Selasa, 17 Juli 2018

Resensi Buku Membina Angkatan Mujahid

Cek instagram untuk membeli buku ini

Sedikit komentar tentang buku *MEMBINA ANGKATAN MUJAHID*

Oleh Viki Adi N

Buku: Membina Angkatan Mujahid
Judul Asli: Fi Afaqi at-Ta'alim
Penulis: Said Hawwa
Penerjemah: Abu Ridho & Wahid Ahmadi
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit: 2014

Resensi buku ini sudah banyak di internet, barangkali generasi gawai selalu membuka tanpa pernah mencoba menyelesaikan membaca bukunya. Silakan, itu pilihan.

Ini bukan sekedar resensi, hanya ocehan seorang bakul buku. Buku yang terdiri dari 8 Bab ini, plus pendahuluan dan penutup sehingga pas menjadi 10 dalam edisi terjemahannya menjadi semacam buku "pegangan" oleh aktivis dakwah khususnya di kampus-kampus. Padahal hingga kini buku sejenis ini sangatlah banyak bahkan dengan kajian dan pendekatan yang baru karena saking banyaknya penelitian dan studi tentang gerakan ini.

Mengapa saya awali dengan ini? Ya! Agar Anda terbuka bahwa buku ini ialah syarahan dari Risalah Ta'alim yang ditulis oleh Imam as-Syahid Hasan al-Banna sebagai pendiri Ikhwanul Muslimin. Kita akan temukan bahwa tidak berlebihan jika Beliaulah peletak gerakan Islam kontemporer, ia memadukan otak al-afghani, rasyid ridho dan praktek al-maududi. Kalau tokoh-tokoh sebelumnya masih berpusat pada tataran ide, maka toho satu ini mampu menyebarkan gagasannya hingga seluruh pelosok dunia. Hingga fikrah nya mampu membuat gerakan dengan berbagai coraknya yang berbeda di tiap negara.

Dan tentu, buku ini - sekali lagi - bukan buku satu-satunya atas syarahan itu. Hanya saja karena penulisnya ialah langsung dari anggota Ikhwan maka buku ini seolah menjadi panduan untuk membina angkatan mujahid.

Mungkin Anda bertanya apa maksud membina angkatan mujahid?

Anda perlu tahu bahwa Risalah Ta'alim ditujukan bukan untuk "simpatisan". Anda bisa merujuk pada tulisannya langsung dalam buku Majmuatu Rasail Hasan al-Banna. Sangat jelas bahwa risalah ini ditujukan untuk seorang "mujahid". Maka benarlah bahwa risalah ini berkaitan dengan takwiniyah serta berisi panduan bagi seorang al-akh, baik berkaitan dengan dirinya maupun jamaah. Bahkan tak tanggung-tanggung, Hasan al-Banna mengatakan bahwa untuk mereka yang bukan "mujahid", akan disediakan ceramah-ceramah, tulisan-tulisan, training-training. Artinya rukun bai'at bukan untuk sembarang orang. Itu catatan yang harus Anda pikirkan.

Menuju bab kedua, Said Hawwa menuliskan kunci memahami dakwah Ikhwanul Muslimin. Disini dijelaskan meski secara umum. Sebenarnya peletakan manhaj bisa kita tilik dalam tulisan atau pidato Imam Hasan al-Banna dalam Risalah Muktamar al-Khamisnya. Beliau sudah menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Entah hari ini generasi muda masih mau membaca tulisan itu atau tidak.

Selanjutnya penulis menjelaskan bahwa tiap diri muslim ialah seorang da'i yang memiliki tanggung jawab besar, apalagi dengan tidak adanya kepemimpinan umat. Sebenarnya kompilasi pemikiran Said Hawa sudah diterjemahkan oleh Gema Insani menjadi satu paket, kita juga akan mengerti dinamika pemikirannya. Dari mulai menolak demokrasi hingga tragedi pembantaian IM di Syiria sehingga pelunakan terjadi. Anda bisa menjalani proses alur ini ketika membaca dua jilid Majmuatu Rasail terbitan Era atas dinamisnya pemikiran Sang pendiri jamaah.

Di buku terjemahan yang Anda pegang ini, maratibul amal di beri bab dengan judul: tentang tujuan. Setidaknya bocah-bocah yang katanya ADK harus mengetahui ini. Karena dakwah ini jauh menelusuri berbagai aspek, tidak berkutat hanya di LDK saja seperti yang dipikiran sebagian aktivisnya. Ia memiliki tahapan yang jelas dan khas. Anda bisa membandingkan tahapan ini dengan gamblang serta memikirkannya dengan tahapan atau manhaj Hizbut Tahrir. Akan ada kesamaan di tahap bagian awal tapi akan ada perbedaan cukup mencolok di bagian tengah menuju atas. Setidaknya ini bisa dimengerti khususnya karena pergolakan situasi yang berbeda dan pengambilan hukum yang mengacu atas letterleck sejarah ataupun atas pengalaman langsung pergulatan politik. Anda bisa bayangkan selama 8 dekade, IM selalu jatuh bangun khususnya di negerinya sendiri.

