Minggu, 11 Oktober 2015

Renungan untukmu Wahai Aktivis Dakwah

Gelap. Apakah gelap akan selamanya gelap? Bukankah Alloh menciptakan terang? Dan apakah gelap itu akan tergantikan? Engkau masih ingat bukan, bahwa kebosanan, kelelahan, pasti akan mencapai titik kulminasinya, mereka akan mencapai titik jenuh. Titik dimana ia ingin pergi, ingin berlari.

Masih ingat pula bukan, bahwa ketika raga itu terus dipacu, akal terus dipacu, akan tiba masanya ia lelah? Dan lelah itu datang sangat cepat. Dan sebenarnya engkau akan tahu seberapa pentingnya itu, manakala engkau kehilangannya. Manakala engkau dihadapkan pada detik-detik ujung penyelamatan. Maka tanyakanlah akan hal itu pada orang yang beberapa detik ia selamat dari kecelakaan maut. Seberapa berharganya beberapa detik itu bukan?

Saya tidak tahu bahwa apa yang saya pikirkan ini benar adanya, silakan cermati menurut pandanganmu. Saya hanya ingin membuka, membuka sedikit fakta. Semoga ini bisa mengingatkan saya serta menjadi koreksi bagi saya yang jauh belum apa-apa.

Benarkah itu dakwah? Dakwah apa yang sedang engkau bawa? Meski saya merasa bahwa kesalahan yang saya buat, tidak memanfaatkan waktu dengan baik, bercanda tak jelas, masih seling melingkupi. Wahai jiwa yang mulai mengeras, pernahkah kau perhatikan, bahwa engkau disebut aktivis dakwah?

Apalagi jika engkau melihat apa yang engkau bawa ialah cerminan akan aktivitas tarbiyah. Apakah kita menyalahi prinsip yang sudah Imam As Syahid tandaskan, akankah risalah ta’lim itu hanya sekedar lampiran kertas kenangan indah yang hanya dibaca sebagai bahan bacaan sejarah tanpa ada makna? Ataukah ia hanya bacaan penugasan yang setelah dibaca iapun hilang?

Benarkah kita mengamalkan rukun “kepahaman” dalam segala aktivitas dakwah? Namun pada kenyataannya masih jauh? Benarkah 20 prinsip yang telah digariskan itu hanya senandung syair yang dihafal untuk memenuhi ruang-ruang diskusi?

Kalau saja kita menyebutkan bahwa diri ini adalah aktivis dakwah, sebut saja tarbiyah, apakah kita sudah menjalankan paugeran didalamnya, usrahnya, liqa nya, katibahnya, daurohnya, nadwahnya, mukhoyyamnya, dan sebaginya? Benarkah kita sudah menghadiri itu dengan ikhlas sepenuh hati? Tidak usah berpanjang lebar membicarakan yang besar, coba bicara skala kecil dalam kelompok liqa/halaqah/usrah, apkakah kita sudah mengutamakannya? Apakah kita sudah memberikan ruang energi besar ketika menghadirinya? Ataukah hanya datang dengan energi sisa?

Coba merenung sejenak, selain dari forum liqa, dimana kah kita menemukan recharge ruh kita? Ya, kajian di sekitar banyak selain liqa, namun apakah kita sudah menghadirinya? Bahkan program-program madrasah masjid kampus sungguh sangat hebat, tapi siapa pesertanya? Ya, kebanyakan dari luar kampus itu, lalu mana mahasiswa nya, mana? Sebut saja masjid mujahidin dengan segala program MT nya, tahsin, bahasa arab, kajian mujahidin, dan sebagainya. Namun, dari sekian banyaknya aktivis yang menamakan dirinya aktivis dakwah kampus, hanya baru sebagian kecil yang memanfaatkannya, selebihnya dimanfaatkan oleh pendaftar dari luar.

Ok, kembali ke permasalahan Liqa, sudah beres dengan yang satu ini? Silakan kita menganggap remeh struktur ini, namun ingatlah, bahwa ini adalah struktur terkecil jamaah. Ketika ini rusak, maka pada hakikatnya kita belum bisa menjadi batu bata untuk membangun peradaban umat ini menuju umat yang madani.

