Minggu, 04 Desember 2016

MENINGKATKAN EFEKTIFITAS MK (MADRASAH KAMMI)

MENINGKATKAN EFEKTIFITAS MK









VIKI ADI NUGROHO
(Essay PRA DPMK, 24 Januari 2016)

KAMMI KOMISARIAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

KAMMI DAERAH SLEMAN



Mari Bicara Membina, Sebuah Proses Tarbiyah Islamiyah
Tarbiyah merupakan cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun secara tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistem dan perangkatnya yang khas), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.1 Secara ringkas tarbiyah islamiyah ialah proses penyiapan manusia yang shalih.
Ketika bicara tarbiyah, maka hal yang paling sering muncul setelah kata itu ialah halaqoh atau membina. Karena memang benar bahwa membina (halaqoh) disini ialah perangkat paling penting. Atau seperti perkataan Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Perangkat-perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, “Manajemen yang paling penting dalam jamaah adalah manajemen usrah (halaqoh/membina), karena ia merupakan batu bata pertama dalam bangunan. Apabila manajemen usrah baik, maka baik pulalah kondisi jamaah secara keseluruhan, demikian juga sebaliknya”.
Sudah menjadi kewajiban seorang akh (kader dakwah) bahwa sebutan ini akan menjadi kekurangan manakala belum memiliki binaan atau belum membina. Sistem pembinaan ini sangat penting karena hanya sistem inilah yang bisa memantapkan proses penyiapan individu islami dan secara integral. Sebuah sistem dimana islam akan tersampaikan pada jiwa-jiwa manusia dengan kontinue, tidak masuk lalu keluar lagi. Namun, selain sistem ini pun masih ada perangkat lain yang memang melengkapi dan tidak bisa tergantikan. Padahal kita tahu bahwa tarbiyah Rasululloh yang bermula dari halaqah-halaqah kecil itu mampu menciptakan peradaban baru di seantaro jagad raya ini.2 Jadi, marilah mulai dari sini.

Madrasah KAMMI, Sebuah Proses Pembinaan
Begitu pula dengan KAMMI, sebagai sebuah entitas organisasi Islam, tentu seperti kata Fathi Yakan untuk bertahan dan eksis sebagai organisasi dakwah ia harus mampu melakukan proses isti’ab baik internal maupun eksternal. Membina termasuk dalam hal isti’ab internal, sehingga penjagaan komitmen akan benar-benar terkontrol disini.3 Adapun di KAMMI, pembinaan ini bernama Madrasah KAMMI (disini MK1). Sesuai definisinya, MK1 adalah sarana kaderisasi bagi seluruh kader yang telah mengikuti DM1 yang dilakukan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas kader sesuai dengan IJDK KAMMI.4
Bicara Efektifitas
Tarbiyah (halaqoh/liqo/kepemanduan/MK) bukanlah segala-galanya, namun dari situlah akan bermula segala-galanya. Seperti sudah disebutkan tujuan diatas tentang pembinaan ini. Bahkan pembinaan MK ini akan menyentuh semua aspek, tidak hanya sekedar ilmu agama saja, namun dunia dan akhirat.
Berbicara efektifitas, maka kita akan dibawa untuk berbicara mengenai bagaimana dalam jangka waktu tertentu atau dengan tahapan tertentu, MK ini mampu mewujudkan capaian pada IJDK KAMMI.
Untuk mencapai efektifitas ini perlu dilakukan hal berikut, kuncinya ialah Manajemen:

Perlunya Dinamisasi dan Produktivitas
Berdasarkan pengalaman membina di kampus, agar gairah pembinaan meningkat, perlu adanya dinamisasi dan produktivitas pada halaqoh (baca: MK).
Adanya proses dinamisasi ini bertujuan untuk menghindari kejenuhan, paling tidak meminimalisir hal itu, karena pada kader awal/mula, hal ini sangat besar berpotensi terjadi setelah masuk pertengahan waktu. Kejenuhan memang bisa terjadi karena suasana yang monoton, ketiadaan keteladanan, kurangnya upaya untuk memotivasi/mengingatkan, dan konflik yang berkepajangan.5 Sehingga ini akan berdampak pada ketidakhadiran, kedisiplinan peserta MK bahkan sampai keterlambatan pencapaian tujuan, bahkan ketika kejenuhan ini masuk juga pada pemandu, akan lebih berbahaya lagi, yaitu enggan melakukan persiapan, penyampaian kurang berisi (hanya sebatas transfer knowledge namun hilangnya value), sampai disorientasi.
Dari dampak ini, bisa diketahui tentang karakteristik halaqoh (MK) yang dinamis, seperti kehadiran yang rutin, munculnya kata kerinduan, ingin berlama-lama, dan kalau seperti pendapat Satria Hadi Lubis akan ada suasana yang inovatif.6
Untuk mencapai dinamisasi maka perlu banyak manajemen, seperti manajemen variasi perubahan baik menyangkut sistem belajar, metode penyampaian, agenda acara, materi, waktu pertemuan, tempat pertemuan, dan sebagainya. Keteladanan Pemandu dalam hal sekecil apapun juga akan sangat berpengaruh. Selain itu Manajemen waktu yang diinginkan binaan pada masa awal-awal juga perlu diperhatikan, seperti lamanya waktu misalnya.
Sedangkan produktivitas adalah banyaknya tujuan yang tercapai dari indikator yang telah dibuat dalam hal ini ialah IJDK KAMMI (value) dan konwledge dari materi/kurikulum yang ditetapkan. Semakin banyak dan kualitas yang tercapai dari sasaran-sasran dalam IJDK KAMMI ini, maka  semakin produktifnya MK1 itu begitu pula sebaliknya.
Cara untuk mencapai ini yaitu dengan merumuskannya ke dalam tahapan atau target-target kecil yang mengarah dan menghimpun ke arah tujuan-tujuan itu.
Untuk meningkatkan dinamisasi dan produktifitas, maka perlu juga akan manajemen Iqab dan reward. Dalam manajemen iqob dan reward juga harus seimbang, jangan sampai memberi iqob tapi tidak memperhatikan kebaikan selama ini yang ia berikan, tidak pula memperhatikan besar kecilnya kesalahan, tidak tabayun, dsb. Begitu pula reward.
Untuk manajemen Program, maka harus dan lebih baik jika melibatkan seluruh binaan, program yang sesuai kebutuhan dan kekinian, dan kreatif.
Setelah melalui MK1, harapannya ialah tercapai sasaran seperti tercapainya IJDK, tercapainya penjenjangan/sertifikasi, tercapainya pengembangan potensi dan akhirnya terbentuk kader-kader yang siap untuk kembali membina. Adapun sebab-sebab tidak produktifnya MK1 berupa tidak/lupa memahami tujuan awalnya, terlena dengan keasyikan/proses dalam kelompok, dan dalam bukunya, Satria Hadi Lubis menuliskan ada keyakinan “taqdir” yang salah terkait kemajuan atau kualitas seorang manusia (baca: kader/mutarobbi).
Kedua hal ini, dinamis dan produktif haruslah seimbang.

Perlunya Mengetahui Keutamaan Membina bagi Pemandu
Disini Pemandu MK harus mengerti akan keutamaan dari pembinaan. Saya yakin hal ini sudah jelas.
Perlunya Mengetahui Hal-Hal Penyebab, agar Pembinaan/ MK Tidak Ditinggalkan, seperti:
Hidupnya Ruhiyah, Menguatkan tentang penempatan amanah, panggilan yang baik, berlaku lemah lembut, memperhatikan tugas sebagai pemandu, tidak pilih kasih, menunjukkan kasih sayang, tidak memandang binaan lebih rendah, Tidak “Kaburo Maktan”, proses tabayun menjadi hal utama, memahamkan ini adalah bagian dari amal jama’i, memberikan tugas yang akan menunjang amanah dan potensinya, dan menghindari ketergesaan.7
Perlunya mengetahui di balik kepribadian binaan
Dibalik kepribadiannya, pasti ada yang namanya keinginan dan kebutuhan, ini perlu diperhatikan dalam hal keduanya. Seperti keinginan diperhatikan, dipuji, dihargai, didengar, menjadi yang terbaik, selain itu berbagai macam kebutuhan akan cinta, rasa aman, pengetahuan, motivasi, kebebasan, kontrol, dan sebagainya.
Pemandu harus bisa memperhatikan hal-hal sederhana seperti ini. Meski belum bisa maksimal, namun setidaknya hal kecil dan sederhana bisa dilakukan.8
Perlunya mengetahui Fenomena Ketidakhadiran dan Bagaimana Tahap untuk Menyelesaikannya
Pemandu dalam hal ini memang harus mengetahui karakter binaannya, sehingga kesalahpahaman hal-hal teknis bisa diminimalisir, adab izin juga harus dipahamkan. Perlu cara-cara kreatif dalam hal ini, sehingga memang perluya proses dinamisasi seperti yang telah disebutkan diatas.9