Untuk sarana tiap tujuan atau tiap tahapan juga dijelaskan dalam bab selanjutnya. Baik point untuk person maupun jamaah. Setidaknya point-point yang bersifat ruhiyah masih bisa terus dipakai, hanya saja terkait cara tertentu berkaitan dengan strategi tentu di tiap negara akan memiliki permasalahan dan solusi yang berbeda. Anda tidak bisa membayangkan misalnya, bahwa di Malaysia belum ada partai yang secara fikrah mengusung ide IM, karena partai Islam (ulama) sudah ada terlebih dahulu sebelum pemikiran IM tersebar disana. Berbeda pula jika melihat di Tunisia, partai dipisah dengan jamaahnya. Di Indonesia? Anda bisa merasakan sendiri.

Bab 6, penulis membawa penjelasan atas tahapan seperti ta'rif, takwin, tanfidz. Mulai dari penjelasan pengertian hingga apa yang harus dilakukan di masing-masing itu. Pertanyaannya, ada dimanakah Anda?

Kita juga harus berpikir bahwa ketiga ini akan terus berlangsung dan berkelanjutan. Meski dalam Risalah-risalah pendiri gerakan secara marhalah, jamaah sudah memasuki usia yang matang, tentu dengan kualitas dan kuantitas serta pengalaman dan pergulatan yang terjadi. Itulan mengapa integralitas ditekankan penuh oleh penulis.

Penjelasan rukun bai'at ada dalam bab selanjutnya termasuk penjelasan wajibatul akh. Yang sebenarnya ada 40 point, namun belum dibahas semua dibuku ini. Selengkapnya ada di risalah Ta'alim.

Next, terakhir di bab 8, penulis menambahkan uraian pelengkap. Berkaitan dengan kaidah yang sesuai dengan tabiat dakwah. Kompilasi lengkap terkait ini sebenarnya bisa Anda dapatkan dalam seri Fiqh dakwah karya Syekh Mustafa Mashyur yang sudah diterjemahkan pula baik oleh Era maupun al-i'tishom. Di bagian selanjutnya ialah penjelasan berkaitan dengan peringkat keanggotaan. Ini sebenarnya menjadi privasi apalagi di pebahasan berikutnya ialah berkaitan dengan penjelasan metodologi. Anda bisa saja dibuat pusing dengan bab ini. Karena itu memang ditujukan untuk para anggotanya dengan berbagai peringkat. Tidak masalah Anda bingung. Kebingungan terjadi karena Anda tidak tahu. Itu jawaban simpelnya.

Sekian ocehan dari bakul buku.

Untuk pemesanan dan pembelian bisa langsung ke Omah Literasi atau @bookstoregaza

Wa: 085740199965 (Gaza Group)

Atau klik link di atas

Kamis, 12 Juli 2018

Ketika Anda ditanya, apa "fikrah" yang kalian bawa?

Ketika Anda ditanya, apa "fikrah" yang kalian bawa?
(Tulisan untuk kader KAMMI secara khusus dan Aktivis Dakwah Kampus secara umum)

Oleh:
Viki Adi N


Mari belajar dari seorang A. Hassan, tokoh besar yang tidak dipisahkan dari Persis (Persatuan Islam). Setidaknya kontribusi pemikiran dan "pembongkaran" pembelajaran efeknya bisa sampai di tangan kita sekarang. Kita bisa membaca buku "agama" dengan bahasa Melayu (baca: Indonesia) dan terjemahan al-Quran, jurnalisme agama, tidak terlepas dari kiprah satu tokoh ini.

Kalaulah dulu pembelajaran agama hanya dan harus ditemukan dalam pesantren atau mendaras pada seorang ahli. Kini ribuan bahkan jutaan eksemplar karya bisa dibaca sendiri dan untuk mendiskusikannya dalam ruang terbuka adalah hal yang biasa. Terbukti dengan maraknya kajian ada dimana-mana.

Menjadi perhatian utamanya ialah dengan mudahnya akses saja, seharusnya seorang "aktivis muslim" bisa memanfaatkannya dengan baik. Orang awam saja memanfaatkannya, apalagi yang katanya berlabel aktivis?

Perilaku dan karakter terbentuk atas apa yang ia biasakan utk dilakukan. Dan ia akan terbentuk dari sebuah pemikiran, dan pemikiran akan terbentuk dari banyaknya ia membaca. Mulai dari membaca peristiwa, alam, buku, dan apapun hingga  firasat mampu ia bentuk dengan pembacaan pandangan ke arah depan. Tentu ini bukan hal mudah.

Maka kenapa konsep "ikhsan" ada di dalam Islam? Ya, itulah hasil dari daya pembacaan tingkat tinggi. Ia memadukan akal, hati, pengetahuan, perbuatan dan keimanan.

Hingga konsep "wihdatul wujud" tidak sepenuhnya salah jika kita melihat dari perspektif "ikhsan" seperti paparan Syed M. Naquib al-Attas, bukan perspektif kesatuan wujud "Aku dan Tuhan" karena konsep ini bisa menjatuhkan manusia pada konsep bahwa "aku adalah Tuhan". Inilah yang membuat para Walisongo menjatuhkan hukuman mati dan kafir kepada Syekh Siti Jenar.