Bercita besar, namun tak mau menjalani alurnya, apakah ia bisa? Imam As Syahid telah merumuskan itu dengan segala alurnya. Bisakah individu-individu yang belum terislamkan secara kafah mampu membina rumah tangga dengan tujuan islam nya? Apalagi bicara negara? Bagaimana 20 tahun ke depan?

Apakah kita lupa, kita adalah aktivis dakwah, bukan aktivis organisasi? Organisasi ini adalah wasilah, ini adalah sarana. Kembalilah pada hakikatnya, kembalilah pada ashalah nya, kembalilah pada dasarnya wahai akh, kembalilah pada dasarnya wahai ukh.


Kembalilah.

Minggu, 30 Agustus 2015

Misi Kita, Misi Peradaban

Masih terlintaskah di fikiran kita akan apa maksud kita ada? Hanyalah sepintas hidup di dunia ini? Adakah latar belakang kita hadir? Apa tujuan semua ini?
 
Sempatkah terlintas berfikir seperti itu? Semoga engkau pernah berfikir seperti itu, semoga engkaupun dapat menemukan jawabannya dari perspektif aqidah agama Islam. Agama yang memperbarui segala ajaran sebelumnya, agama satu-satunya yang Alloh sebutkan kebenarannya, yang Alloh ridhoi. Bersyukur kita bisa berada di sini.

Masihkah engkau terfikir hidup ini bagai roda yang berputar? Masihkah terfikir hidup ini seperti perulangan yang tiada putusnya?
Seperti itulah hakikat manusia, memang benar adanya hukum sebab-akibat. Hingga adanya manusia pun sangat terfikirkan dan terdebatkan pula oleh filsuf-filsuf dengan berbagai latar belakang mulai dari agama, sekuler, liberal, dan sebagainya. Namun benarkah manusia diciptakan tanpa ada sebabnya tanpa ada tujuannya?

Saya hanya mengantarkan dalam perspektif yang saya percaya, perspektif agama Islam dengan berpegang pada kitab Islam yang dijamin keasliannya sepanjang masa oleh Alloh, dengan menempatkan akal dibelakang Al-Quran dan sunah, namun tidak jauh-jauh. Sehingga ketika ada ayat yang memang tidak bisa dijangkau oleh akal, maka “sami’na wa ata’na” kami mendengar, dan kami taat. Sehingga terujilah kepercayaan dan ketaatan ini pada agama Islam.

Manusia diciptakan dengan spesial, mengapa?

Pertama, mari kita lihat dari sudut penciptaan dimana Alloh mengabadikannya dalam percakapan yang indah dengan berbagai pelajaran yang sangat besar yaitu dalam Al-Baqarah yang dimulai dari ayat 30. Coba kembali perhatikan ayat tersebut dan beberapa ayat berikutnya. Sampai Alloh menyuruh semua malaikat, iblis untuk menghormati Adam? Meski iblis membangkang dan akhirnya menjadi musuh abadi manusia?

Kedua, dari sudut pandang unsur. Dimana unsur manusia ada tiga yaitu jasad/fisik, ruh, dan akal. Di sini akal ini yang mempunyai ruang spesial, karena hanya manusia yang mempunyai taraf ini kemudian dibarengi dengan hawa nafsu. Maka kita bisa mengibaratkan adanya tarik ulur antara kebaikan dan keburukan. Dimana fisik yang terbuat dari lumpur – ibarat kotor – akan membawa pada keburukan, kemudian ruh – ibarat suci – akan membawa pada kebaikan, kemudian akal yang berposisi netral namun akan selalu dibarengi dengan hawa nafsu – mengacu pada keburukan. Maka benar firman Alloh tarik ulur ini akan membawa pada hal fujur atau taqwa (As-Syams:8). Sehingga secara logika, ketika iblis pun tidak ada, maka potensi mengarah fujur pun tetap ada. Inilah spesialnya manusia, ia akan dibelajarkan untuk seimbang dan berfikir menuju ke arah yang baik, ia mempunyai kehendak.

