukan itu terjadi setelah Rasulullah wafat. Persia tersentuh. Bahkan dari wilayahnya ada yang pernah dijadikan sebagai ibu kota. Yaman, tersentuh pula. Syam, yang mungkin hari ini kita ketahui sebagai Palestina, Lebanon, Yordania dan sekitarnya. Juga menjadi negeri yang Rasulullah janjikan, hingga era Utsmani dan pergiliran kekuasaan Alloh putarkan.

Mengertilah kita bahwa visi dan cita dakwah ini tidak serta merta selesai oleh satu generasi. Tidak serta merta selesai dalam ukuran usia individu, namun jauh menembus usia bangsa bahkan usia peradaban. Lalu pertanyaannya, dimanakah kita berada saat ini.

Perjalanan sekilas di atas mengajarkan kita untuk berjuang, dan terus berjuang. Keyakinan akan cita besar merupakan anak-anak karakter seorang Muslim Negarawan. Bahkan nun jauh diatas mimpi. []

Jumat, 29 Desember 2017

Lesunya Dakwah Kampus

Lesunya Dakwah Kampus




KAMMI lahir pasca sidang FSLDK ke X ditutup,  sehingga dari sejarahnya saja kita akan mengetahui bahwa KAMMI dilahirkan oleh aktivis dakwah kampus yang berbasis di masjid-masjid kampus di era orde baru. Maka menjadi aneh ketika kader KAMMI bahkan KAMMI itu sendiri sudah tidak mau memikirkan dakwah kampus itu sendiri dan sebaliknya, menjadi aneh juga ketika aktivis dakwah kampus tidak berterima dengan KAMMI. Begitu pula, tidak perlu kita naifkan, bahwasanya memang basis massa KAMMI sendiri adalah di kampus atau komisariat-komisariat yang ada di kampus.

Dari sisi sistem pengkaderan saja, KAMMI memiliki daya tawar yang mapan. Maka tawaran ini sebenarnya mampu untuk menciptakan para ‘petarung’ sejati bagi dakwah itu sendiri, apalagi dalam ruang lingkup kampus. Maka ketika kader-kader KAMMI menyebar dalam lembaga intrakampus sebagai aktivis dakwah kampus, selain untuk mengkader, nilai-nilai kebaikan yang dibawa itu pula yang diharapkan mampu mewujudkan suasana ‘keislaman’ dalam lingkup kampus atau kita menyebutnya dalam civitas akademika. Bukan hanya sekedar sebagai oposisi belaka seperti yang sering digaungkan oleh banyak gerakan mahasiswa, namun lebih dari itu. Bagi KAMMI dan kader-kadernya, mendukung atau oposisi itu hanya bagian dari strategi saja, bukan ‘keabadian’, karena indikatornya jelas, apakah itu kebenaran atau kebathilan.

Lesunya dakwah kampus yang ada di era ini, mulai dari kurangnya pemahaman terhadap manhaj dakwahnya sendiri, daya tawar mahasiswa yang dikatakan mulai minus, budaya intelektual yang mulai menurun, hingga hal-hal yang berkaitan dengan teknis seperti masalah indisiplin dalam pertemuan menjadi hal yang menghinggapi para aktivis dawah kampus. Apalagi di era yang serba mudah ini. Bukannya disikapi dengan bijak, namun malah terlalu memudahkan.

Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj perjuangannya
Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj perjuangan menjadi kewajiban bagi setiap kader KAMMI, bisa kita lihat pada kompetensi atau kita kenal sebagai Indeks Jati Diri Kader KAMMI. Dalam proses evaluasi (baca: sertifikasi) untuk mendapatkan status Anggota Biasa 1 (AB1) saja. Kepahaman terhadap fikrah dan manhaj ini harus bisa dikatakan “lulus” dan tuntas tentunya ketika akan berlanjut menempuh jenjang berikutnya (Anggota Biasa 2/ AB2). Menjadi barang aneh, ketika kader KAMMI ketika ditanya, apa fikrah kalian? Kemudian mendongak keatas atau menunduk dan hening. Lalu selama ini, apa yang kemudian mampu membuat kita bergerak ketika dalam hal ‘dasar’ ini saja kita belum mengetahui atau bahkan tidak yakin dengan fikrah kita sendiri? Atau jangan-jangan kita sendiri tidak memahami apa itu fikrah yang KAMMI maksud?

Seperti yang pernah saya paparkan dalam tulisan saya pada buku Recharge Semangat Dakwah, bahwa fikrah tidak hanya berbicara pemikiran, tidak hanya sekedar berbicara tentang tsaqofah (wawasan) saja, namun fikrah lebih dari itu, ia mampu membuat otak, akal, hati, tulang punggung, seluruh jiwa, anggota badan, untuk senantiasa bergerak dan terus bergerak dengan konsisten dan komitmen menuju apa yang menjadi cita-citanya, menjadi impiannya, sesuai apa yang menjadi firman-Nya.

Maka secara signifikan, fikrah ini bisa kita lihat dalam buku induknya pada Risalah Ta’alim oleh Imam Hasan Al Banna, sebuah risalah yang ditujukan kepada segenap aktivis dakwah yang ia memang siap untuk memikul amanah-amanah besar ke depan. Maka dalam risalah ini kita akan berbicara tentang Arkanul Bai’ah (Rukun Bai’at). Dimana dimasing-masing rukun tersebut masih ada penjelasan turunan-turunannya. Selian itu, lebih terang juga ada di Risalah Muktamar al-Khamis dengan delapan fikrah Ikhwanul Muslimin. Lalu, kita sebagi kader KAMMI, masih terasa asingkah dengan Risalah ini? Lalu apa yang selama ini menjadi landasan kita bergerak dalam dakwah ini?

Kepahaman terhadap fikrah ini, seperti tertuang dalam rukun yang pertama, Al-Fahmu (Paham), dalam rukun ini terdapat Ushul Isyrin (20 Prinsip) yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh aktivis dakwah. Dimana salah satunya ialah berkaitan dengan Syumuliyatul Islam (Kesempurnaan/ Kemenyeluruhan agama Islam). Dari sinilah kemudian kita mulai bergerak dengan kepahaman, itu mengapa pula kemudian kita mau-maunya untuk berdakwah, bergerak, masuk kepada lembaga, institusi, berbagai civitas akademik, bergerak dengan terpadu, terkoordinir ke dalam semua ranah dan aspek kehidupan yang ada. Bukankah karena kita memahami fikrah ini? Ini baru salah satu saja.

Pada manhaj dakwah kita pula, hakekat dan tujuan dakwah haruslah dipahami oleh semua kader KAMMI. Bahwa kita mengetahui, tujuan dakwah bukanlah kemenangan semata, tujuan dakwah bukanlah untuk itu saja. Maka alangkah indahnya ketika Syekh Mustafa Mashyur mengatakan dalam Fiqh Dakwahnya (2013: 5),

“Sebelum melangkah jauh, satu hal yang harus kita perjuangkan adalah menjadikan Alloh tujuan utama. Tiada satu pun yang dijadikan tujuan selain Alloh. Kita beriman kepada-Nya dan kita melihat-Nya pada segala sesuatu dalam hidup kita. Kita beribadah kepada-Nya dengan sepenuh hati dan kita mencari keridhoan-Nya di setiap aktivitas kita. Kita melakukannya dengan penuh ikhlas dan yakin bahwa di sanalah terletak kebahagiaan sejati, sebenar-benar petunjuk, dan kemenangan hakiki. Alloh SWT berfirman: Maka segeralah kembali kepada (menaati) Alloh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Alloh untukmu. (Adz-Dzariyat: 50)”

Dari sini kita melihat, apa tujuan dakwah itu. Sekarang kita mengerti dan memang harus memahami ini sebagai prinsip yang harus dipegang teguh.

Adapun tabiat dakwah itu sendiri, masih dalam tulisan beliau (2013: 6),
“Jalan dakwah tidaklah ditaburi bunga-bunga, tapi sebuah jalan terjal yang sulit dan panjang. Jalan itu tidak mudah dilalui dan bukan jalan yang singkat. Jalan dakwah merupakan perseturuan antara yang haq dan batil. Ia menghajatkan kesabaran dan ketabahan karena beban yang berat. Ia memerlukan kesungguhan hati, jerih payah, dan menuntut banyak pengorbanan. Tidak boleh tergesa-gesa ingin mendapatkan hasil, namun tidak boleh mudah putus asa dan patah semangat. Yang dituntut dari dakwah itu adalah usaha dan amal yang kontinu, lalu biarlah Alloh yang menentukan hasilnya pada waktu dan keadaan yang Dia kehendaki. Bahkan mungkin Anda tidak dapat melihat hasilnya saat masih hidup karena Anda hanya diperintah untuk beramal dan tidak harus melihat hasilnya.”

Dalam rukun baiat yang kedua, ada rukun amal, sebagai kader KAMMI, kita juga harus paham terhadap tahapan-tahapan amal (maratibul amal) dakwah kita, dimulai dari islakhunnafs (perbaikan diri sendiri), takwiinu baytimmuslim (pembentukan keluarga muslim), irsyaadulmujtama’ (membimbing masyarakat), takhriirulwaton (pembebasan tanah air [dari penguasa asing]), ishlahul hukuumah (memperbaiki keadaan pemerintah), i’datulkiyaaniddawliyyi lil ummatil islaammiyah (usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemashlahatan umat islam), dan ustadziyyatul ‘alam (penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah islam).

Mengapa kita perlu memahami ini? Karena dalam manhaj kita ini, dakwah kita adalah dakwah yang bertahap, dakwah yang gradual, tidak sporadis dan anarkis. Hal ini juga agar kita sebagai kader KAMMI mengetahui bahwasanya apa yang dilakukan kita di kampus juga bagian dari tahapan-tahapan dalam maratibul amal ini. Sehingga apa yang kita susun, apa yang kita lakukan, bukan sekedar amal sesaat saja, namun amal yang merupakan bagian dari jangka panjang untuk menyiapkan proyek besar, proyek peradaban islam tersebut.

Pertemuan-pertemuan yang mulai indisiplin
Pertemuan-pertemuan di era digital ini, seolah bisa digantikan hanya dengan berkomunikasi di medsos saja. Ya, kita akui dan memang benar, zaman yang berbeda menuntut cara yang berbeda. Namun begitu pula kah dengan musyawarah-musyawarah kita? Saya kira berbeda ketika memang keadaan mendesak, genting, dan tidak memungkinkan. Sebut saja sebagai ‘rukhshah’.

Kita semua paham bahwa pertemuan secara langsung akan lebih menimbulkan kesan berarti. Selain pembahasan yang terang dan jelas, secara ukhuwah pun akan lebih ‘dapat’. Sekali dayung, dua sampai tiga pulau terlampaui. Pertemuan secara langsung juga akan menghilangkan prasangka-prasangka yang tidak baik, klarifikasi juga menjadi lebih jelas, serta lebih mudah untuk meluruskan berbagai pemahaman yang berbeda terhadap sebuah kebijakan.

Pertemuan-pertemuan ini juga bisa menandakan ‘militansi’ kader, tingkat kedisiplinan akan terlihat jelas. Apakah siap menyambut seruan, baik dalam keadaan sedang lapang maupun berat. Pertemuan juga dapat mengetahui ketika ada kader-kader yang memang sedang ‘bermasalah’. Mari kita cek dalam pertemuan rutin saja, seberapa besar presentase kehadirannya dalam segi kelengkapan personil?

Kita perlu mengetahui bahwa pertemuan-pertemuan (baca: musyawarah) menjadi hal tsawabit (prinsip tetap) dalam dakwah kita. Rasulullah senantiasa mencontohkan hal ini, bahkan Beliau selalu meminta pendapat sahabat-sahabatnya. Hingga kita masih ingat ketika perang Uhud diputuskan untuk diluar Madinah, ini karena keinginan sebagian besar sahabat dan kemudian diputuskanlah kebijakan tersebut. Meski akhirnya, kekalahan yang didapatkan. Tentu Alloh SWT ingin memperlihatkan berbagai hikmah dalam peristiwa ini. Setelah keputusan ditetapkan, maka tiada lain adalah ketaatan untuk melaksanakannya. Maka, bagaimana dengan pertemuan-pertemuan kita?

Daya tawar gerakan mahasiswa di depan birokrasi kampus
Ini yang kian hari kian menurun. Daya tawar gerakan mahasiswa kian menurun di mata ‘penguasa’ kampus. Efek ancaman Drop Out menjadi senjata ampuh ketika dihadapkan pada hal ini. Efek tuduhan pencemaran nama baik juga menjadi salah satu kiat untuk menjerat berbagai tulisan dan opini yang dibangun dalam mahasiswa baik sebagai mahasiswa itu sendiri apalagi sebagai representasi dari sebuah gerakan, atau juga dalam pers mahasiswa itu sendiri. Seperti beberapa kali kerap terjadi yang cukup ramai dikabarkan dalam media di negara kita.

Kalau seandainya berbicara ideologi, memang sudah selesai, semua gerakan sulit untuk menemukan titik temu. Namun saya kira, masih banyak isu besar di kampus masing-masing yang masih memiliki titik persamaan. Misal saja isu Sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT), yang kian waktu kian mulai besar gerakan perlawanannya di kampus-kampus. Sebenarnya ketika berbagai gerakan ini mampu menyatukan sebagai isu bersama dan mampu memberikan tekanan dalam hal ini birokrasi untuk menyelesaikan masalah ini. Maka ‘daya tawar’ gerakan di mata ‘mahasiswa umum’ menjadi ‘pahlawan’ dan di mata birokrasi, gerakan mahasiswa dinilai punya ‘kekuatan’ massa, yang mampu menggiring opini mahasiswa. Semua diuntungkan, baik dari mahasiswa umum maupun gerakan mahasiswa itu sendiri.

Maka ketika daya tawar ini muncul kembali, setiap kebijakan yang akan dikeluarkan oleh birokrasi, akan lebih berhati-hati. Karena mereka tahu bahwa gerakan mahasiswa ada di depan mereka. Peran-peran strategis inilah yang hari ini harus dibangun kembali. Sekali lagi bukan hanya oposisi laten, namun memposisikan diri dalam sifat ‘moderat’. Indikatornya jelas, menyengsarakan atau tidak, kebatilan atau kebaikan. []