Konsep membaca tidak bisa disederhanakan hanya dengan membaca buku saja.

Tapi tulisan kali ini barangkali ingin sejenak mengupas satu sarana ini. Kita harus berterima kasih kepada A. Hassan sebagai salah satu tokoh yang mendobrak kejumudan ini.

Saya kira judul di atas tidak akan ditanyakan dengan _letterlejk_ oleh orang lain. Pastinya oleh kalangan sendiri hanya untuk sekedar menguji. Anggaplah seperti itu.

Namun inilah salah satu pertanyaan mematikan yang jarang tidak bisa dijawab oleh kadernya sendiri. Saya dapati real ketika melakukan "sertifikasi" menuju AB1 di KAMMI.

Dan tulisan ini juga tidak akan membahas itu, karena toh saya telah menuliskannya di buku Recharge Semangat Dakwah atau lebih panjang di buku Untukmu Muslim Negarawan.

Kalaulah KAMMI masih membandingkan konsep iqomatuddin melalui salah satu gagasan yang diletakkan oleh Imam Hasan al-Banna (Pendiri Ikhwanul Muslimin). Tentulan karya-karyanya seharusnya menjadi perhatian bagi kadernya.

Meski seperti kata Tariq Ramadhan ketika wawancara dengan gatra, "Ikhwanul muslimin punya manhaj (metodologi khusus). Bukan untuk kekerasan, melainkan pembaruan masyarakat. Jika Anda mengikuti manhaj Ikhwanul Muslimin, tak bisa Anda menirunya begitu saja. Jangan taklid, kita harus punya jawaban yang baru untuk realitas yang baru".

Tentu inilah mengapa nuansa serta kepahaman terhadap sejarah bangsa Indonesia serta potensi yang dimiliki negeri ini, menjadi kompetensi yang harus dipahami oleh kader KAMMI.

Kekuatan fikrah dan keindonesiaan inilah dengan disertai kepahaman tentunya, yang menjadi kekuatan serta daya lenting seorang kader.

Lalu bagaimana pengkajian ini - minimal kalangan kader dakwah (ADK) - di kampus? Masih ada? Terasa? Atau hampa?

Semoga bermanfaat.

Tulisan ini pertama di post di:
https://gazalibrarypublishing.wordpress.com/2018/07/08/ketika-anda-ditanya-apa-fikrah-yang-kalian-bawa/

Kamis, 10 Mei 2018

Sofisme Ketidakcocokkan

Sofisme Ketidakcocokkan
Ketika kantong semar bertemu serangga, ketika bunga bukan dihinggapi lebah


Oleh:
Viki Adi N


Entah apa artinya judul ini. Tidak perlu dipikirkan. Coba tebak saja. Saya teringat dulu tahun 2013 pertama kali mendapati buku inilah politikku diobral seharga 25rb karya fenomenal M. Elevandi yang kita kenal sebagai orang beserta alumni KAMMI mendukung ust. Anis Matta sebagai presiden serta dalam international campaign #saveTariqRamadhan dan #IndonesiaWithYou, pasti Anda tau kini siapa Beliau. Dalam buku tersebut di bagian awal, saya masih teringat ketika paparan tentang "12 naqib" yang mewakili masing2 suku atau klan dari Madinah untuk bertanggungjawab terhadap kelompoknya dan menyampaikan risalah Islam yang diemban. Saya sedang tidak berbicara politik seperti dalam dauroh siyasi atau training politik. Tapi tentang kata "naqib".

Ada apa dengan kata itu? Kalau Anda tidak atau jarang menemuinya, mungkin Anda kurang piknik, atau setidaknya Anda tidak pernah membaca Sirah Nabawiyah. Sofisme ketidakcocokkan muncul disini (seandainya istilah ini pas). Maka ini mewakili kerancuan keteladanan dan kebingungan.

Ok, kita sudahi ini. Ganti dengan kata lain, kalau Murabbi? Masih asing? Saya rasa tidak. Mungkin ini mewakili dalam istilah yang lain. Naqib atau murabbi atau mentor dalam sebuah sistem pendidikan, mengingat sistem pendidikan "sederhana" ini sekarang menjadi tumpuan dalam aktivitas "kebangkitan" gerakan. Saya tidak berkata dalam satu gerakan saja, karena pengembangan ini sudah jauh membesar. Menjadi primadona yang siap dipanen. Kumpulan-kumpulan sel terkecil inilah yang akan terus mengelompok jadi sebuah lingkaran besar kebaikan. Meski sekali lagi ini bukanlah konsep pendidikan yang bisa menahan "sekulerisasi Barat" dari hegemoni segala sistem dan menjungkirbalikkan secara radikal, namun setidaknya mampu membentengi dari cara pandang (worldview) yang tidak benar. Keberhasilannya pun tak semata pada manhaj yang digunakan beserta rentetan kurikulumnya, tapi juga dari seorang naqib atau murabbi atau mentor nya. Percaya? Saya juga tidak memaksakan untuk percaya.