Ketiga, dari sudut potensi. Seperti dalam As-Syams ayat 8 bahwa manusia diberi potensi kefujuran dan ketaqwaan. Maka benar bahwa hidup ibarat roda yang berputar, bahwa iman terkadang fluktuatif, sehingga benarlah bahwa kita dianjurkan untuk sering bertaubat. Dan potensi itu tidak akan bertemu pada satu waktu. Sungguh benar bahwa orang yang bermaksiat tidak akan disebut orang yang baik/beriman, begitu pun sebaliknya sungguh benar bahwa orang yang beriman/baik tidak akan disebut ahli maksiat. Maka sungguh apik nasihat Abu Bakar, “Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dalam kebaikan, maka engkau akan disibukkan dengan keburukan”. Pilihlah kebenaran, meski penentang akan lebih besar dan lebih berat. Itu adalah sunatulloh.

Dari sudut ilmu dan segi bahasa. Bukankah benar kalau manusia mampu mengembangkannya, bahkan Nabi Adam pun menyebutkan nama-nama yang makhluk lain belum tahu.

Dari sudut posisi, Alloh sungguh menempatkan posisi yang berat, posisi yang luar biasa, hingga jika gunung yang akan memikulnya, maka hancurlah ia. Ya, sebagai pemimpin di bumi.

Lalu dari berbagai keistimewaan tersebut, apakah engkau masih berfikir manusia diciptakan secara kebetulan belaka dan hanya untuk bermain-main, bersenang-senang kemudian mati dan tidak akan dibangkitkan lagi?
Bukankah sudah jelas akan firman Alloh dalam surat Al-Ankabut ayat 3 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Juga dalam Al-Qiyamah ayat 36, “Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja tanpa (pertanggungjawaban)?”

Inilah misi kita, misi peradaban.

Jelas pula bahwa tidak dipungkiri lagi fitrah menyembah itu ada dalam diri manusia, fitrah menyembah Tuhan. Meski orang ateis menafikan hal ini, karena pada hakikatnya tuhan mereka ialah materi keduniawian yang mereka senangi. 
Dalam firman Alloh, sudah jelas tersebut dalam Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Inilah perintah Alloh pertama pada manusia, misi ibadah, misi mengabdi pada Alloh. Bahwa definisi ibadah ini sangatlah luas, tidak seperti kebanyakan bahwa ibadah hanya sekedar menjalankan sholat, puasa, zakat saja. Namun seperti yang pernah dikatakan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa ibadah ini ialah segala sesuatu yang Alloh itu ridho terhadapnya. Bahkan hanya sekedar menyingkirkan duri di jalan adalah bagian ibadah, bahkan senyumpun ibadah.

Namun misi ibadah ini bukanlah misi yang kecil, karena ibadah yang kita pahami ini dalam makna yang luas dan akan menyangkut pada misi berikutnya, yaitu sebagai khalifah/pemimpin di bumi. Karena ini juga bagian dari ibadah.
Ini juga sudah tersebut dalam firman Alloh dalam surat Al-Baqarah ayat 30, menjadi pemimpin di bumi, menjadi wakil Alloh di bumi, yang berarti bisa diartikan membawa misi kebaikan di bumi ini, membawa bumi agar sesuai dengan ketentuan Alloh, menjadi penguasa di bumi (An-Nur: 55). Tentu ini bukanlah tugas yang ringan, ini adalah tugas yang berat, tugas yang tidak mungkin dilakukan hanya oleh seseorang individu. Namun harus bersama-sama, besar, massive, butuh sebuah penggerak dan yang digerakkan.
Sehingga dari misi ibadah yang berkaitan dengan individu, kemudian naik pada misi pemimpin di bumi yang ini tidak bisa hanya dengan individu saja, lalu misi besar selanjutnya ialah misi peradaban.

Misi peradaban ini ialah misi menggoalkan islam sebagai ustadziatul a’lam, menjadi ustadnya alam, menjadi gurunya dunia, menjadi rujukan dunia. Maka, apakah ini bisa dilakukan oleh individu seorang?
Sejenak kita kembali merenung saat kejayaan islam, bukankah ia ditegakkan atas landasan iman yang kuat, persaudaraan yang lekat, dan kekuatan yang hebat? Yang terhimpun dalam sebuah jama’ah? Islam ditegakkan dari sesuatu yang asing pada mulanya, dan di akhir juga akan asing kembali? Benarkah hari ini asing?