Referensi:
1.    Ali Abdul Halim Mahmud, Prangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Hlm. 21.
2.    Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif. Hlm. 9.
3.    Fathi Yakan, Isti’ab. Hlm. 9.
4.    Manhaj Kaderisasi KAMMI 1427.
5.    Satria Hadi Lubis, Menggairahkan Perjalanan Halaqah. Hlm. 44.
6.    Satria Hadi Lubis, Menggairahkan Perjalanan Halaqah. Hlm. 56.
7.    Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif. 41.
8.    Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif. Hlm. 77.
9.    Muhammad Sajirun, Manajemen Halaqah Efektif. Hlm. 101.

Selasa, 16 Agustus 2016

Menemukan Kembali Format Kita (2)

Tersangkut, terpaut, atau bingung?

Oleh Viki Adi N
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY)

Ketika gerakan mahasiswa sedang tumbuh subur kala itu, kala orde baru awal, hingga akhirnya mungkin dianggap "masalah" oleh penguasa, maka tiada lain cara mudah mengembalikan atau paling tidak memandulkannya tanpa harus "membumihanguskan"nya ialah dengan cara halus tapi pasti dengan menggesernya ke arah yang paling dekat dengan status mereka.

Ialah mengembalikan ke habitat mereka, yaitu kelas. Juga kemudian dikeluarkan kebijakan normalisasi kehidupan di kampus (NKk/BKk) yang akhirnya sempat meredupkan organisaai-organisasi mahasiswa. Ditambah pula dengan kebijakan KKN dan sebagainya atau sejenisnya. Ini terjadi waktu dulu, hingga kemandulan ini berjalan cukup lama, maka mahasiswa kritis tidak tinggal diam, meski hanya ada forum diskusi dan belum mampu keluar turun ke jalan (dengan banyaknya kasus penculikan oposisi).

Hingga kemandulan ini pecah saat dideklarasikan Deklarasi Malang 1998. Lalu... bagaimana dengan hari ini? Apakah kita merasa itu masih terjadi ? Bahkan penggiringan ke ranah akademis ini semakin kuat?
Sadarkah kalau memang mahasiswa punya dua sekaligus "penguasa" yaitu pemerintah dan kampus?

Ide untuk mengembalikan mahasiswa ke baraknya, yaitu kelas (saya memang tidak setuju kalau baraknya mahasiswa itu kelas, tapi baraknya mahasiswa ialah perannya, ialah gerakan mahasiswa) dan saya melihat penggiringan yang cukup besar dan kuat terjadi saat mahasiswa angkatan 2014, dimana tuntutan akademisnya semakin besar.

Lalu ditengah kegalauan ini (kalau kita tidak galau, mungkin kita perlu turun lalu makan :v), tentu kembali ke gerakan ini akan mengalami penurunan, baik kaderisasi maupun bergaining positionnya .

Lalu... format seperti apa yang kita butuhkan?

#selamatberaktivitas
#ingatAmanahmu
#jangantinggalkanmereka
#dirgahayuIndonesiaku
#jayakanIndonesia2045
#AyoGabungKAMMI

#Gerakan Intelektual Profetik


Find us 📭

👥Facebook : Komisariat KAMMI UNY
🗣Twitter : @kammiuny
📸Instagram : @kammiuny
📚Website : uny-kammi.blogspot.com
💌Email : kammikomsatuny@gmail.com

Menemukan kembali format kita (1)

Satu cukup, dua sempurna

Oleh Viki Adi N
(Kebijakan Publik komisariat KAMMI UNY)

Hari ini saya kembali teringat, lagi dan lagi. Mungkin karena saya merasa salah satu yg membesarkan dan memberikan kedewasaan dalam bersikap, dalam memandang dinamisnya sebuah persoalan dan perubahan adalah di organisasi ini, di organisasi yang dianggap menakutkan dan politis, saya dengar-dengar seperti itu. Sebuah organisasi yang katanya underbow salah satu partai islam di Indonesia, katanya.