Banyak yang di awal berharap besar namun di tengah menghilang. Bukan karena ingin berpisah dari sel namun karena merasa tidak cocok dengan para mentor ini. Ketidakcocokan bisa dikarenakan karakter yang "berbeda" bisa juga dikarenakan "kaidah dakwah" yang salah. Dulu saya mendapati kaidah ini dalam karya gemilang seorang Syekh Jumah Amin Abdul Aziz yang tertuang dalam 10 kaidah dakwah. Entah buku ini masih dibaca oleh aktivis "kekinian" atau sudah dicampakkan dan berganti dengan buku "pernikahan". Kaidah kedua mengatakan, ta'lif qobla ta'rif, artinya dekat dulu sebelum mengenalkan. Seberapa dekat diri Anda dengan anggota/ binaan?

Selain dari ketidakcocokkan karakter, juga bisa terjadi dikarenakan "kepercayaan". Ketidaksalingpercayaan muncul misal saja melihat kawan selingkarannya mendapat "amanah" dan dirinya tidak. Sehingga muncul kata, "Aku mah apa". Jangan dianggap remeh kata2 ini. Anda bisa saja gila hanya karena ini. Bahkan menangis kalau binaan Anda terpaksa harus resign. Kecuali jika Anda memang tidak peduli dengan hal seperti itu. Selain ketidakpercayaan juga terkait kurangperhatian. Artinya "emosional" ataupun ukhuwah tidak berjalan dengan semestinya, dalam lingkaram hanya ada "taklimat2" tanpa mendesain pendidikan yang berjangka dan bertahap melalui serangkaian kaidah yang benar. Selamanya Anda hanya akan jadi pembinasa dan membuat barisan kecewa semakin banyak saja.

Satu lagi yang biasanya muncul ialah dikarenakan tradisi keilmuan. Kalau ini tidak perlu dibahas. Bagaimana Anda akan memberi tapi Anda tidak punya? Sehingga yang berpindah haluan hanya karena "haus ilmu" kini menjadi fenomena jamur yang tumbuh dengan subur.

Kesemua hal ini sebenarnya sederhana, sofisme ketidakcocokkan berlaku. Sofisme berkaitan dengan kebenaran yang relatif. Artinya ketidakcocokkan bisa di eliminasi dengan memperhatikan kaidah dakwah yang benar. Saya tidak membenarkan bahwa kebenaran itu relatif, karena toh kebenaran mutlak itu ada. Disini ketidakcocokkan bukanlah alasan. Artinya semua bisa diperbaiki. Meski ada solusi akhir dengan "berganti" mentor. Toh ujungnya mereka akan berkumpul dalam satu wadah yang besar pula.

Sekilas tentang ingatan saya pada naqib atau murabbi atau mentor.

Tadi barusan, saya mendengar orang berkata, "apa keuntungan kita kecewa dalam sebuah jamaah dakwah? Pasti tidak dapat apa2, yang tadinya membela malah merusak". Justru saya punya pikiran lain, karena dengan kecewa itulah jamaah dakwah akan menjadi dewasa, dewasa agar tidak membuat kader2nya kecewa dengan kubangan yang sama.


2 Mei Kemarin

Ini menjadi hari pendidikan dimana para mahasiswa berdendang aksi dijalanan menggugat pendidikan di Indonesia belum mewujudkan manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq mulia. Sayangnya di depan kampus UIN Suka kemarin terjadi hal yang tak beradab apalagi di kampus Islam yang tentunya mengajarkan adab. Meski aksinya ialah 1 Mei (hari Buruh). Dan saya tidak akan membahas itu.

Beberapa kali saya mengisi di SMA, saya merasa cukup kewalahan ketika harus bercakap dengan anak besar tapi dianggap anak-anak. Pertama kali ngisi di SMA ialah di peringatan Ultah Smansasi Sidareja bersama Ust. Guspur (Anggota DPR RI dari FPKS) itu sekitar tahun 2011. Setelah itu berturut-turut acara talkhsow tentang pemuda, politik islam dan sebagainya. Saya merasa susah untuk mengajak mereka berpikir. Saya terus cek dan cek kenapa bisa seperti ini. Dan saya, kini tau jawabannya, mengapa anak SMA kok masih kayak anak kecil dan masih sulit diajak beripikir?

Sederhana, kita perlu REVOLUSI USIA pendidikan kita. Saya masih ingat waktu bulan Ramadhan dimana masing terngiang #SaveYuyun, saya menjadi kordum Aksi Peduli Moral dari Aliansi Mahasiswa Peduli Moral Yogyakarta (Ampiby). Aksi ini ialah keprihatinan akan rusaknya moral pada anak didik kita, yuyun yang masih SMP diperkosa dan dibunuh oleh anak yang sebagian masih dibawah umur. Sehingga kasus ini pun di dampingi oleh Komisi Perlindungan Anak, juga kasus Eno yang diperkosa dan dibunuh dengan sadis hingga negara tetangga membuat foto2 tentang #Pacul. Lagi KPAI turun tangan. Benarkah usia 15 tahun masih dianggap anak2? Benarkah usia SMA masih disebut anak2? Atau dalam bahasa kita disebut remaja? Dimana remaja dianggap usia yang sedang mencari jati diri?
Pandangan inilah yang sebenarnya, setelah saya pikir2 yang membuat pendidikan kita tidak mampu memberikan orang hebat!!!

Lihat saja Natsir, usianya yang masih muda ia bahkan membuat sekolah Islam, lihatlah Abdullah bin Umar di usia 15 tahun sudah terjun berperang, lihat saja panglima termuda Islam pertama ialah 18 tahun. Dan masih banyak yang lainnya. Tapi hari ini usia 18 tahun hanya dimanjakan untuk makan dan "belajar" untuk menghadapi soal ujian. Bukan ujian hidup tapi ujian nasional!!

Disini tidak lagi bicara sofisme, tapi bicara sesuatu yang mutlak. Ya, mutlak harus diubah.

Demikian catatan malam hari ini..
Ke depan sepertinya catatan2 ini akan mewarnai lembar saya .. yg biasa sy simpan di laptop, kini sy share. Cukup malam ini.

Catatan tentang pembelajaran dari kehidupan.
3 Mei 2018 di malam hari

Kamis, 05 April 2018

Sejenak membaca Pemikiran Syed Naquib al-Attas


#KisahPagi
Sejenak membaca Pemikiran Syed Naquib al-Attas
Pesan bagi kita yang mau belajar, jadi jangan baca tulisan ini

Oleh Viki Adi N



Bagi para pegiat pendidikan, pemikiran, ataupun peradaban Islam, tidaklah asing sosok ini. Merupakan seorang pendiri ISTAC di Malaysia, sebuah universitas akan wujud gagasannya. Dimana hari ini hanya tinggal nama karena kejahilan manusia dengan segenap kepentingan di belakangnya. Padahal nama-nama ulama dan intelektual muslim banyak lahir dari sana termasuk para alumninya yang menyebar di negeri ini seperti Adian Husaini dan Hamid Fahmi Zarkasy serta masih banyak lainnya. Beliau satu-satunya orang Islam di zaman modern yang ditempatkan sebagai pemikir/filsuf yang masuk dalam kumpulan para filsuf dan bertengger bersama nama-nama pemikir besar Eropa, padahal gagasan-gagasannya sangat keras dalam mengkritik peradaban Barat.

Penelitian tentang pemikiran Beliau sudah sangatlah banyak. Saya disini hanya merenung sejenak, bukan skripsi, karena saya tidak mengerjakan skripsi, apalagi tesis atau disertasi, S1 saja belum lulus.

Pernyataan Beliau bahwa kata ‘tarbiyah’ tidak relevan dengan konsep pendidikan Islam turut menuai warna dan mencoba menggantinya dengan ‘ta’dib’. Tentu dengan alasan yang sangat mendalam dengan melihat makna dibaliknya. Islamisasi bahasa tentunya. Pun dengan konsep universitas yang ditawarkan, menjadi sebuah tamparan keras bagi umat ini, apalagi kita yang masih hidup dalam rentetan kepulauan Melayu yang jelas-jelas jejak Islam terukir besar disini namun kian lama kian hilang.

Dalam salah satu karya monumentalnya, Islam and Secularisme, beliau menerangkan bahwa masalah besar dari umat ini ialah ‘hilangnya adab’. Adab disini bukanlah dalam artian seperti yang kita maknai sempit hari ini semisal sopan santun atau sejenisnya. Namun adab disini lebih berkaitan pada keadilan. Dimana adil merujuk pada menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya tidak dzalim. Beliau mengutarakan bahwa pada hari ini, umat tidak bisa lagi menempatkan ilmu pada tempatnya. Tentu dari banyak segi, mulai dari esensi atau hakikatnya hingga masalah klasifikasinya. Seolah-olah ilmu hanya tergantikan dan terreduksi oleh sains sesuai pandangan alam (worldview) Barat.

Dari sini saja, sudah ada ketimpangan definisi dari ilmu itu sendiri. Ilmu tentu berbicara hal yang sangat luas baik yang nampak maupun tidak nampak. Namun Barat memandang bahwa sains lah yang menjadi acuan mereka dengan paham realisme dan empirisisme-nya. Artinya mereka tidak mengakui hal diluar akal. Bahasa kita ialah perkara  ghoib. Yang berimbas bahwa sains yang dibawa ialah tidak menganggap hadirnya Tuhan dibalik semua yang ada.

Dalam pengklasifikasian, Imam al-Ghazali telah memberikan definisi yang tepat dimana ada ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Umat, lanjut Beliau juga masih belum bisa menempatkan ini sesuai koridornya, lagi-lagi pandangan alam Barat yang dijadikan tumpuan. Hari ini banyak yang mengejar jurusan spesialisasi hingga S3 bahkan profesor, namun di balik semua itu yang menjadi fardhu ‘ain terabaikan. Meski dalam hal ini kita akan perlu tahu bahwa yang kifayah bisa saja naik status menjadi ‘ain bagi orang-orang tertentu. Seperti di suatu wilayah tidak ada dokter, maka menuntut ilmu untuk menjadi dokter menjadi wajib di masyarakat itu meski cukup sesuai kebutuhan, artinya tidak semua harus jadi dokter. Berebeda dengan ilmu fardhu kifayah, semisal aqidah, atau ilmu tentang tata cara sholat, apakah dia akan bisa sholat kalau dia tidak tau tata caranya? Ini ibarat sederhana saja.

Penempatan ini bukan saja dzalim dari individunya, tapi telah terstruktur masuk ke dalam semua ranah aspek kehidupan termasuk pendidikan. Ya! Sekarang Anda kuliah di universitas, apakah ilmu fardhu ‘ain menjadi ilmu yang diajarkan sebagai dasar jurusan yang Anda geluti? Inilah tawaran yang menurut saya dalam diagram konsep pendidikan Beliau sangat apik, memadukan konsep asli dalam Islam dengan konsep modern hari ini. Persis seperti konsep Baitul Hikmah ketika Baghdad berjaya menjadi mercusuar peradaban dunia.

Implikasinya, tentu keinginan membuat universitas yang sesuai konsep ini butuh pengorbanan yang banyak, baik dari harta maupun dari segi ‘kepentingan’. Karena ISTAC saja dibumihanguskan di negerinya sendiri.

Lagi-lagi memang, perbaikan individu selalu jadi yang utama sebelum memperbaiki tingkat diatasnya. Karena pendidikan yang baik ialah mendidik manusia jadi baik, bukan sekedar warga negara yang baik, begitu papar Beliau.

Ini sejenak renungan pagi ini. Sedikit dan hanya membuat Anda gatal mungkin.


Namun tetiba saya terpikirkan oleh konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Ikhwanul Muslimin dalam blue printnya dimana usrah/liqa menjadi tsawabit dalam jamaah dimana kita akui bahwa inilah gerakan dakwah terbesar di dunia hingga saat ini. Bukan pada format atau sebagainya. Tapi saya mencoba melihat pada tata ‘adab’ nya. Dimana tsawabit lainnya ialah berkaitan dengan Risalah ta’alim, ushul ‘isyrin dan risalah ‘aqaid sebagai dasar dan referensi ajaran, terkhusus dalam arkanul baiah dalam risalah ta’alimnya. Ini bukan otak-atik gatot.
Mari dengan lapang dan jujur – tidak skeptis tentunya – kita melihat bahwa rukun ini sebenarnya diserukan bukan pada orang yang biasa saja, tapi memang orang yang mau dan siap menjadi mujahid yang akan membela agamanya. Sehingga seruannya jelas pada tatanan tertentu, bukan pada orang umum. Selanjutnya, adab lainnya ialah terkait urutan rukun yang sejatinya, namanya saja rukun, tentu tidak boleh dibolak-balik. Seolah hari ini tsiqoh menjadi rukun pertama, namun al-fahmu entah dimana. Penempatan ini tentunya rumit, karena akan berefek pada sejauh mana pemahamannya dan orang yang mau memahamkannya. Tamparan bagi aktivis dakwah yang memanggul manhaj ini, sudahkan kepahaman ini ditanamkan pada binaannya?

Lagi-lagi adab mengingatkan kita untuk menempatkan pada posisinya. “Nduk, organisasi kita sedang oprek pengurus, bagaimana kalau kamu membantu di bagian ini ya?” kata salah seorang pengurus inti, lalu dijawab oleh kadernya, “nembung itu ada etikanya, tolong sesuai jalur”. Dalam konteks organisasi, menjadi seorang staf misalnya, padahal ini organisasi umum, tentu para Murobbi/naqib hanya memberikan saran dan nasehat, keputusan akhir tetap ada di si ‘anak’. Karena itu ialah berkaitan dengan haknya sebagai kader. Ini jelas sebuah kekeliruan dalam adab terkhusus kebalik-baliknya rukun baiah ini. Mungkin ia belum bisa “profesional” dalam menempatkan posisinya sebagai “anggota jamaah” dan sebagai “kader lembaga umum”. Semoga saja ini bukan doktrin dari proses pendidikan kita, namun keluar dari kepahaman dan disebalik dirinya. Mungkin kalau orang tua bilang, “Nak, segera pulang ya, Ibu lagi sakit”, tiba-tiba anak menjawab, “Wah saya sedang ada agenda dakwah Bu, maaf yaa, ini lebih penting”. Bagaimana menurut kalian? Benarkah konsep adab atau penempatan ini berlangsung? Apakah ia dzalim?

Semoga pagi ini cerah dan mampu memberikan semangat jiwa. Tentu bagi antum sekalian yang terus berjuang meski ditentang banyak orang yang dengki dan iri. #SemangatPagi!

Beberapa referensi buku Prof. Dr. Syed M. Naquib al-Attas:
- Risalah untuk Kaum Muslimin
- Islam dan Sekularisme
Islam dan Filsafat Sains
- Konsep Pendidikan dalam Islam; Suatu rangka pikir pembinaan filsafat pendidikan Islam
- Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu


Sabtu, 17 Maret 2018

Buku Untukmu Muslim Negarawan

Sebuah epik Untukmu Muslim Negarawan



New Arrival

Untukmu Muslim Negarawan - Berhikmah dari Buku Perjalanan

Penulis: Viki Adi Nugroho
Penerbit: Gaza Library Publishing
Tahun: 2018
Jml Hlmn: xi+212
Foto Sampul: Sri Lestariningsih, Rais Ikhlas, Briliant
Desain Sampul: VAN Art
Puisi: Dena Vidia dan Yuyun Wijayanti
Harga: Rp 65.000, 00 (Belum termasuk diskon)

Karya ini mencoba mengambil potret peristiwa juga situasi kondisi sebagai latar. Mengambil hikmah bahkan menemukannya adalah sebuah keberuntungan bagi seorang muslim. KAMMI menjadi gerakan mahasiswa muslim yang akan selalu dituntut untuk hidup dalam berbagai pusaran zaman. Ketika daya lenting tidak dimiliki untuk selalu menghela nafas dan menjaga nafas, maka kemunduran bahkan kehancuran menjadi hal yang pasti.

Muslim Negarawan merupakan akumulasi dari nilai perjuangan seorang da'i untuk mengantarkan umat ini, bangsa ini, negeri ini, agama ini, ke dalam kemenangan abadi dan hakiki. Merupakan karakter perpaduan dari berbagai akhlaq Islam dalam konteks real kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Muslim Negarawan akan melihat apapun di depanya dengan rasa optimis, ia berusaha berprestasi di tengah keterbatasan yang dimiliki. Dan inilah pahlawan yang dibutuhkan oleh Indonesia masa depan.

Selamat berhikmah, berhikmah dari buku perjalanan.

Pemesanan/ Reseller untuk buku ini bisa melalui: 085743640193 (Ariadi)
ig: @gazalibrary ; @gazabookstore

Selasa, 13 Maret 2018

Download Ebook We are Wolves - Terjemah Lengkap 24 Pasal Protocol of Zion

Bismillah...

Assalamualaikum Sahabat-sahabat semua,
semenjak keluar film tentang Sultan Abdul Hamid II, seorang khalifah Turki Utsmani terakhir sebagai penjaga Bulan Sabit, saya kembali teringat akan sepak terjang gerakan yang telah membungihanguskan Islam dari peredaran peradaban. Sebuah gerakan yang tentunya hari ini sudah menjelma menjadi sebuah negara. dulu hanya sebuah mimpi, namun kini real di depan mata. Saudara-saudara kita di Palestina menjadi saksi setiap hari. Doa selalu kita panjatkan semoga Alloh senantiasa menguatkan kesabaran dan semangat berjuang, dan kita yang disini selalu membantu dengan apa yang bisa kita lakukan.

Selain buku Zionisme Gerakan Menaklukan Dunia karya Z.A. Maulani, kali ini saya ingin membagikan sebuah buku yang cukup fenomenal, Ya! terjemahan atas protokol Zionis.
Semoga bermanfaat, dan mampu menyadarkan kita, setidaknya, membuat kita berpikir ulang untuk menguatkan gandengan dalam sebuah rantai Islam berupa akidah yang kuat dengan dai sebagai pekerjaan kita, amal jamai sebagai gerbong kita.

Silakan ada dua link,

Pertama, via 4shared, jangan lupa buat akun dulu ya, kecuali yang sudah punya, tinggal log in aja


Kedua, via mediafire, biasanya tanpa harus membuat akun dulu


Saya haturkan terima kasih kepada yang telah membagikan ini, mohon maaf belum saya cantumkan sumber mendapatkannya, karena terlupa, mungkin sudah agak lama karenanya.

Wassalamualaikum, Wr. Wb.

Senin, 05 Maret 2018

Akankah kita tertunduk dan layu?




Akankah kita tertunduk dan layu?

Oleh Viki Adi Nugroho
(Penulis Buku Recharge Semangat Dakwah, Ketua PK KAMMI UNY)

“Tetaplah di posisi kalian dan jagalah sebelah belakang kami. Jika kalian melihat kami menang, jangan pernah turun dan mengikuti kami. Jika kalian melihat kami kalah dan terbunuh, jangan menolong kami,” salah satu pesan Nabi SAW pada 50 pemanah di perang Uhud. Sebuah pesan yang fenomenal dalam rentang sejarah Islam. Perang yang cukup berat dimana sahabat-sahabat terbaik berguguran demi melindungi Rasulullah SAW. Kesabaran menjadi ujian di balik kemenangan yang mulai merekah di episode awal.

Anggap saja Anda sedang melakukan trading – sebuah istilah yang digunakan orang dalam memprediksi nilai mata uang – dalam rentang waktu satu hingga dua menit. Anda mendapat prediksi yang benar dan jumlah uang naik. Terus itu berjalan sehingga emosi yang hadir, kegembiraan yang datang melonjak membuat Anda terus melakukan trading. Namun sayang, emosi tidak bisa dikendalikan. Kesabaran dan anggapan “besok masih ada hari”, tertutup oleh awan keinginan mendapatkan banyak uang. Libaslah tetiba itu,  uang habis atas ketidaksabaran, kerugian melanda, stres menjadi. Terlepas dari kontroversi bisnis ini baik ditinjau dari sisi manapun. Kita akan dibawa pada penuaian hikmah besar. Kiranya perang Uhud menjadi nilai penting dalam sejarah umat Islam. Alloh menguji kesabaran, mampukah ia tidak tunduk pada emosi? Pada nafsu memburu?

Pasukan memanah turun, kecuali Abdullah bin Jubayr dan sepuluh orang lainnya masih tetap teguh di posisinya karena mengingat pesan Rasulullah SAW. Khalid yang kita ketahui waktu itu masih musyrik segera membalikkan keadaan, kaum muslimin yang sudah memukul kaum musyrik dan berpesta memenggal leher, tetiba dikejutkan dengan serangan pasukan berkuda Khalid dari arah yang tiada disangka. Pasukan pemanah di bukit Uhud pun terbantai. Keadaan berbalik. Kemenangan sesaat tergantikan oleh keganasan dan kebiadaban. Hamzah tak pelak menjadi korban, juga duta Islam pertama Mush’ab bin ‘Umayr, serta beberapa sahabat terbaik lainnya. Bahkan hingga Rasulullah terperosok dan banyak sahabat yang disampingnya rela berkorban demi selamatnya junjungan Alloh SWT. Desas-desus terbunuhnya Rasulullah sempat tersebar sehingga menyiutkan nyali kaum muslimin hingga akhirnya Rasulullah berteriak untuk menyemangati kembali pasukan. Perang ini berakhir dengan kemenangan sementara kaum musyrik, disebabkan putus asanya mereka dari tujuan membunuh Rasulullah SAW.

Di saat sakit menyayat, luka yang masih menoreh, baik luka fisik sampai luka batin. Lantas tidak menyurutkan semangat pada diri Rasulullah SAW. Meninggalkan Uhud Sabtu petang,malam hari beristirahat di Madinah. Usai sholat Subuh di hari Minggu, Rasulullah SAW memerintah Bilal untuk memanggil para sahabat dan dperintahkannya untuk berlari dan bergegas kembali dalam sebuah ekspedisi perang mengejar musuh. Tiada yang boleh ikut selain yang ikut dalam perang Uhud. Hingga sampailah pada daerah Hamra’ al-Assad. Hingga dikenallah peristiwa ini dengan perang Hamra’ al-Asad.

Pada Malam harinya, pasukan ekspedisi ini meyalakan api unggun besar yang terlihat jelas dari kejauhan. Tentu dengan tujuan agar kaum musyrik mengira bahwa pasukan muslim kembali dengan jumlah yang sangat dan lebih banyak lagi untuk siap bertempur. Ma’bad – yang waktu itu juga masih musyrik dari Khuza’ah – lewat dan melihat pasukan muslim, ia tercengang. Lalu ia juga melewati pasukan musyrik dan mendapati hal yang ganjil, dimana mereka tengah bersenang-senang karena kemenangannya di Uhud bahkan berencana ke Madinah untuk menghabisi kaum muslimin. Ya! Anda bisa menebak tentunya. Rencana itu gagal. Waktu itu, Abu Sufyan menangyakan perihal kaum muslimin pada Ma’bad. Lalu apa yang dikatakannya? “Celakalah kalian! Muhammad dan para pengikutnya keluar mengejar kalian dalam jumlah yang sangat besar. “Tak pernah aku melihat pasukan sebanyak dan sebesar itu. Mereka bergerak dengan persenjataan dan perlengkapan lengkap. Aku pun tak pernah melihat pasukan selengkap itu!”

Rasa takut menyelimuti kaum musyrik, kegembiraan berubah menjadi ketakutan dan was-was. Alloh memasukkan rasa takut pada hati mereka. Akhirnya merekapun kembali.
Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebuah epik yang indah. Pasca kekalahan bukan kemudian meratapi, namun kembali bangkit untuk tidak tunduk dan layu. Di saat luka menganga, Rasulullah SAW malah memerintahkan untuk kembali berlari. Hakikat kemenangan hadir, eksistensi kekuatan umat tercipta kembali. Ruh keimanan dan penyiapan materi menjadi kunci-kunci kebangkitan.

Kehidupan yang serba tiada menjanjikan dalam era kini seharusnya bukan membuat kita tertunduk dan layu. Peristiwa yang terus melanda negeri kita, juga tak seharusnya menyiutkan nyali bagi kita untuk kemudian diam, karena diam tak selalu emas! Itulah yang dilakukan oleh Rasul dan sahabatnya. Mereka tidak tunduk dan mengekor pada “penguasa” Mekkah. Mereka tidak tunduk pada “penguasa” dunia yang hanya sementara. Mereka percaya bahwa Alloh SWT akan menolong mereka sesuai janji Rasul-Nya.

Halangan dan ujian yang besar, apalagi di era kini. Kudu menjadikan kita lebih kreatif dalam mengemas dan “menyajikan” dakwah. Kalaulah Mansur, pimpinan Muhammadiyah di era Orde lama mengingatkan Soekarno bahwa pemimpin yang dia sudah tidak menerima masukkan dan saran lalu ia marah, maka sejatinya ia bukanlah pemimpin yang sedang didambakan bahkan akan menjadi hal yang berbahaya, apalagi jika yang mengingatkan ialah para ulama.

Semoga diri kita yang sejatinya ialah pemimpin mampu mengambil mutiara hikmah ini. []