Inilah misi kita, misi peradaban. Tidak ringan sobat, sementara waktu usia kita terbatas. Rasulullah membutuhkan waktu 23 tahun dan beliau secara langsung menerima wahyu, langsung mengingatkan jika ada yang salah. Sementara kini semakin jauh dari zaman beliau, kita hanya bisa napak tilas sejarah, mengikuti imam kita, ulama kita dengan ijtihadnya. Sehingga ijtihad ini pun berbeda-beda. Sehingga timbulah berbagai firqah, gerakan, yang dalam studi analisis, semoga ini adalah kebangkitan menuju jamaatul muslimin.
Lalu, apakah kita diam saja, hanya membaca, menjadi penonton saja, bagaimana kita menjalankan misi kedua dan ketiga ini jika tidak ikut mewarnai dengan gerakan yang akan menuju jamaatul muslimin?

Maha Benar Alloh, sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasul SAW. Wallahu A’lam...


Sabtu, 25 Juli 2015

Energi Keikhlasan

Assalamualaikum,

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, kami dari admin meminta maaf atas khilaf yang mungkin ada.
 Lama tidak berjumpa, masih ingat dengan artikel tetesan pembalikkan? dengan membahas tiga energi di dalamnya, yaitu energi keberanian, kesabaran, dan keikhlasan.

Akhirnya pada tulisan ini sampailah pada energi keikhlasan.



Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An’am 162)

Kalau sebelumnya kita telah membahas  tentang keberanian dan kesabaran maka kali ini kita akan membahas juru kunci dari semua itu. Juru kunci yang semua amal akan sia-sia jika tanpanya. Juru kunci yang akan menentukan diterimanya amalan-amalan kita. Engkau benar, dialah ikhlas.

Sebuah kata yang sering kali kita ucapkan namun sulit untuk dilaksanakan atau dipraktekkan di lapangan. Sebuah kata yang memang sulit diamalkan karena berbagai kepentingan akan merasuk ke dalam hati manusia. Setan yang akan merusaknya, hawa nafsu yang akan membelokkannya, meski awalnya mungkin hati sudah merasuk dalam wilayah ikhlas. Sehingga Rasulullah pun mewanti-wanti dengan sabdanya bahwa akan ada tiga golongan yang ketika ditanya oleh Alloh sehingga ia dilempar ke neraka hanya karena keikhlasannya. Mulai dari orang yang berperang di jalan Alloh hanya karena ingin dianggap orang yang kuat, pemberani, orang pengajar Al-Quran/ penceramah yang belajar dan mengajarkan ilmu Alloh hanya karena ingin dianggap orang yang alim, sampai orang yang memberi/berinfak karena ingin dikenal dermawan. Semua akan dikembalikan pada niat tujuan awal. Maka mengapa imam Nawawi menempatkan hadis tentang keutamaan niat dalam hadis pertama di hadis Arba’in.

Benarkah kita sudah bisa ikhlas?

Masih ingatkah dengan kisah orang Arab Badui? Ketika ia masuk islam lalu ikut hijrah hingga ia mengikuti perang Khaibar. Menanglah umat islam dengan harta rampasan perang yang dibawanya. Kemudian ghanimah itupun dibagikan. Apa yang kemudian orang Arab Badui ini katakan? Dia mengatakan, “Apa ini?”, Rasul menjawab, “ini jatahmu” (jatah karena ia ikut berperang), Arab Badui berkata, “Aku tidak menginginkan ini, yang aku inginkan karena aku mengikutimu ya Rosul hanyalah agar leherku tertancap dengan panah, lalu aku mati, dan aku masuk surga”. Akhirnya di kesempatan berperang setelah itu dia meninggal seperti yang ia inginkan. Lalu jasadnya dibawa ke Rasulullah kemudian beliau menyolatinya dan berkata, “Ya Alloh ini hamba Mu keluar berhijrah ke jalan Mu dan mati syahid, aku menjadi saksi”