Tulisan ini hanya analisis saya yang sederhana selama saya menjadi mahasiswa di UNY, dimana mahasiswa sering disebut-sebut sebagai para intelektual - meski makna intelektual sepertinya hari ini telah menyempit - sebuah idealisme yang seharusnya tertancap kuat dalam dada mahasiswa, kini mulai layu. Karena kita tahu, kalau kita mengikuti idealisme itu, pasti tubuh akan lelah mengikutinya. Namun bukankah lelah itu akan menjadi saksi di akhirat nanti dan Alloh, Rasul Nya serta orang-orang mukmin akan melihatnya?
Lalu bagaimana menjaga idealisme itu? Masih ingat jargon hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa Indonesia! saya yakin ingat! Walau hanya saat ospek. Saat ospek kita dibentuk untuk menunjukkan idealisme itu, untuk bangga menjadi agent of change n iron stock. Namun setelah ospek, apa kita masih ingat dan bersemangat untuk meneriakkannya? Atau melanjutkannya dengan menyalurkan di organisasi mahasiswa atau pemuda? Atau malah terjungkal dan terbahak-bahak dengan teman-teman di tempat hiburan? Atau malah menangis di malam minggu karena kesepian?

Saya masih mahasiswa muda, tentu apa yang saya tulis belum banyak makan asam garamnya, saya pun hanya Anggota Biasa 2 di organisasi ini.
Selama mengikuti organisasi mahasiswa di SKI, Ormawa dan ekstra kampus lalu saya membandingkannya. Kesuksesan sebuah organisasi tentu yang bisa membawa organisasinya mencapai visinya, membuat kadernya mampu memiliki kompetensi untuk mewujudkan visinya dengan sistem kaderisasinya yang mapan, sesuai asasnya, ideologinya, karakteristiknya, prinsipnya. Dan saya temui sistem kaderisasi yang mapan, baik, dan berjalan, serta mampu memenuhi muwashoffat (karena saya muslim) ialah sistem kaderisasi yang ada di KAMMI, sebuah organisasi yang dulunya dicetuskan oleh anak-anak LDK - kalau di UNY disebut SKI-UKKI - se Indonesia atau FSLDK dalam kongresnya di Malang ketika negara sedang banyak mengalami krisis (98). Tapi entah kenapa dulu saya sebagai anak SKI lupa akan sejarahnya.

Kembali dalam sistem kaderisasi, meski saya sudah ada forum pembinaan dan saya selalu menganggap bahwa ini adalah salah satu forum yang diutamakan untuk saling mengingatkan, namun saya merasa belum cukup dengan satu keluarga kecil ini, sebut saja ini hanya standar minimal, bukankah kita diminta untuk melakukan dan berusaha sesuai kemampuan kita? Dan saya kira kita sepakat bahwa kemampuan disini bukan kemampuan minimal tapi maksimal.
Dan saya menemukan sistem diluar yang ideal dalam menjaga nafas gerakan, yang menjaga idealisme serta cita-cita hanya di KAMMI. Saya hanya pernah ikut SKI, ormawa, parma dan KAMMI.

Saya menulis bukan karena fanatis akan suatu gerakan, ormas, atau lembaga dakwah. Namun dalam konteks fastabiqul khoirot.
Saya menulis karena saya merasa sedih, merasa kasihan, ada sistem kaderisasi yang bagus, mapan, untuk memahami islam, fastabiqul khoirot, dan membentuk muwashofat (IJDK), namun sekarang banyak ditinggalkan, bahkan oleh orang yang mungkin lupa akan sejarahnya.

Selamat belajar kawan2...
Selamat menyelami sejarahmu.. semoga kita tak galau di persimpangan.

#Gerakan Intelektual Profetik


Find us 📭

👥Facebook : Komisariat KAMMI UNY
🗣Twitter : @kammiuny
📸Instagram : @kammiuny
📚Website : uny-kammi.blogspot.com
💌Email : kammikomsatuny@gmail.com

Kamis, 21 April 2016

Perempuan Hari Ini

Perempuan Hari Ini

oleh Viki Adi N
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY 2016)



Masih dalam suasana hari Kartini dimana sebagian masyarakat kita masih membumikan tradisi-tradisi peringatan dari yang biasa sampai yang luar biasa. Masih dalam suasana hari “keteladanan” perempuan. Kita yakin bahwa masih banyak perempuan yang berjasa dalam membesarkan bangsa ini selain Ibu Kartini. Mari sejenak “menskip” hal itu, tentu bukan untuk melupakan sejarah, karena sejarah itu penting.

Namun marilah sejenak kita merenungi, di hari perempuan ini sebuah refleksi masalah apa yang sedang terjadi di Indonesia. Masalah apa yang terjadi pada perempuan Indonesia.

Komnas Perempuan mencatat 16.217 kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015. (baca: kompas [7 maret 2016] atau Siaran Pers Komnas Perempuan Catahu 2016) diungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan semakin meluas. Khususnya dalam ranah personal kasus ini meluas sangat banyak dan ini lah yang paling banyak, ada pula masalah komunitas, dan beberapa juga terkait negara.

Belum lagi terkait masalah pribadi, dimana masalah “harga diri” perempuan sepertinya semakin kesini semakin menurun. Seperti dikutip dari CNN, Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana mengatakan bahwa benang merah masalah perempuan selalu berkutat pada self esteem (harga diri).
Bahkan self esteem ini akan menyangkut dalam hal fisik. Berdasarkan data yang diungkapkan oleh beliau, tahun 2013 sebanyak perempuan 33% di dunia mengaku tidak bahagia dengan bentuk fisiknya. Dan angka ini cenderung naik dari tahun ke tahun.

Ini ketika bicara dunia, apalagi di Indonesia yang bisa kita lihat bahwa proses westernisasi akibat globalisasi dari kemajuan teknologi sangat besar. Memang benar adanya seperti itu. Fisik perempuan menjadi barang eksploitasi perdagangan. Semua bermula dari harga diri. Penampilan menjadi keutamaan.

Coba kita amati saja sekilas, kita bisa menarik benang merahnya. Mulai dari masalah “personal”, “komunitas”, bahkan mengerucut pada “harga diri”. Setidaknya disini kita mengerti bahwa benar upaya perbaikan memang seharusnya dimulai dari tingkatan individu. Berarti dalam hal ini ialah perempuan.

Wajar harga diri menjadi rendah, karena memang dalam suasana pembentukan global dalam dunia ini sedang gencar-gencarnya namun tidak ada keseimbangan filter. Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” memanusiakan manusia atau bahasa kerennya ialah humanisasi, pantaskah kita melihat ini sebagai hal biasa?
Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” adalah mahluk yang merdeka atau bebas, pantaskah kebebasan menoreh luka? Maka hendaknya manusia mengembalikan semua pada fitrahnya, bahwa pembinaan moral untuk manusia adalah hal yang utama. Bahwa pembinaan pada agama ialah yang utama.
Mengembalikan konsep pembinaan perempuan dalam moral agama menjadi hal utama dewasa ini. Sehingga fitrah perempuan tidak ternodai oleh nilai westernisasi yang jelas bisa kita lihat bahwa itu tidak sesuai dengan ideologi bangsa kita. Mari bangkitkan kembali nilai-nilai profetik dalam pembinaan perempuan.

Selamat hari Kartini, selamat berjuang!
#Mari lakukan perbaikan bersama

#GerakanIntelektualProfetik

Jumat, 01 April 2016

Ketika masa depan berbicara



Ketika masa depan mulai berbicara
Merujuk pada biji-biji yang mulai ditanam
Sepertinya penanam pun lupa
Lupa akan penyiapan untuk membuat dan memilih biji itu

Ketika masa depan mulai berbicara
Semua dilakukan
Tanpa pertimbangan prioritas Sang Teladan Manusia
Perilaku hewan terlihat disetiap jengkal dewasa ini
Namun manusia
Mungkin ia lupa bahwa ia manusia

Ketika masa depan mulai berbicara
Sebuah proses penyepadanan nilai global sudah terasa
Menusuk sendi-sendi moral
Mengahancurkan tatanan sistem kebaikan yang tiada terorganisir
Memupuk subur sistem kerangka kerancuan kehidupan yang dibalut keindahan
Menuju sebuah tatanan dunia baru material

Ketika masa depan mulai berbicara
Ketika biji itu mulai tumbuh
Terjadi sebuah proses pelantaran tatanan nilai kasih
Hilangnya sebuah keteladanan dari madrasah pertama
Karir jadi tujuan
Tetapi ia lantarkan generasi selanjutnya
Dan lantas ia tinggalkan generasi lemah

Ketika masa depan mulai berbicara
Fase ini akhirnya terulang lagi
Kembali menusuk
Bukan hanya sendi, namun sampai ke sel-sel mentalitas
Sampai Sel-sel nurani kepribadian, semua terkoyak habis
Tinggallah utopis cita-cita bangsa ini

Ketika masa depan mulai berbicara
Generasi bunga hanya sekedar wacana
Generasi bunga ini hanya memikirkan dirinya
Egois menjadi pilarnya
Fashion menjadi pola hidupnya
Food menjadi sasarannya
Film menjadi nuraninya
Fun menjadi tujuannya

Ketika masa depan mulai berbicara
Generasi bunga bangsa ini lelap tertidur
Oleh tingginya IPK yang membuatnya sombong
Oleh kaya nya mereka yang membuatnya lupa orang dibawahnya
Oleh ilmunya yang banyak namun tak mau berbagi dan hanya dimanfaatkan untuk dirinya sendiri
Oleh hancurnya bingkai keimanan yang tertanam dihatinya atau bahkan sama sekali tak ada bekasnya
Oleh sikap yang tak mau menghargai dan tak mau mengulurkan tangannya walau hanya sejengkal
Oleh kepuasan dirinya..

Ketika masa depan berbicara
Generasi bunga ini lebih lelap lagi tertidur
Ia nyaman dalam lingkungannya sendiri
Ia nyaman dengan apa yang dilakukan
Namun tak peka akan keterbatasan dan ketidaknyamanan disekelilingnya
Sebuah feeling n respons pada lingkungan dalam segala aspek yang hilang
Sebuah pemecahan dan kerancuan mindset akan hakikat kesempurnaan agama melanda dahsyat
Ketika masa depan berbicara
Jadi apakah negeri ini?
Benarkah kondisi dalam film Alif Lam Mim akan terjadi di negeri ini?
Jawabannya ada ditangan kalian

Wahai generasi bunga...

Viki Adi N

Senin, 28 Maret 2016

Sebuah refleksi




Sebuah refleksi

18 tahun KAMM18ERGERAK
Sebuah refleksi untuk aku sendiri
Sebuah gerakan yang berani mempelopori sebuah perubahan
Sebuah gerakan yang lahir dari kesepakatan beberapa orang aktivis lembaga dakwah kampus
Sebuah gerakan yang mampu membuat beda dengan geraknya

Hari ini aku tersodor dengan sebuah peliknya masalah
Dimana beban itu memang butuh pundak
Dimana dalam segitiga piramidal man power pasti akan kalian temui semakin sedikitnya basis ke atas
Namun bagaimana jika basis tengah ini kemudian hilang?
Dan kau ketahui bagaimana jika ini terjadi di organisasi ini?

Sebuah refleksi untuk diriku sendiri
Seorang guru berkata, “tidak usah ikut dauroh marhalah dua, kondisi tidak memungkinkan dengan amanah yang engkau emban, bisa-bisa itu merusak” (satu saja belum)
Aku sedih, tertegun, apakah guru ini tidak paham bahwa hari ini alur kaderisasi di organisasi ini masih dijadikan sebuah leading sektor?
Yah, mungkin dia lupa dengan pesan-pesan dari Fathi Yakan dalam karyanya membangun fikroh dan visi gerakan islam
atau mungkin aku yang bodoh

Sebuah refleksi untuk diriku
Dalam sebuah man power maka akan dibebankah sebuah target pencapaian dan karakteristiknya
Apakah kau tega jika itu dibebankan pada beberapa orang atau satu orang saja?
Yang katanya digadang-gadang dalam setiap dauroh, dalam setiap agenda pertemuan, dalam setiap agenda pembinaan, dalam setiap agenda penguatan, dalam setiap kajian, dalam apapun sampai aku lupa, “kita harus beramal jamai”?
Atau itu hanya slogan saja tanpa adanya komitmen?
atau hanya aku saja yang tidak bisa memahami

Sebuah refleksi untuk diriku
Biarlah dan biarlah, dunia ini luas, tidak seperti yang aku pikirkan
Dan aku yakin disana masih ada orang yang akan terus berkomitmen akan hal ini
Setelah generasi ini pun akan ada penerus lagi
Biarlah aku percaya pada ayat suci Alquran surat Muhammad ayat tujuh
Itulah keyakinanku

Sebuah refleksi juga untuk diriku
ikut organisasi ini memang tidak menjamin masuk surga
tidak menjamin jadi pemimpin
tidak menjamin jadi orang hebat
tidak menjadi orang cerdas
namun inilah salah satu jalan...

Sebuah refleksi untuk diriku
Kalau tulisanku ini membuat kau tidak suka, hapus saja ia dari ingatanmu
Hapus saja dari sejarah hidupmu

Sebuah refleksi..
Selamat milad KAMMI ke 18

Jayakan Indonesia.... ... ... ...

Rabu, 02 Maret 2016

Musykom KAMMI UNY memanas

Musykom komisariat KAMMI UNY yang sudah diselenggarakan semenjak dua pekan yang lalu hingga kini belumlah selesai. "Musykom akan dilanjutkan Kamis malam ini hingga besok alias mabit" kata Nusaibah selaku pengurus terdemisioner dan calon ketua selanjutnya.

Namun disela pekan dua minggu hingfa hari ini, pembicaraan persoalan ketua KAMMI sangat memanas, seperti dilansir dalam berbagai grup WA baik grup KAMMI UNY maupun DIY ramai membicarakan hal ini. Hal ini diduga karena munculnya fanatisme pendukung calon ketua dengan membuat berbagai pamflet, survei, dsb. Selain itu juga tertundanya musykom hingga dua pekan menyebabkan dan menambah keriwehan ini, dimana kerja komisariat akan menjadi lamban.

Sebenarnya survei nyata dari responden kader KAMMI sudah ada bahkan dijadikan acuan untuk debat calon ketua, meski di akhir-akhir ini muncul survei yang tidak bertanggungjawab dari yang mengaku sebagi KLMM maupun kosoleri.

Berikut kami dari serialinspirasi mengutip data langsung dari pemegang data survei (Nusaibah, selaku sekjend terdemisioner) adalah sbb:

Kategori calon ketua KAMMI ialah sudah AB2 dan pernah ikut dalam kepengurusan komisariat serta angkatan 2012 dan 2013

Ada 14 nama calon dengan 136 responden kader KAMMI UNY yang mengisi angket

1. Fadli 18 suara
2. Aji 37
3. Viki 11
4. Ali 16
5. Anindrio 11
6. Ranti 4
7. Rahmat m 9
8. Ashfy 7
9. Nusaibah 11
10. Ridwan 3
11. Atika w 2
12. Atika I 3
13. Catur 3
14. Nur khoyrin 1

Dari data tersebut jika diambil 5 maka akan terpilih secara urut aji, fadli, ali ditambah tiga orang yang meiliki point sama yaitu viki, anindrio dan nusaibah.

Hingga akhirnya diputuskan yang maju debat ialah aji, ali, dan viki. Dengan pertimbangan bahwa fadli sudah menjadi ketua sebelumnya, nusaibah akhwat, dan anindrio naik pointnya setelah ditutup polling surveinya.

Sampai hari ini pun masih ribut dalam grup-grup KAMMI terkait hal ini. Namun dari salah seorang kaderisasi terdemisioner Ihtisyamah Zuhaidah mengungkapkan bahwa hal ini hanyalah sekedar pengenalan calon bukan sebagai fanatisme untuk mendukung suara atau calon tertentu karena pemilihan ketuapun dengan mekanisme musyawarah.

Namun dari sisi lain kami dari serialinspirasi melihat bahwa ramainya pembicaraan ini karena musykom yang terlalu lama tertunda.

Dan sekedar info bahwa malam ini akan dilanjutkan kembali musykom di SD IT Salman Alfarisi 1 atau Pogung sore ini hingga besok pagi.

Selamat menuangkan pemikiran untuk berkontribusi ke depan.
Salaam inspirasi dari kami.