Atau masih ingatkah dengan kisah Salman Al-Farisy yang ingin menikahi akhwat di Madinah? Ia galau karena ia bukanlah penduduk asli Madinah, hingga ia tiba memantapkan hatinya dan menemui saudaranya dari kaum anshor yaitu Abu Darda agar mau melamarkannya. Akhirnya setelah semua siap mereka berangkat dan menemui wali nya, dari balik hijabnya sang akhwat ini berbicara dengan diwakili oleh ibunya yang intinya bahwa sang akhwat menolak lamaran Salman, namun jika yang melamar adalah Abu Darda maka ia akan menerimanya. Apa yang terlintas dipikiran kalian tentang hal ini? Sakitnya itu dimana ketika engkau berada pada pihak Salman? Namun apakah jawaban Salman? Ya, Salman mengiakan dan memberikan semua mahar yang telah ia siapkan untuk saudaranya Abu Darda, bahkan siap menjadi saksinya. Masya Alloh.. sudahkah ikhlas ini menunjam dalam hati kita?

Atau masih ingatkah kisah Ali bin Abi Tholib? Ketika ia pulang menemui istrinya sambil menanyakan, “apakah ada makanan?” Fatimah menjawab, “tidak ada, yang ada hanyalah uang 6 dirham untuk membeli makanan anak kita”, “Baiklah, berikanlah, biar aku yang akan membelikan”, kata Ali. Ali pun pergi membawa uang tadi untuk membeli makanan, namun ditengah jalan ada seorang yang berkata, “berilah aku uang, aku sedang sangat membutuhkannya”, akhirnya Ali memberikan uang 6 dirham tadi dan pulang tidak membawa apa-apa. Fatimah pun bertanya, “mana makanan yang engkau beli?”, Ali menjawab, “semua sudah aku sumbangkan ke orang yang membutuhkan di jalan. Fatimah tersenyum dan bahagia mendengar jawaban Ali. Kemudian Ali pergi lagi untuk berkonsultasi dengan Rosul akan hal ini. Ditengah jalan ada orang yang berkata, “Wahai Ali, belilah ontaku ini 100 dirham, aku sedang membutuhkannya”, Ali berkata, “Aku tidak mempunyai uang”, “Tak Aapa, bawalah ontaku ini dan jual lah, dan serahkan hasilnya kepadaku”, kata orang tadi. Ali pun membawa onta itu ke rumahnya dan di tengah jalan bertemu dengan orang lagi, “wahai Ali, mau dibawa ke mana onta ini?”, “mau aku jual” jawab Ali, orang tadi berkata, “baiklah, aku beli 300 dirham”. Lalu Ali terkejut dan menyimpan 200 dirham tadi dan menyerahkannya ke Fatimah kemudian akan menyerahkan 100 dirham nya lagi ke orang yang memiliki onta, namun Ali pergi dulu menemui Rosul untuk berkonsultasi masalah ini. Namun Rosul telah mengetahui akan hal ini, sehingga belah berkata, “wahai Ali, saya yakin jika engkau menemuiku pasti akan ada urusan yang penting, ketahuilah bahwa orang yang menjualkan onta itu adalah malaikat Jibril dan yang membeli adalah malaikat Mikail”.
Coba perhatikan kisah ini, masihkah istri di Indonesia tersisa seperti sifat Fatimah atau suami sebaik Ali? Perhatikan sisi ikhlas di sini, memberikan apa adanya di jalan Alloh yang ia miliki bukan? Sehingga benar Alloh akan menggantinya dengan yang lebih banyak?

Itulah ikhlas, karena syarat diterimanya amal ada dua, yaitu benar sesuai tuntunan Rasul dan ikhlas, ketika salah satu tidak terpenuhi maka amalnya tidak diterima.

Dari gambaran diatas sudah ketemu makna ikhlas itu? Ya, ikhlas itu adalah segala macam amalan kita, ibadah kita, semua kita niatkan kita tujukan hanya untuk Alloh semata, bukan karena pujian, kedudukan, dan hal-hal duniawi lainnya. Adapun jika tiba-tiba mendapatkan reward hal-hal dunia itu hanya lah efek samping saja, bukan keinginan awalnya.

Karena ikhlas adalah amalan hati, maka berhati-hatilah. Hanyalah engkau dan Alloh yang tahu, kemudian malaikat mencatatanya, setan ingin merusaknya, dan hawa nafsu ingin membelokkannya.
Semoga Alloh memberikan kelapngan bagi kita, sehingga ikhlas akan merasuk dan menghujam tinggi dalam hati kita, Aamiin.

Wallahua'lam
Semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum.